PusakoNews.com, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) melalui sistem satu pintu yang dijalankan oleh BUMN Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI). Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani apabila implementasinya belum didukung kesiapan infrastruktur, tata kelola, serta mekanisme distribusi yang matang.
Firman menegaskan bahwa kebijakan penataan tata niaga sawit dan penguatan hilirisasi pada prinsipnya merupakan langkah positif pemerintah. Namun demikian, pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan kondisi riil di lapangan, terutama nasib jutaan petani sawit yang sangat bergantung pada kestabilan harga hasil panen mereka.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak laporan dan keluhan dari petani sawit di berbagai daerah terkait penurunan harga TBS setelah pemerintah mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu tersebut.
“Pemerintah harus memahami bahwa petani merupakan pihak yang paling rentan terhadap setiap perubahan kebijakan tata niaga. Ketika terjadi hambatan dalam rantai distribusi ekspor, dampak pertama yang dirasakan adalah penurunan harga TBS di tingkat petani,” ujar Firman Soebagyo dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Menurut Firman, terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan harga TBS mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Salah satunya adalah potensi penumpukan stok CPO di pabrik kelapa sawit akibat mekanisme ekspor yang harus melalui satu pintu. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi kemampuan pabrik dalam menyerap hasil panen petani secara optimal.
Selain itu, ia menyoroti kekhawatiran pelaku usaha terhadap kemungkinan meningkatnya biaya distribusi maupun administrasi yang muncul dari sistem baru tersebut. Situasi itu berpotensi mengurangi margin usaha perusahaan dan mendorong penyesuaian harga pembelian TBS dari petani.
Di sisi lain, ketidakpastian mekanisme pelaksanaan kebijakan juga dinilai memengaruhi aktivitas perdagangan internasional. Sejumlah pembeli luar negeri maupun pelaku industri disebut masih memilih menunggu kepastian aturan teknis sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar. Akibatnya, arus perdagangan dan ekspor sawit nasional mengalami perlambatan yang berdampak langsung pada tekanan harga di pasar domestik.
“Jangan sampai niat baik pemerintah untuk memperbaiki tata niaga sawit justru menimbulkan keresahan dan kerugian bagi petani. Sektor sawit selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional sekaligus sumber penghidupan jutaan keluarga di Indonesia,” tegas politisi Fraksi Partai Golkar tersebut.
- Firman Soebagyo Peringatkan Ancaman Besar bagi Petani Akibat Kebijakan Sawit Baru
- Ekspor Sawit Satu Pintu Tuai Polemik, DPR Desak Pemerintah Lindungi Petani
- Harga Sawit Terpuruk, Firman Soebagyo Minta Kebijakan DSI Dievaluasi Total









Komentar