"Iran menyatakan akan meningkatkan jangkauan rudalnya setelah pasukan AS ditempatkan lebih jauh dari pantai Iran. Di sisi lain, Tehran tetap membuka jalur diplomasi dengan menjadikan pembukaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama."
Selat Hormuz menjadi fokus utama pembicaraan, sementara Washington masih mendorong agar isu nuklir masuk dalam negosiasi.
PusakoNews.com, Teheran - Iran menyatakan akan meningkatkan kemampuan rudal jarak jauhnya setelah menilai perubahan posisi pasukan Amerika Serikat di kawasan. Pada saat yang sama, Tehran menegaskan masih membuka jalur diplomasi dengan Washington di tengah kebuntuan pembicaraan mengenai perang dan masa depan Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan negaranya menarik pelajaran dari konflik yang berlangsung, termasuk kebutuhan untuk memperluas jangkauan rudal. Menurut laporan yang dikutip Al Jazeera dari kantor berita Fars, ia mengatakan pasukan AS kini berada hingga sekitar 1.000 kilometer dari pantai Iran.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan sikap Iran yang tetap mengedepankan kemampuan pertahanan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran serius mencari penyelesaian diplomatik, tetapi juga siap merespons apabila Amerika Serikat kembali memilih tindakan militer. Pernyataan serupa dilaporkan Reuters pada 4 Oktober 2026.
Di meja perundingan, Selat Hormuz justru menjadi salah satu titik paling penting. Iran menyatakan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut merupakan fokus utama pembicaraan saat ini. Tehran juga meminta Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan sebelum selat itu dibuka kembali, sementara Washington tetap berupaya memasukkan persoalan program nuklir Iran ke dalam pembahasan.
Reuters melaporkan Iran mempertahankan tujuh syarat yang dikaitkan dengan memorandum yang sebelumnya disepakati dengan Amerika Serikat. Tehran juga menawarkan mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz dalam jangka waktu tertentu apabila persyaratan tersebut dipenuhi. Qatar disebut berperan sebagai mediator dalam kontak antara kedua pihak.
Ketegangan di jalur pelayaran strategis itu juga belum sepenuhnya mereda. Lembaga United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz dan mengalami kerusakan pada ruang mesin. Awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan. UKMTO tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab maupun asal proyektil tersebut.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aspek militer dan diplomasi masih berjalan beriringan. Di satu sisi, Iran menyatakan siap memperkuat kemampuan rudalnya; di sisi lain, Tehran menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas dalam upaya mencari penyelesaian.
Sementara itu, keberadaan kekuatan militer AS di kawasan tetap menjadi bagian dari dinamika konflik. Kapal induk USS George H.W. Bush tiba di Phuket, Thailand, pada 4 Oktober setelah sekitar enam bulan menjalankan penugasan yang mendukung operasi Amerika Serikat di Timur Tengah. Reuters melaporkan sekitar 4.800 personel berada dalam gugus tersebut.
Dengan demikian, perkembangan terbaru belum menunjukkan berakhirnya ketegangan antara Washington dan Tehran. Jalur diplomasi masih terbuka, tetapi persoalan Selat Hormuz, sanksi, program nuklir, serta kemampuan militer Iran tetap menjadi bagian penting dari perundingan yang belum mencapai kesepakatan final.
SOURCE CREDIT / REFERENCES
[01]Al Jazeera β laporan langsung perkembangan perang Iran-AS, 4 Oktober 2026.
[02]Reuters β perkembangan posisi Iran terkait pembukaan Selat Hormuz dan peningkatan jangkauan rudal.
[03]Reuters β kedatangan USS George H.W. Bush di Phuket setelah penugasan enam bulan di Timur Tengah.
[04]UK Maritime Trade Operations (UKMTO) β laporan kapal terkena proyektil tak dikenal di kawasan Selat Hormuz, sebagaimana diberitakan AFP
AUTHOR: Redaksi PusakoNews
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar