PusakoNews.com, Washington D.C. - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi dilema semakin berat setelah konflik dengan Iran memasuki bulan keenam. Upaya Washington mengakhiri perang yang sebelumnya diperkirakan Trump hanya berlangsung beberapa pekan kini berhadapan dengan pilihan sulit antara membuka ruang diplomasi atau kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.
Salah satu opsi yang tengah berkembang adalah kesepakatan sementara antara Iran dan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut berpotensi memberi Iran pengaruh besar terhadap lalu lintas kapal yang melewati salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Sebaliknya, jika Trump memilih melanjutkan ancaman serangan baru, Amerika Serikat berisiko terseret ke dalam konflik yang lebih panjang. Langkah tersebut juga dapat menimbulkan konsekuensi politik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.
Analis Timur Tengah Aaron David Miller menilai Trump kini berada dalam situasi yang sama-sama sulit. Menurutnya, konflik tidak dapat terus berlangsung tanpa batas sehingga diperlukan perubahan kebijakan, termasuk kemungkinan menerima realitas baru terkait posisi Iran di Selat Hormuz.
Seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa apabila jalur pelayaran sementara dibuka, lalu lintas kapal akan berlangsung tanpa hambatan dan tanpa pengawasan dari pihak tertentu.
Trump Terjebak dalam Perang Iran, Dua Pilihan di Depannya Sama-Sama Berisiko
"Dilema Trump di Tengah Perang Iran: Diplomasi atau Eskalasi, Tak Ada Jalan Keluar yang Mudah"
Selat Hormuz Jadi Titik Krusial
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur internasional terbuka dan tidak boleh berada di bawah kendali Iran. Selat tersebut memiliki arti strategis karena menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Namun, sejumlah analis menilai posisi Trump dapat berubah seiring meningkatnya tekanan ekonomi dan politik. Harga bensin di Amerika Serikat yang tinggi, tingkat kepuasan publik yang rendah, serta ketidakpopuleran perang menjadi faktor yang mempersempit ruang gerak pemerintah.
Pembukaan kembali Selat Hormuz juga dinilai menjadi salah satu syarat penting untuk menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran. Pemerintahan Trump ingin pembicaraan tersebut kembali diarahkan pada persoalan program nuklir Iran yang sejak awal menjadi salah satu alasan utama operasi militer AS.
Saat ini, Iran dan Oman masih membahas rincian kesepakatan pembukaan jalur pelayaran. Trump sebelumnya menyatakan kesepakatan sudah semakin dekat, sementara pejabat Iran menilai masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diselesaikan.
Jika kesepakatan Iran-Oman tercapai dan pembicaraan AS-Iran kembali berjalan, peluang tercapainya perdamaian jangka panjang tetap dinilai belum pasti. Kesepakatan awal yang pernah dicapai Washington dan Teheran pada Juni lalu bahkan tidak bertahan lama dan sempat memicu kritik dari sejumlah anggota Partai Republik.
Konflik Berpotensi Berlanjut hingga Pemilu
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintahan Trump semakin menyadari kemungkinan konflik Iran akan tetap berlangsung dalam sejumlah bentuk hingga pemilihan paruh waktu AS.
Situasi tersebut dapat menjadi persoalan politik bagi Trump. Ia sebelumnya berkampanye dengan janji menghindari keterlibatan Amerika dalam konflik luar negeri dan mengutamakan persoalan ekonomi domestik.
Di sisi lain, Trump tetap menunjukkan sikap keras terhadap Iran. Pada Sabtu, ia mengatakan telah membatalkan rencana serangan besar setelah sejumlah negara mitra di Timur Tengah meminta kesempatan bagi diplomasi. Namun, Trump juga memperingatkan bahwa serangan keras dapat dilakukan apabila jalur perundingan gagal.
Perubahan sikap tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemampuan militer AS untuk mempertahankan operasi dalam jangka panjang, termasuk dugaan berkurangnya persediaan rudal jarak jauh. Trump membantah bahwa Amerika Serikat mengalami kekurangan amunisi.
Pada Rabu, Trump kembali menyampaikan pesan yang mencerminkan dilema kebijakannya. Ia mengatakan lebih memilih mencapai kesepakatan karena tidak ingin ada korban jiwa, tetapi tetap memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer masih mungkin dilakukan.
Iran Ancam Balas Serangan AS
Iran sendiri telah memperingatkan negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Teheran mengancam akan membalas setiap serangan baru AS dengan menargetkan infrastruktur energi di kawasan.
Ancaman itu meningkatkan risiko meluasnya konflik dari wilayah Iran ke negara-negara Teluk dan sektor energi global.
Jonathan Panikoff, mantan wakil petugas intelijen AS untuk Timur Tengah, mengatakan perkembangan konflik Iran juga diamati secara serius oleh China, Rusia, dan Korea Utara. Mereka dinilai sedang mempelajari batas kemampuan serta keterbatasan Amerika Serikat dalam menghadapi konflik berkepanjangan.
Bahkan kelompok garis keras yang selama ini mendukung kebijakan Trump terhadap Iran mulai menyerukan kehati-hatian. Behnam Ben Taleblu dari Foundation for the Defense of Democracies menilai Iran berusaha menempatkan Trump dalam situasi yang sulit menjelang November.
Menurutnya, pemerintahan Trump perlu menghindari keputusan terburu-buru dan menghitung secara realistis sejauh mana pengaruh Amerika Serikat masih dapat digunakan.
Dengan demikian, Trump kini menghadapi pilihan yang sama-sama berisiko: menerima kompromi demi membuka kembali jalur diplomasi dan perdagangan di Selat Hormuz, mempertahankan tekanan militer tanpa eskalasi besar, atau melancarkan serangan baru yang berpotensi memperpanjang perang. Tidak satu pun opsi tersebut memberikan jalan keluar mudah bagi Washington dari konflik yang telah jauh melampaui perkiraan awal.
[PusakoNews.com/red]











Komentar