"Gempa M6,8 Guncang Jepang, Korban Tewas Bertambah Jadi 13 Orang"
Jepang Berduka! 13 Tewas akibat Gempa Kumamoto, Ribuan Personel Dikerahkan
Aula ibadah Kuil Yatshushiro abad ke-19 runtuh saat gempa
Sesuaikan Ukuran Baca
562
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Kumamoto - Pemerintah Jepang terus mengintensifkan operasi pencarian dan penyelamatan menyusul gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,8 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, wilayah barat daya Jepang, pada Selasa (28/7) pukul 16.27 waktu setempat. Hingga lebih dari 24 jam pascagempa, sedikitnya 13 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara proses evakuasi korban yang masih tertimbun reruntuhan terus berlangsung.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa operasi penyelamatan kini memasuki fase yang sangat krusial.
"Ini benar-benar perlombaan melawan waktu," ujar Takaichi saat memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan bencana.
Ia menambahkan, masih terdapat sejumlah warga yang diyakini terjebak di bawah reruntuhan dan membutuhkan pertolongan secepat mungkin.
Fokus Evakuasi di Pusat Perbelanjaan dan Kawasan Industri
Tim penyelamat saat ini memusatkan pencarian di dua lokasi yang mengalami kerusakan paling parah, yakni Aeon Mall di Kota Kashima serta fasilitas produksi Nippon Paper di Kota Yatsushiro.
Di pusat perbelanjaan tersebut, sebuah ledakan dilaporkan terjadi sekitar satu jam setelah gempa mengguncang kawasan, sehingga semakin memperumit proses evakuasi para korban.
Pemerintah Jepang mengerahkan sekitar 4.600 personel dalam operasi tanggap darurat. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 personel berasal dari kepolisian, sementara 1.000 personel merupakan petugas pemadam kebakaran, dengan sisanya berasal dari berbagai unsur termasuk Pasukan Bela Diri Jepang dan tim penyelamat lainnya.
Tim penyelamat bekerja di pusat perbelanjaan Aeon Mall yang rusak, tempat ledakan terjadi setelah gempa bumi.
Empat orang dari Aeon Mall di kota Kashima masih hilang setelah gempa bumi yang melanda prefektur Kumamoto
Pabrik Honda di Kumamoto menempati lahan seluas 1.651.056 m², menangguhkan operasional pabrik untuk sisa minggu ini.
Para penyintas gempa dan tim penyelamat menghadapi suhu yang sangat panas.
Lebih dari 4.000 personel dikerahkan - Takaichi
Para petugas darurat berkumpul di luar mal.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Hiroko Ogata, 75 tahun, mengelola restoran nasi omelet yang populer di Kota Yatsushiro, Prefektur Kumamoto.
Kesaksian Korban: "Saya Kira Akan Meninggal"
Getaran gempa yang sangat kuat meninggalkan pengalaman traumatis bagi para penyintas.
Hiroko Ogata, pemilik restoran berusia 75 tahun di Kota Yatsushiro, mengaku sempat mengira hidupnya akan berakhir ketika bangunan berguncang hebat.
Menurutnya, meja-meja bergeser dengan sendirinya, sementara mangkuk dan gelas pecah berhamburan di sekelilingnya.
Kesaksian serupa disampaikan Kanzo Matsumoto, pemilik penginapan pemandian air panas berusia 73 tahun.
Ia menyebut gempa kali ini sebagai yang paling dahsyat sepanjang hidupnya.
"Saya tidak yakin wilayah ini akan mampu pulih dari kerusakan sebesar ini," ujarnya.
Sementara itu, Chiharu Hara, seorang karyawan berusia 35 tahun, mengatakan gedung tempatnya bekerja bergoyang sangat keras dari sisi ke sisi hingga memicu kepanikan seluruh penghuni.
"Saya takut bangunan itu akan runtuh. Semua orang panik," tuturnya.
Pejabat Pemerintah Kota Mifune, Hiroki Shimoda, juga mengaku guncangan kali ini mengingatkannya pada bencana gempa Kumamoto tahun 2016 yang menelan ratusan korban jiwa.
Bangunan Bersejarah Ikut Mengalami Kerusakan
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan bersejarah di Prefektur Kumamoto.
Aula ibadah Kuil Yatsushiro yang dibangun pada abad ke-19 mengalami keruntuhan, demikian pula sebagian tembok Kastil Kumamoto, salah satu situs budaya paling penting di wilayah tersebut.
Kerusakan infrastruktur juga terjadi di berbagai kawasan permukiman, fasilitas umum, hingga bangunan komersial.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Ribuan Warga Mengungsi, Ancaman Gelombang Panas Perumit Penanganan
Para petugas penyelamat berjalan menuju gedung Aeon Mall Kumamoto yang rusak parah di Kashima, Prefektur Kumamoto
Di tengah operasi penyelamatan, pemerintah menghadapi tantangan tambahan berupa cuaca ekstrem.
Badan Meteorologi Jepang memperkirakan suhu udara di Kumamoto mencapai 35 derajat Celsius, sehingga meningkatkan risiko sengatan panas bagi petugas maupun warga terdampak.
Pemerintah mengimbau seluruh personel penyelamat dan para pengungsi untuk menjaga kondisi tubuh dengan memperbanyak istirahat serta mencukupi kebutuhan cairan dan garam mineral selama proses evakuasi dan pembersihan berlangsung.
Hingga kini sekitar 7.700 warga telah dievakuasi dari rumah mereka menuju lokasi pengungsian yang lebih aman.
Sebagai bagian dari respons darurat, Menteri Pertahanan Jepang Shinjirō Koizumi mengumumkan bahwa sekitar 300 unit pendingin udara diterbangkan ke Kumamoto pada Selasa sore untuk didistribusikan ke wilayah yang mengalami dampak paling berat.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Aeon Mall Baru Saja Dibuka Kembali Sebelum Bencana
Mal Aeon
Salah satu lokasi terdampak paling serius adalah Aeon Mall Kumamoto, yang sebagian bangunannya runtuh akibat gempa.
Pusat perbelanjaan tersebut baru kembali beroperasi pada 13 Juni 2026 setelah menjalani renovasi besar.
Sebelumnya, bangunan itu sempat ditutup sejak mengalami kerusakan akibat gempa besar Kumamoto pada 2016.
Pembukaan kembali mal tersebut sekaligus menjadi penanda 21 tahun berdirinya kompleks perbelanjaan dan satu dekade proses rekonstruksi pascabencana.
Kompleks itu memiliki sekitar 200 toko, bioskop, toko buku, area kuliner, serta kapasitas parkir sekitar 5.000 kendaraan. Cabang Kumamoto merupakan salah satu dari sekitar 200 pusat perbelanjaan Aeon yang tersebar di seluruh Jepang.
Dalam insiden kali ini, sedikitnya dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat runtuhnya sebagian bangunan pusat perbelanjaan tersebut.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Warga Mulai Membersihkan Puing-Puing
Warga sedang berupaya memulihkan diri setelah gempa bumi
Memasuki hari kedua pascagempa, warga di berbagai wilayah Prefektur Kumamoto mulai membersihkan puing-puing bangunan yang rusak.
Namun, aktivitas pemulihan masih berlangsung berdampingan dengan operasi pencarian korban yang diyakini masih berada di bawah reruntuhan.
Pemerintah Jepang memastikan seluruh sumber daya akan terus dikerahkan hingga seluruh korban berhasil ditemukan, sembari mengutamakan keselamatan personel penyelamat di tengah ancaman cuaca panas yang melanda wilayah terdampak.
Prefektur Kumamoto pernah mengalami salah satu bencana gempa paling mematikan di Jepang pada April 2016. Saat itu dua gempa besar berkekuatan Magnitudo 6,5 dan 7,3 mengguncang wilayah tersebut dalam selang waktu dua hari, menyebabkan lebih dari 270 orang meninggal dunia serta kerusakan luas pada permukiman, infrastruktur, dan situs budaya.
Gempa yang terjadi kali ini kembali membangkitkan trauma masyarakat setempat, sekaligus menjadi ujian baru bagi sistem mitigasi bencana Jepang yang dikenal sebagai salah satu yang paling maju di dunia.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat Buat 15–20 judul clickbait SEO-friendly, Buat judul Google Discover, Buat meta description SEO, serta Buat kata kunci (keywords) untuk melengkapi rilis pers ini. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar