PusakoNews.com, Jakarta - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menegaskan bahwa ibadah haji dan umrah pada hakikatnya merupakan panggilan atau undangan khusus dari Allah SWT, yang tidak semata ditentukan oleh faktor kesehatan, kemampuan finansial, maupun keinginan manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pengajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Senin (4/5). Dalam ceramahnya, Budi mengutip Surah Al-Hajj ayat 27 yang berisi perintah kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyeru umat manusia menunaikan ibadah haji. Ia menekankan bahwa tidak semua orang yang secara lahiriah mampu, pada akhirnya dapat berangkat ke Tanah Suci.
Menurutnya, terdapat berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa keberangkatan haji dan umrah berada dalam kehendak Allah, seperti calon jamaah yang gagal berangkat meski telah sampai di bandara, atau bahkan yang wafat setibanya di Tanah Suci. Hal ini, lanjutnya, memperlihatkan bahwa ibadah tersebut merupakan panggilan ilahi.
Budi juga menanggapi fenomena di masyarakat terkait individu dengan latar belakang moral tertentu yang tetap dapat menunaikan haji. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran atas perilaku mereka, karena undangan Allah memiliki hikmah yang beragam, termasuk sebagai sarana untuk memperbaiki diri dan kembali kepada-Nya.
Terkait praktik umrah berulang kali, ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak perlu dipersoalkan selama didukung oleh kemampuan. Ia mencontohkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga melaksanakan umrah lebih dari sekali, tanpa adanya pembatasan jumlah dalam syariat.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya niat dan kesungguhan dalam mempersiapkan ibadah. Banyak jamaah yang pada akhirnya dapat berangkat berkat tekad kuat dan usaha, termasuk melalui kebiasaan menabung sejak dini.
Dari sisi spiritual, Budi menjelaskan bahwa haji dan umrah memiliki keutamaan besar sebagai sarana penghapusan dosa dan penyucian jiwa. Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa haji mabrur tidak memiliki balasan selain surga, serta hadis lain yang menyatakan bahwa umrah dapat menghapus dosa di antara pelaksanaannya.
Ia juga menggambarkan pengalaman ibadah di Tanah Suci sebagai gambaran kehidupan yang berfokus penuh pada ibadah, di mana jamaah menjalani aktivitas sederhana seperti makan, istirahat, berzikir, dan berdoa tanpa terganggu urusan duniawi.
Selain itu, rangkaian ibadah haji dan umrah dinilai mengandung nilai pendidikan spiritual yang mendalam. Ihram melatih kepatuhan total dan menghapus perbedaan sosial, tawaf menanamkan fokus hanya kepada Allah, sementara sai mencerminkan usaha tanpa henti sebagaimana teladan Siti Hajar. Adapun wukuf di Arafah disebut sebagai puncak ibadah, yang menjadi momentum terbaik untuk berdoa, bertobat, dan memperbarui kehidupan.
Dalam penutupnya, Budi mengajak umat Islam untuk menumbuhkan niat menunaikan haji dan umrah serta mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Ia juga mengingatkan agar tetap menjaga kepedulian sosial terhadap keluarga dan lingkungan sekitar.
“Jika belum mendapatkan panggilan, teruslah berdoa dan berusaha agar layak diundang. Semoga kita semua diberi kesempatan menunaikan ibadah haji dan umrah,” tutupnya.
[PusakoNews.com/red]
Komentar