PusakoNews.com, Jakarta - Komisi III DPR RI menegaskan komitmennya untuk menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perampasan Aset Terkait dengan Tindak Pidana secara terbuka, partisipatif, dan responsif terhadap kebutuhan penegakan hukum di berbagai daerah. Komitmen tersebut diperkuat melalui rangkaian kunjungan kerja reses ke Provinsi Papua Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara pada Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025โ2026.
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, mengatakan bahwa kunjungan kerja tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi legislasi DPR sekaligus upaya menghimpun masukan dari masyarakat, aparat penegak hukum, serta para pemangku kepentingan mengenai substansi RUU Perampasan Aset. Selain mendukung proses legislasi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana menjalankan fungsi pengawasan dan anggaran dengan mendalami berbagai tantangan penegakan hukum di wilayah yang memiliki karakteristik geografis dan persoalan hukum yang beragam.
Penyusunan Regulasi Berbasis Kebutuhan Daerah
Habiburokhman menegaskan bahwa pembentukan undang-undang harus dilaksanakan secara transparan, inklusif, dan melibatkan partisipasi publik yang luas. Menurutnya, regulasi mengenai perampasan aset tidak cukup disusun hanya berdasarkan perspektif nasional, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi riil serta dinamika penegakan hukum yang dihadapi setiap daerah.
Ia menilai karakteristik tindak pidana di masing-masing wilayah memiliki tantangan tersendiri sehingga aspirasi dari daerah menjadi elemen penting dalam menyusun regulasi yang efektif, implementatif, dan mampu menjawab kebutuhan penegakan hukum secara menyeluruh.
Dorong Pergeseran Paradigma Pemberantasan Kejahatan
Dalam berbagai pertemuan selama masa reses, Komisi III DPR RI menerima pandangan yang relatif seragam mengenai pentingnya menghadirkan instrumen hukum yang lebih kuat untuk mengejar hasil kejahatan, tidak hanya memberikan sanksi kepada pelaku tindak pidana.
Habiburokhman menegaskan bahwa paradigma pemberantasan kejahatan perlu bergeser dari pendekatan follow the suspect menjadi follow the money dan follow the asset. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar praktik kejahatan tidak lagi memberikan keuntungan ekonomi bagi pelakunya melalui penguasaan aset hasil tindak pidana.










Komentar