Peringatan Iran terhadap pusat data dan kabel internet memunculkan kekhawatiran atas keamanan infrastruktur digital kawasan Teluk, termasuk jalur komunikasi strategis yang menghubungkan Asia dan Eropa.
Menurut TeleGeography, lebih dari 90 persen kapasitas data antara Eropa dan Asia melewati kabel bawah laut di Laut Merah, menjadikan kawasan Bab al-Mandeb titik penting bagi konektivitas internasional.
PusakoNews.com, Jakarta - Peringatan Iran mengenai kemungkinan serangan terhadap pusat data, jaringan kabel komunikasi, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) di kawasan Teluk menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur digital Timur Tengah.
Pejabat keamanan Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa fasilitas teknologi tersebut berpotensi menjadi sasaran apabila konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat kembali pecah.
Ancaman itu menjadi perhatian karena kawasan Teluk tidak hanya memiliki kepentingan strategis dalam perdagangan energi, tetapi juga menjadi lokasi investasi besar perusahaan teknologi global dan jalur komunikasi yang menghubungkan berbagai negara.
Dilansir dari Al Jazeera, Selasa (13/10/2026), meningkatnya risiko terhadap infrastruktur digital berkaitan dengan situasi keamanan kawasan, termasuk perebutan wilayah di sekitar Selat Bab al-Mandeb, Yaman, antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Kerentanan jaringan internet kawasan Timur Tengah berkaitan dengan konsentrasi kabel komunikasi pada sejumlah jalur geografis yang relatif sempit.
Menurut perusahaan riset telekomunikasi TeleGeography, lebih dari 90 persen kapasitas transmisi data antara Eropa dan Asia melewati kabel bawah laut di kawasan Laut Merah.
Kerusakan kabel akibat jangkar kapal maupun tindakan sabotase dapat mengganggu konektivitas lintas negara. Dalam situasi konflik, proses perbaikan juga menghadapi kendala karena membutuhkan izin akses dan jaminan keselamatan bagi kapal serta tenaga teknis.
Situasi keamanan Bab al-Mandeb menjadi perhatian setelah kelompok Houthi dilaporkan merebut sejumlah wilayah strategis di pesisir Yaman pada September 2026.
Kelompok tersebut juga mencapai Pulau Mayyun pada 11 September 2026.
Pada 5 Oktober, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan telah merebut kembali pelabuhan Mocha dan sejumlah posisi di sekitar selat. Namun, klaim tersebut dibantah kelompok Houthi.
Meskipun demikian, belum terdapat bukti yang memastikan bahwa Houthi secara langsung melakukan pemutusan kabel bawah laut. Kelompok tersebut juga membantah keterlibatan dalam kerusakan kabel pada 2024.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Pusat Data Bergantung pada Listrik dan Sistem Pendinginan
Selain kabel bawah laut, pusat data merupakan bagian penting dari infrastruktur digital yang berpotensi mengalami gangguan dalam konflik bersenjata.
Fasilitas ini menunjang berbagai layanan, mulai dari aplikasi perbankan hingga komputasi awan atau cloud computing yang digunakan perusahaan dan lembaga pemerintahan.
Andreas Krieg, dosen senior studi keamanan di King's College London, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa serangan tidak harus menghancurkan seluruh perangkat server untuk menyebabkan sebuah pusat data berhenti beroperasi.
Menurutnya, pusat data memiliki ketergantungan terhadap pasokan listrik, sistem pendinginan, dan jaringan telekomunikasi yang harus terus berjalan.
Gangguan terhadap salah satu komponen tersebut dapat menghambat pengoperasian fasilitas secara keseluruhan.
Kerentanan itu pernah terlihat pada Maret 2026 ketika Amazon Web Services (AWS) melaporkan kerusakan pada infrastruktur pusat datanya di Uni Emirat Arab dan Bahrain akibat serangan drone.
Dua fasilitas AWS di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan langsung, sedangkan sebuah fasilitas di Bahrain mengalami dampak fisik akibat serangan di sekitarnya.
Gangguan tersebut memengaruhi pengoperasian layanan cloud yang digunakan pelanggan di kawasan.
Pada September, AWS juga menyampaikan bahwa sebagian infrastruktur dan data yang terdampak di Bahrain serta Uni Emirat Arab tidak dapat sepenuhnya dipulihkan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan fisik pada fasilitas digital berpotensi menimbulkan gangguan berkepanjangan terhadap layanan yang bergantung pada infrastruktur tersebut.
Iran Sebelumnya Sebut Perusahaan Teknologi sebagai Target Potensial.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Ancaman terhadap infrastruktur digital bukan pertama kali disampaikan pihak Iran.
Pada 11 Maret 2026, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC telah mengidentifikasi sejumlah sasaran baru, termasuk infrastruktur cloud milik Google, Microsoft, dan Oracle di Israel serta beberapa negara Teluk.
Pada bulan yang sama, IRGC juga menyebut 17 perusahaan Amerika Serikat dan perusahaan teknologi Emirat, G42, sebagai sasaran potensial.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari ancaman Iran dalam konteks konflik regional dan tidak berarti seluruh perusahaan atau fasilitas yang disebut telah mengalami serangan.
Krieg menilai ancaman Rezaei perlu diperhatikan, tetapi terdapat perbedaan antara kemampuan menimbulkan gangguan besar dan kemampuan menghancurkan seluruh infrastruktur digital kawasan secara sistematis.
Ia memandang peringatan tersebut sebagai bagian dari strategi penangkalan yang turut ditujukan kepada pemerintah negara-negara Teluk agar berupaya mencegah konflik baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Pada 10 September 2026, Irak menandatangani kontrak dengan perusahaan telekomunikasi Qatar, Ooredoo, untuk pengembangan jalur komunikasi yang melintasi wilayahnya.
Rute kabel darat tersebut membentang dari kawasan al-Faw menuju Rabia, dekat perbatasan Turki.
Selanjutnya, pada 7 Oktober, unit internasional Ooredoo menyepakati pembelian kapasitas serat optik dari perusahaan Irak, iQ Networks, guna memperpanjang konektivitas menuju Turki. Kesepakatan tersebut masih memerlukan persetujuan pemerintah.
Pengembangan jalur alternatif dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan geografis.
Namun, rute pengganti membutuhkan investasi besar dan belum seluruhnya tersedia untuk mengalihkan lalu lintas data yang selama ini melewati Laut Merah.
Microsoft juga menyatakan rencana investasi lebih dari 400 juta dolar AS untuk pengembangan konektivitas kabel bawah laut dan jaringan darat di Timur Tengah hingga 2030.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Ancaman Keamanan Bayangi Investasi AI Negara Teluk
Persoalan keamanan infrastruktur digital muncul ketika sejumlah negara Teluk sedang memperluas investasi di sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar termasuk negara yang mengembangkan pusat data serta ekosistem AI sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekonomi.
Qatar juga mengembangkan investasi pusat data melalui kerja sama dana kekayaan negaranya dengan investor Amerika Serikat, Blue Owl, dalam proyek bernilai 3 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Microsoft telah mengumumkan rencana investasi lebih dari 10 miliar dolar AS di Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab hingga 2030.
Investasi tersebut menunjukkan besarnya kepentingan ekonomi kawasan terhadap keberlangsungan layanan digital.
Menurut Krieg, ancaman keamanan tidak serta-merta menghentikan ambisi negara-negara Teluk menjadi pusat teknologi global. Namun, risiko konflik dapat memengaruhi pertimbangan lokasi, biaya perlindungan, dan strategi pengembangan infrastruktur AI.
Ia menilai Uni Emirat Arab memiliki paparan risiko tersendiri karena keterkaitan erat antara strategi pengembangan AI nasional dan perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Sementara itu, Qatar dinilai berada dalam posisi politik yang relatif berbeda karena memiliki hubungan diplomatik dengan Teheran.
Situasi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi negara-negara Teluk dalam menjaga kedaulatan data sekaligus memastikan layanan digital tetap beroperasi saat terjadi gangguan.
Pengembangan jaringan alternatif, perlindungan fasilitas, dan penempatan infrastruktur di beberapa lokasi menjadi perhatian penting dalam menjaga ketahanan digital kawasan, terutama ketika ancaman terhadap pusat data dan jalur kabel komunikasi semakin berkaitan dengan dinamika geopolitik Timur Tengah.
SOURCE CREDIT / REFERENCES
[01]Al Jazeera, Nils Adler, 13 Oktober 2026 β sumber utama mengenai ancaman Iran, kerentanan kabel internet, konflik Yaman, dan investasi teknologi Teluk.
[02]TeleGeography β sumber primer data mengenai kapasitas jaringan EropaβAsia yang melewati Laut Merah.
[03]Amazon Web Services (AWS) β konfirmasi resmi kerusakan infrastruktur akibat serangan drone di UEA dan Bahrain serta gangguan pemulihan data.
[04]Microsoft, 23 September 2026 β konfirmasi rencana investasi infrastruktur AI dan konektivitas digital di Timur Tengah.
AUTHOR: Redaksi PusakoNews
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar