Menjelang pemungutan suara di Israel, warga Palestina yang berulang kali mengungsi berharap pergantian pemerintahan dapat membuka jalan menuju perdamaian. Namun, mereka meragukan perubahan besar terhadap kebijakan Israel di Gaza.
Sejumlah warga Palestina di Gaza mengikuti perkembangan Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 dengan harapan berakhirnya serangan, pengungsian, dan pembatasan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Warga Palestina di Gaza menyaksikan pemilihan umum Israel di tengah ketidakpastian mengenai terus berlanjutnya pengungsian, pembatasan, dan prospek untuk membangun kembali kehidupan mereka ยฉPusakoNews.com
Sesuaikan Ukuran Baca
922
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Gaza - Pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026, bukan hanya menjadi perhatian masyarakat di negara tersebut. Di Jalur Gaza, sejumlah warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal akibat perang turut mencermati persaingan politik Israel, dengan harapan akan adanya perubahan yang dapat mengakhiri penderitaan mereka.
Namun, harapan tersebut dibayangi keraguan. Bagi warga yang telah mengalami pengungsian berulang, pergantian perdana menteri Israel belum tentu berarti berakhirnya serangan, pembatasan pergerakan, maupun ketidakpastian untuk kembali ke rumah.
Laporan Al Jazeera pada Senin (26/10/2026) menggambarkan perasaan tersebut melalui kesaksian lima warga Palestina yang mengungsi akibat perang di Gaza. Mereka memiliki pandangan berbeda mengenai kemungkinan dampak pemilu, tetapi sama-sama menginginkan kehidupan yang lebih aman.
Wilayah Gaza disebut berada dalam situasi gencatan senjata sejak Oktober 2025. Meski demikian, menurut laporan tersebut, serangan udara Israel masih terjadi hampir setiap hari, sementara pembatasan ketat memperburuk kondisi kehidupan serta ketersediaan kebutuhan pokok.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Berharap Netanyahu Digantikan, tetapi Tidak Yakin Kebijakan Berubah
Benjamin Netanyahu - Gadi Eisenkot ยฉPusakoNews.com
Mohammed Eliyan, 36 tahun, menjadi salah satu warga yang menaruh harapan pada pergantian kepemimpinan Israel.
Ayah lima anak yang mengungsi dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara itu kini tinggal di Deir el-Balah. Setelah menghadapi perang dan perpindahan tempat tinggal berulang kali, ia berharap pemerintahan baru Israel dapat mengurangi tekanan terhadap penduduk Palestina.
Eliyan menginginkan mantan komandan militer Israel, Gadi Eisenkot, memenangkan persaingan melawan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut pandangannya, kemenangan kembali Netanyahu bersama Partai Likud dan sekutu sayap kanannya berisiko memperpanjang konflik serta memperburuk keadaan warga Gaza.
Meski mengharapkan perubahan pemimpin, Eliyan tidak memperkirakan hubungan Israel dan Palestina akan berubah secara drastis.
"Kami berharap akan ada perubahan setelah pemilihan, dan bahwa orang lain selain Benjamin Netanyahu akan menang," ujar Eliyan kepada Al Jazeera.
Ia meminta siapa pun yang kelak memimpin pemerintahan Israel menghentikan perang, mencegah kelaparan dan pengungsian, serta melonggarkan pembatasan di perbatasan Gaza.
Sikap yang lebih pesimistis disampaikan Islam Salem, 41 tahun, pengungsi asal Beit Lahiya yang memiliki tiga anak perempuan.
Baginya, kebijakan politik Israel berdampak langsung terhadap kehidupan keluarga Palestina, mulai dari kondisi tempat tinggal hingga masa depan anak-anak.
Salem tidak yakin pergantian pemerintahan akan menghasilkan perubahan berarti. Ia menilai kepentingan politik Israel akan tetap menentukan arah kebijakan terhadap Gaza, siapa pun yang memenangkan pemilu.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Garis Kuning dan Masa Depan Pengungsi
Hanan Abu al-Maaza menghadapi masa depan yang tidak pasti di Gaza saat warga Palestina mempertimbangkan apa arti pemilihan umum Israel bagi kehidupan mereka ยฉPusakoNews.com
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian warga Gaza adalah keberadaan Garis Kuning, yang berkaitan dengan penguasaan wilayah serta kemungkinan kembalinya penduduk ke tempat tinggal mereka.
Dalam laporan Al Jazeera, Salem menyoroti penguasaan Israel atas sekitar 65 persen wilayah Gaza di dalam Garis Kuning.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan dimulainya rekonstruksi dalam waktu dekat. Laporan tersebut menyebut lebih dari 80 persen bangunan di Gaza mengalami kerusakan, dengan sekitar dua pertiga di antaranya hancur sepenuhnya.
Bagi Salem, situasi tersebut membuat masa depan keluarganya semakin sulit dibayangkan.
"Kita hidup hari demi hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya.
Kekhawatiran mengenai akses ke wilayah tempat tinggal juga disampaikan Mousa Ali, 33 tahun, yang mengungsi dari Beit Lahiya dan kini tinggal di Kota Gaza bersama empat anaknya.
Ali memandang hasil pemilu Israel dapat memengaruhi keputusan mengenai pemulangan warga Palestina ke daerah-daerah di luar Garis Kuning.
Ia berharap pemerintahan yang dipimpin kelompok oposisi akan memberikan kesempatan lebih besar kepada para pengungsi untuk kembali.
Ali juga menyebut Eisenkot sebagai salah satu alternatif kepemimpinan Israel. Selain itu, ia berharap partai-partai Arab memperoleh peran dalam pembentukan pemerintahan berikutnya.
Kendati demikian, Ali tetap mengkhawatirkan berlanjutnya serangan terhadap Gaza, sekalipun Israel memiliki pemimpin baru.
Mengungsi Lebih dari 12 Kali, Warga Gaza Mendambakan Rasa Aman
Bagi Hanan Abu al-Maaza, 57 tahun, perubahan kepemimpinan Israel berkaitan erat dengan harapan untuk mengakhiri kehidupan dalam pengungsian.
Selama perang berlangsung, ia mengaku telah berpindah tempat tinggal lebih dari 12 kali.
Pengalaman tersebut meninggalkan ketakutan terhadap kemungkinan terjadinya serangan dan pengungsian berikutnya.
"Kami tidur tanpa merasa aman, bertanya-tanya apa yang mungkin mereka lakukan kepada kami selanjutnya. Ketakutan itu masih ada di kepala dan hati kami," ungkapnya.
Abu al-Maaza berharap kekalahan Netanyahu dapat membuka peluang bagi dirinya untuk kembali ke rumah di Beit Lahiya.
Ia menginginkan pemimpin Israel berikutnya menghentikan perang dan memberi kesempatan kepada warga Palestina untuk menjalani kehidupan tanpa ancaman kekerasan.
Harapan serupa disampaikan Manar Owaida, 23 tahun, warga asal Gaza utara yang kini mengungsi di kawasan Tal al-Hawa, Kota Gaza.
Owaida mengikuti kampanye politik Israel untuk memahami rencana para kandidat serta kemungkinan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Gaza.
Ia berharap Eisenkot dapat menggantikan Netanyahu, tetapi tidak meyakini pergantian pemimpin secara otomatis mengubah kebijakan Israel terhadap Palestina.
Menurut Owaida, kebijakan Israel selama beberapa dekade menunjukkan pola yang membuatnya sulit mempercayai adanya perubahan mendasar.
Meski demikian, ia masih berharap pemerintahan baru dapat melonggarkan pembatasan, menghentikan serangan, dan menarik pasukan dari wilayah yang berkaitan dengan Garis Kuning.
Owaida juga mengkhawatirkan kemungkinan meluasnya perang regional apabila Netanyahu berusaha menghindari tekanan politik dalam negeri menjelang pemungutan suara. Kekhawatiran tersebut merupakan penilaiannya, bukan perkembangan yang telah dipastikan terjadi.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Pilihan Politik Israel, Ketidakpastian bagi Gaza
Manar Owaida, pengungsi dari Gaza utara, mengikuti pemilihan Israel dengan saksama di tengah ketidakpastian tentang apa arti hasilnya bagi warga Palestina ยฉPusakoNews.com
Pemilu kali ini berlangsung setelah perang yang dipicu serangan pimpinan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Penanganan keamanan sebelum serangan tersebut menjadi salah satu sumber kritik terhadap pemerintahan Netanyahu.
Sementara itu, sejumlah anggota pemerintahan sayap kanan Israel menyerukan kebijakan lebih keras terhadap Gaza, termasuk pengusiran penduduknya.
Perdebatan politik tersebut menjadi perhatian warga Gaza karena mereka khawatir keputusan pemerintahan berikutnya akan menentukan kelanjutan pengungsian, pembatasan wilayah, dan kemungkinan pemulihan kehidupan masyarakat.
Kesaksian Eliyan, Salem, Abu al-Maaza, Owaida, dan Ali menunjukkan bahwa sebagian warga Palestina masih menyimpan harapan terhadap perubahan politik di Israel, sekalipun mereka tidak yakin pergantian kepemimpinan akan mengakhiri persoalan yang dihadapi.
Di tengah ketidakpastian hasil pemilu, tuntutan mereka terutama berkaitan dengan kebutuhan paling mendasar: penghentian kekerasan, kesempatan kembali ke tempat tinggal, akses kebutuhan pokok, serta kehidupan yang aman dan damai.
SOURCE CREDIT / REFERENCES
[01]Al Jazeera
[02]Reuters
[03]European Parliamentary Research Service
AUTHOR: Redaksi PusakoNews
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar