Space Available Magelang R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Kembali ke Indonesia, Jurnalis Republika Sebut Derita Palestina Jauh Lebih Berat

"Ditahan Saat Misi Kemanusiaan, Jurnalis Indonesia Bongkar Kondisi Palestina"

Tangis Haru Sambut Kepulangan Jurnalis Republika dari Konflik Palestina
Jurnalis Republika Pulang dari Misi Palestina, Ungkap Kekejaman yang Mengguncang Dunia
Jurnalis Republika Pulang dari Misi Palestina, Ungkap Kekejaman yang Mengguncang Dunia

Rangkuman Berita

  • “Apa yang Kami Alami Tidak Sebanding dengan Warga Palestina”
  • Jurnalis Republika Pulang Selamat, Kisah Penahanan Israel Jadi Sorotan
  • Misi Kemanusiaan Palestina Berujung Penahanan, Ini Pengakuan Jurnalis Indonesia
Sesuaikan Ukuran Baca
598
Space Available Jogja R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Jakarta - Dua jurnalis nasional dari media Republika, Thoudy Badai Rifan Billah dan Bambang Noroyono alias Abeng, akhirnya kembali ke Indonesia setelah sempat mengalami penahanan oleh aparat Israel saat mengikuti misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) di kawasan perairan Siprus, Mediterania Timur. Kepulangan keduanya bersama tujuh warga negara Indonesia (WNI) lainnya menjadi momen penuh haru sekaligus pengingat akan besarnya penderitaan yang hingga kini masih dialami rakyat Palestina.

Rombongan tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5), dan disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari. Kehadiran pemerintah dalam penyambutan tersebut menjadi simbol perhatian negara terhadap keselamatan warga Indonesia yang menjalankan misi kemanusiaan dan solidaritas internasional untuk Palestina.

Selain dua jurnalis Republika tersebut, rombongan juga terdiri atas Andre Prasetyo Nugrono dari TV Tempo, mantan jurnalis iNews Rahendro Herubowo, serta lima aktivis kemanusiaan yakni Andi Angga, Herman Budiyanto Sudarsono, Ronggo Wirasono, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo. Mereka sebelumnya tergabung dalam pelayaran kemanusiaan yang bertujuan menyuarakan solidaritas dunia terhadap rakyat Palestina di tengah konflik berkepanjangan di Gaza dan wilayah sekitarnya.

Dalam keterangannya setibanya di Tanah Air, Thoudy Badai menyampaikan rasa syukur karena seluruh rombongan WNI dapat kembali dengan selamat. Ia mengaku selama masa penahanan mengalami berbagai tindakan kekerasan fisik. Namun demikian, menurutnya pengalaman tersebut tidak sebanding dengan penderitaan yang selama ini dialami warga Palestina, khususnya para tahanan Palestina yang hidup dalam situasi jauh lebih berat.

Thoudy menegaskan bahwa apa yang dialaminya selama beberapa hari penahanan hanyalah sebagian kecil dari realitas yang terus dihadapi rakyat Palestina selama bertahun-tahun. Ia mengungkapkan bahwa ribuan warga Palestina hidup dalam tekanan, ketakutan, serta keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar akibat konflik yang terus berlangsung. Pernyataan tersebut menjadi refleksi mendalam atas kondisi kemanusiaan di wilayah Palestina yang hingga kini masih memantik perhatian dunia internasional.

Sebelumnya, keberadaan kedua jurnalis Republika sempat menjadi perhatian luas publik nasional setelah dilaporkan hilang kontak saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada 18 Mei 2026. Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat bahkan menyatakan terus memantau perkembangan situasi serta menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak untuk memastikan keselamatan para jurnalis tersebut.

Dalam sebuah video yang sempat beredar sebelum kepulangannya, Bambang Noroyono alias Abeng menyatakan dirinya menjadi korban penculikan oleh tentara Israel saat mengikuti misi kemanusiaan tersebut. Ia meminta pemerintah Indonesia untuk membantu proses pembebasannya sekaligus terus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Pernyataan itu memicu gelombang solidaritas dari masyarakat Indonesia, insan pers, hingga organisasi kemanusiaan.

Space Available Banten R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Kembali ke Indonesia, Jurnalis Republika Sebut Derita Palestina Jauh Lebih Berat

Kasus yang menimpa para jurnalis dan relawan Indonesia tersebut kembali memperlihatkan tingginya risiko yang dihadapi pekerja kemanusiaan dan jurnalis di kawasan konflik. Berbagai organisasi pers internasional selama ini juga terus menyoroti pentingnya perlindungan terhadap jurnalis yang bertugas di wilayah perang maupun daerah konflik bersenjata.

Di sisi lain, situasi Palestina sendiri masih menjadi perhatian masyarakat global. Berbagai laporan internasional terus mengungkap kondisi kemanusiaan yang memburuk, termasuk pembatasan akses ibadah di Masjid Al-Aqsa, penahanan warga Palestina, hingga meningkatnya korban sipil akibat konflik berkepanjangan. Negara-negara Arab dan sejumlah organisasi internasional juga terus menyampaikan kecaman terhadap berbagai kebijakan yang dinilai melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.

Kepulangan sembilan WNI dari misi kemanusiaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa isu Palestina bukan sekadar persoalan geopolitik, melainkan juga tragedi kemanusiaan yang menyentuh nurani masyarakat dunia. Solidaritas yang ditunjukkan para relawan, jurnalis, dan masyarakat internasional dinilai menjadi bentuk nyata dukungan terhadap perjuangan kemanusiaan dan hak-hak rakyat Palestina.

Peristiwa ini juga memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Dukungan moral, diplomasi, serta aksi kemanusiaan dari berbagai elemen bangsa dinilai tetap menjadi bagian penting dari komitmen Indonesia dalam mendukung perdamaian dan kemerdekaan Palestina sesuai amanat konstitusi.
[PusakoNews.com/red]

Space Available Lampung R9

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Malang R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews