PusakoNews.com, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Kharis Almasyhari, menyoroti berkembangnya berbagai narasi yang dinilai berpotensi mendistorsi upaya swasembada pangan nasional yang saat ini tengah dijalankan pemerintah bersama petani dan seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian.
Menurut Abdul Kharis, perbedaan pandangan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kritik seharusnya dibangun berdasarkan data, fakta, dan kondisi objektif di lapangan, bukan justru membentuk persepsi yang dapat melemahkan optimisme publik terhadap kemampuan bangsa dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.
Ia menilai, di tengah berbagai indikator pertanian nasional yang menunjukkan tren positif, seluruh pihak perlu berhati-hati terhadap upaya-upaya yang menggiring opini publik seolah-olah swasembada pangan merupakan sesuatu yang mustahil dicapai Indonesia.
“Ketika berbagai indikator pertanian menunjukkan perbaikan, kita perlu berhati-hati terhadap upaya-upaya yang menggiring opini seolah-olah swasembada pangan mustahil dicapai. Kritik tentu penting, tetapi jangan sampai berubah menjadi narasi yang mendistorsi kerja keras petani dan seluruh stakeholder yang sedang berjuang memperkuat kemandirian pangan nasional,” ujar Abdul Kharis.
Ia menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar target sektor pertanian semata, melainkan agenda strategis nasional yang berkaitan langsung dengan ketahanan negara, stabilitas ekonomi, hingga kesejahteraan rakyat secara luas.
Menurutnya, negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan global, gejolak ekonomi internasional, maupun ketidakpastian geopolitik dunia yang terus berkembang.
“Pangan bukan sekadar urusan pemenuhan target produksi. Pangan adalah soal kedaulatan. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan global, gejolak ekonomi, maupun ketidakpastian geopolitik,” katanya.
Abdul Kharis juga mengakui bahwa sektor pertanian nasional saat ini menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari perubahan iklim, cuaca ekstrem, hingga dinamika ekonomi global. Namun ia menekankan bahwa tantangan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk meragukan kemampuan petani Indonesia dalam memperkuat produksi pangan nasional.
Menurutnya, hampir seluruh negara di dunia menghadapi tantangan serupa. Yang membedakan adalah bagaimana sebuah negara merespons dan mengambil langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangannya.
Ia melihat pemerintah bersama petani terus melakukan berbagai upaya nyata untuk meningkatkan produksi pertanian, mulai dari perbaikan sistem irigasi, penguatan sarana produksi, peningkatan produktivitas lahan, hingga penguatan teknologi pertanian.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun optimisme nasional yang berpijak pada data dan fakta di lapangan.
“Saya melihat pemerintah bersama petani terus bekerja meningkatkan produksi, memperbaiki irigasi, memperkuat sarana produksi, dan meningkatkan produktivitas. Karena itu kita perlu membangun optimisme yang kuat berbasis data,” ujarnya.
- DPR Soroti Narasi Krisis Pangan Berlebihan, Data Pertanian Indonesia Justru Positif
- Swasembada Pangan Menguat, Abdul Kharis Ingatkan Bahaya Distorsi Informasi
- Produksi Pangan Naik Tajam, Komisi IV DPR Tegaskan Indonesia Mampu Mandiri









Komentar