Jepang mendeteksi sedikitnya dua rudal dengan jarak tempuh berbeda. Seoul menilai peluncuran tersebut sebagai unjuk kekuatan di tengah meningkatnya ketegangan militer Semenanjung Korea.
Jepang melaporkan sedikitnya dua rudal diluncurkan berselang 17 menit, dengan jarak tempuh sekitar 220 kilometer dan lebih dari 910 kilometer, serta jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
PusakoNews.com, Jakarta - Korea Utara kembali menembakkan sejumlah rudal balistik ke arah laut di lepas pantai timurnya pada Senin (12/10/2026). Militer Korea Selatan melaporkan bahwa peluncuran dilakukan dari kawasan Pyongyang, dengan salah satu rudal menempuh jarak lebih dari 900 kilometer.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Staf Gabungan Korea Selatan atau Joint Chiefs of Staff (JCS), sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Senin (12/10/2026). Meski mengonfirmasi adanya beberapa peluncuran, JCS tidak merinci jumlah keseluruhan rudal yang terdeteksi.
Sementara itu, Jepang memberikan keterangan lebih terperinci mengenai dua rudal yang terpantau dalam peluncuran tersebut.
Wakil Menteri Pertahanan Jepang, Takashi Koyari, mengatakan sedikitnya dua rudal diluncurkan dengan selang waktu sekitar 17 menit. Keduanya dilaporkan jatuh di perairan di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.
Menurut Koyari, rudal pertama menempuh jarak sekitar 220 kilometer, sedangkan rudal kedua meluncur lebih dari 910 kilometer.
Pejabat pertahanan Jepang itu juga mengungkapkan bahwa lintasan penerbangan rudal menunjukkan pola yang tidak teratur. Karakteristik tersebut menimbulkan dugaan bahwa senjata yang diluncurkan mungkin menggunakan teknologi hipersonik.
Meski demikian, dugaan mengenai jenis senjata tersebut belum dinyatakan sebagai hasil identifikasi akhir dalam keterangan yang dilaporkan.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Korea Selatan Kecam Peluncuran Rudal
Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengecam peluncuran rudal balistik berulang yang dilakukan Pyongyang.
Pemerintah Seoul menilai tindakan tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mendesak Korea Utara segera menghentikan aktivitas peluncuran rudalnya.
Peluncuran pada 12 Oktober itu terjadi ketika hubungan militer kedua negara sedang mengalami peningkatan ketegangan, terutama setelah Korea Utara dan Korea Selatan sama-sama melakukan pengujian kemampuan persenjataan.
Juru bicara JCS, Jang Do-young, menilai peluncuran terbaru Korea Utara kemungkinan merupakan bentuk unjuk kekuatan menyusul keberhasilan Korea Selatan menguji senjata hipersoniknya sendiri.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa Seoul memandang aktivitas militer Pyongyang bukan hanya sebagai pengujian kemampuan senjata, tetapi juga sebagai demonstrasi kekuatan di tengah persaingan pengembangan teknologi rudal kedua negara.
Beberapa hari sebelum peluncuran rudal Korea Utara, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyaksikan langsung uji tembak pertama rudal hipersonik negaranya pada Kamis (8/10/2026).
Kegiatan itu menjadi demonstrasi publik yang jarang dilakukan seorang presiden Korea Selatan dalam pengujian persenjataan rudal.
Menurut Kantor Kepresidenan Korea Selatan, teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan militer Seoul untuk menyerang sasaran penting secara mendadak di wilayah operasi Semenanjung Korea setelah pengembangannya selesai.
Sebelumnya, pada 3 Oktober 2026, Korea Utara juga melakukan pengujian rudal hipersonik jarak menengah yang dirancang untuk menghindari sistem pertahanan rudal Korea Selatan dan Jepang.
Rangkaian pengujian itu memperlihatkan bahwa teknologi rudal hipersonik menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan kemampuan militer kedua negara.
Selain aktivitas pengujian rudal, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan turut dibayangi perselisihan mengenai ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ).
Ledakan tersebut menyebabkan tiga tentara Korea Selatan terluka.
Berdasarkan penyelidikan gabungan Korea Selatan dan PBB, dua ranjau darat yang menyebabkan insiden itu dinyatakan telah ditanam oleh pasukan Korea Utara sekitar satu tahun sebelumnya.
Seoul kemudian menuntut permintaan maaf dari Pyongyang. Namun, Korea Utara membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Korea Selatan melakukan provokasi.
Perselisihan ini berlangsung ketika upaya membuka kembali jalur komunikasi diplomatik belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Sebelum insiden ranjau perbatasan, pemerintah Korea Selatan menyatakan telah melakukan koordinasi awal untuk membantu memfasilitasi kemungkinan dialog antara Korea Utara dan Amerika Serikat.
Presiden Lee Jae Myung sebelumnya juga berjanji untuk membuka kembali dialog dengan Pyongyang dalam pidato pertamanya setelah menjabat pada 2025.
Namun, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tetap mempertahankan program persenjataan nuklir negaranya dan menolak tawaran Washington maupun Seoul untuk melanjutkan diplomasi yang terhenti.
Perundingan Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2019 berakhir tanpa kelanjutan kesepakatan.
Pemerintah Korea Utara terus menuntut agar Washington meninggalkan kebijakan yang dianggap bermusuhan terhadap Pyongyang dan mencabut tuntutan denuklirisasi sebagai syarat pembicaraan.
Dengan situasi tersebut, peluncuran rudal pada 12 Oktober menambah persoalan keamanan yang dihadapi Semenanjung Korea, ketika pengujian persenjataan terus berlangsung sementara komunikasi diplomatik kedua pihak belum kembali berjalan secara efektif.
SOURCE CREDIT / REFERENCES
[01]Al Jazeera β North Korea fires multiple ballistic missiles towards the sea
[02]Reuters β North Korea fires missiles days after South Korea's hypersonic test
Komentar