Muhammadiyah di Persimpangan Zaman : Antara Warisan dan Tantangan Baru
...melemahnya pengaruh Muhammadiyah tidak semata-mata disebabkan persoalan kaderisasi, melainkan berkaitan dengan tantangan ideologis yang lebih luas
Berdasarkan survei LSI, pada 2005 sebanyak 9,4 persen responden Muslim menyatakan berafiliasi dengan Muhammadiyah. Angka tersebut turun menjadi 7,8 persen pada 2014 dan kembali merosot menjadi 5,7 persen pada 2023. Sebaliknya, Nahdlatul Ulama (NU) justru mengalami peningkatan signifikan, dari 27,5 persen pada 2005 menjadi 56,9 persen pada 2023.
Penurunan ini menjadi sorotan dalam sebuah artikel analisis berjudul Understanding Muhammadiyah’s Waning Influence yang diterbitkan media kajian Asia Tenggara berbasis di Singapura, Stratsea.com, pada 31 Juli 2025. Artikel tersebut merupakan bagian dari seri kajian Political Islam Series dan ditulis melalui proses kurasi ketat bersama sejumlah peneliti regional.
Dalam kajiannya, penulis menilai melemahnya pengaruh Muhammadiyah tidak semata-mata disebabkan persoalan kaderisasi, melainkan berkaitan dengan tantangan ideologis yang lebih luas. Dua fondasi utama Muhammadiyah—modernisme Islam dan pemurnian ajaran—dinilai semakin kurang resonan dengan dinamika sosial dan intelektual kontemporer.
Secara historis, Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor Islam modern yang menekankan rasionalitas, purifikasi ajaran, dan penolakan terhadap praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat. Namun, pergeseran wacana global dari modernisme ke postmodernisme dan post-Islamisme dinilai telah mengubah preferensi intelektual generasi Muslim Indonesia.
Dalam konteks ini, NU dinilai lebih adaptif dengan mengadopsi pendekatan post-tradisionalisme yang mengakomodasi pluralisme, keadilan sosial, hingga isu lingkungan. Sementara itu, Muhammadiyah dianggap masih bertumpu pada paradigma modernis abad ke-20 yang semakin sulit menarik generasi muda dan kelas menengah perkotaan.
Selain tantangan ideologis, Muhammadiyah juga dihadapkan pada tekanan dari kelompok Islam transnasional yang aktif mengusung agenda pemurnian Islam secara lebih militan. Kesamaan akar teologis membuat sebagian warga dan simpatisan Muhammadiyah rentan beralih ke kelompok-kelompok tersebut, terutama di tingkat akar rumput dan lingkungan kampus.
Perbedaan sikap Muhammadiyah dengan pemerintah dalam penetapan awal Ramadan dan hari raya juga disebut turut memengaruhi loyalitas anggota, khususnya aparatur sipil negara (ASN) dan kalangan profesional yang selama ini menjadi basis sosial Muhammadiyah. Metode hisab murni yang digunakan Muhammadiyah menjadikannya berbeda sendiri dibandingkan ormas Islam lain dan negara-negara Muslim pada umumnya.
Di sisi lain, lemahnya penetrasi Muhammadiyah di ruang digital juga menjadi perhatian. Di tengah maraknya dakwah melalui media sosial, Muhammadiyah dinilai tertinggal dibanding NU dan kelompok Islam transnasional yang memiliki banyak figur pendakwah populer di platform digital.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap dipandang sebagai pilar penting masyarakat sipil Indonesia dengan kontribusi besar di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Namun, penguatan kembali peran tersebut dinilai memerlukan pembaruan strategi komunikasi, penguatan kaderisasi, serta penyesuaian pendekatan ideologis agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
Artikel versi bahasa Indonesia ini diterbitkan untuk menjangkau pembaca domestik, khususnya warga dan elite Muhammadiyah, dengan harapan dapat menjadi bahan refleksi dan perbaikan organisasi ke depan.
Berita Terkait
Kesiapan Haji 2026 Hampir 100 Persen, Jamaah Diminta Maksimalkan Manasik
28 Mar 2026 - 12:50
697
Bashirah dalam Geopolitik: Cara Nabi Mengajarkan Membaca Konflik Dunia
14 Mar 2026 - 23:06
711
Muhammadiyah di Persimpangan Zaman : Antara Warisan dan Tantangan Baru
10 Feb 2026 - 12:07
557