PusakoNews.com, Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menghapus sebuah unggahan kontroversial di platform Truth Social setelah menuai kritik luas dari berbagai kalangan.
Unggahan tersebut berupa gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan Trump dalam sosok menyerupai figur religius, tengah menyentuh seorang pria sakit di ranjang rumah sakit. Visual itu memicu reaksi keras, tidak hanya dari kelompok oposisi, tetapi juga dari sebagian pendukung Trump sendiri.
Kontroversi semakin mencuat karena unggahan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump menyampaikan kritik terhadap Pope Leo XIV, yang dikenal sebagai pengkritik kebijakan militer Amerika Serikat dan Israel terkait Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Paus tersebut lemah dalam penanganan kejahatan serta buruk dalam kebijakan luar negeri.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Trump mengakui telah mengunggah gambar tersebut, namun menegaskan bahwa ia memaknainya sebagai representasi dirinya sebagai seorang dokter. Ia menyatakan gambar itu dimaksudkan menggambarkan dirinya membantu orang menjadi lebih baik.
Gambar yang kini telah dihapus itu memperlihatkan Trump mengenakan jubah putih dengan tangan bercahaya menyentuh dahi pasien, yang oleh sejumlah pihak dinilai menyerupai penggambaran Yesus dalam lukisan religius. Latar belakang gambar menampilkan berbagai simbol Amerika, seperti Patung Liberty, bendera nasional, pesawat tempur, dan elang, serta figur lain seperti perawat, seorang wanita berdoa, dan sosok yang diduga tentara.
Kritik terhadap unggahan tersebut datang dengan cepat, termasuk dari tokoh yang selama ini dikenal dekat dengan Trump. Aktivis Kristen Sean Feucht secara terbuka mendesak agar gambar tersebut segera dihapus, menyebutnya tidak dapat dibenarkan dalam konteks apa pun. Sementara itu, aktivis konservatif Riley Gaines menilai unggahan tersebut sebagai bentuk yang tidak pantas dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak boleh dijadikan bahan olok-olok.
Reaksi serupa juga datang dari media berbasis keagamaan. Jurnalis David Brody menyebut unggahan itu telah melampaui batas, meskipun ia menegaskan bahwa dukungan terhadap agenda politik tidak harus berarti membenarkan semua tindakan.
Unggahan kontroversial tersebut dipublikasikan kurang dari satu jam setelah Trump melontarkan kritik terhadap Paus, memperkuat sorotan publik terhadap isi dan waktu penyampaian pesan tersebut.
Penghapusan unggahan ini menandai respons terhadap tekanan publik yang berkembang pesat, sekaligus memperlihatkan sensitivitas isu keagamaan dalam dinamika politik Amerika Serikat.
[PusakoNews.com/red]
Komentar