PusakoNews.com, Teheran - Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Teheran, termasuk mengakhiri perang dan blokade, mencairkan aset Iran yang dibekukan, serta menyepakati gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza.
Penegasan tersebut disampaikan Mohsen Rezaei, sekretaris baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sekaligus mantan panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melalui unggahan media sosial pada Selasa malam. Pernyataan itu disampaikan setelah Rezaei bertemu dengan delegasi yang dipimpin Duta Besar China untuk Iran, Cong Peiwu.
Rezaei menyatakan posisi Iran tidak berubah. Menurutnya, setiap pembicaraan dengan Oman terkait Selat Hormuz merupakan jalur terpisah dan tidak secara otomatis berarti kesepakatan dengan Washington.
Di sisi lain, aktivitas militer di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut masih berlangsung. Serangan juga dilaporkan terjadi di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran disebut menyerang sebuah kapal milik Mesir di Laut Merah pada Selasa, menewaskan enam orang.
Militer AS juga melaporkan penggunaan dua rudal Hellfire dari sebuah helikopter Angkatan Laut AS untuk menyerang kapal berbendera Panama sebagai bagian dari upaya menegakkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di wilayah selatan. Serangan itu disebut menjadi yang ke-12 sejak April dan yang ketiga sejak blokade kembali diberlakukan sekitar sebulan lalu.
Iran Klaim Kemampuan Rudal dan Drone Tetap Terjaga
Di tengah berlanjutnya konflik, pejabat IRGC menegaskan Iran masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan perlawanan. Penasihat IRGC Mohammad Reza Naqdi menyebut Iran mampu memproduksi rudal balistik dan drone dalam jumlah yang melebihi penggunaannya selama perang, terutama dengan mengandalkan kemampuan industri dalam negeri.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi juga memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu respons lebih luas. Ia menyebut infrastruktur energi, pembangkit listrik, sistem Amerika maupun non-Amerika, hingga infrastruktur global yang terhubung internet berpotensi menjadi sasaran.
Mohebbi sekaligus mengklaim jumlah kapal perang AS di kawasan telah menurun drastis dibandingkan sebelum perang. Ia mengatakan berkurangnya stok rudal pertahanan udara dan amunisi presisi AS menjadi salah satu tantangan bagi pengambil keputusan di Washington.
Pemerintah Iran juga memperkuat struktur militernya. Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei menunjuk sejumlah pejabat baru untuk posisi strategis, termasuk Ali Abdollahi sebagai kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Hossein Taeb sebagai kepala Basij.
Abdollahi diberi mandat memperkuat integrasi antara berbagai unsur militer Iran serta meningkatkan kemampuan rudal, drone, angkatan laut, pasukan darat, siber, dan perang asimetris. Kesiapan angkatan laut untuk beroperasi di sekitar Selat Hormuz juga menjadi salah satu perhatian utama.
Trump Klaim Kuasai Selat Hormuz, Iran Balik Mengancam: “Tidak Akan Dibuka”
"Iran Tantang Trump: Selat Hormuz Tetap Ditutup sampai Tuntutan Teheran Dipenuhi"
Diplomasi Masih Berjalan
Meski pernyataan Teheran semakin keras, upaya diplomatik belum sepenuhnya terhenti. Pakistan dan Qatar disebut masih berusaha mendekatkan posisi Iran dan AS menjelang berakhirnya periode 60 hari nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati kedua negara.
Namun, ketegangan kawasan tetap tinggi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa lawan-lawan Republik Islam dapat berupaya melemahkan pemerintah melalui tekanan dari dalam negeri di tengah memburuknya kondisi ekonomi.
Pemerintah Iran juga menolak klaim mengenai potensi serangan darat kelompok separatis Kurdi dari wilayah Irak. Kepala penjaga perbatasan di Provinsi Kurdistan, Ali Akbar Javidan, menyatakan perbatasan Iran tetap aman dan berada dalam pengawasan ketat.
Sementara itu, masyarakat Iran masih menghadapi dampak perang, ketidakpastian ekonomi, dan meningkatnya tekanan keamanan. Kondisi tersebut membuat sebagian warga pesimistis terhadap prospek pemulihan dalam waktu dekat.
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz
Di tengah sikap tegas Teheran, Presiden AS Donald Trump justru menyatakan Washington memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz.
Melalui unggahan di media sosial pada Rabu, Trump mengatakan AS kemungkinan akan mempertahankan kendali atas jalur air strategis tersebut. Ia juga memuji efektivitas blokade angkatan laut AS dan kembali menyatakan kemampuan militer Iran telah mengalami penurunan.
Trump turut menggambarkan kondisi ekonomi Iran sebagai semakin buruk, dengan menyebut negara tersebut mengalami kehancuran, kekurangan dana, serta inflasi yang sangat tinggi.
Pernyataan Trump langsung dibantah otoritas Iran. Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA), lembaga pemerintah yang baru dibentuk untuk menangani lalu lintas maritim di Selat Hormuz, menegaskan bahwa klaim Washington tidak mengubah kondisi di lapangan.
PGSA menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup dan tidak akan dibuka kembali sebelum tuntutan Iran dipenuhi.
Pertentangan sikap tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran. Di satu sisi, Washington mengklaim telah menguasai jalur pelayaran strategis tersebut, sementara Teheran menegaskan akses akan tetap ditutup sampai tercapai kesepakatan sesuai persyaratannya.
(aljzr/abc/pzhc)









Komentar