KZB ArmyLook R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Tuduhan Kekerasan dan Pelecehan Mencuat Usai Penahanan Aktivis Armada Global Sumud oleh Israel

"Geger! Aktivis Armada Gaza Tuding Israel Lakukan Kekerasan Seksual di Tahanan"

Skandal Armada Global Sumud: Aktivis Ungkap Dugaan Penyiksaan di Penahanan Israel
Para aktivis yang terluka dari Global Sumud Flotilla terlihat di Bandara Istanbul, Turki, pada hari Kamis. Tujuan mereka adalah untuk memberikan bantuan kepada warga Palestina yang terkepung Israel di Gaza.
Para aktivis yang terluka dari Global Sumud Flotilla terlihat di Bandara Istanbul, Turki, pada hari Kamis. Tujuan mereka adalah untuk memberikan bantuan kepada warga Palestina yang terkepung Israel di Gaza.

Rangkuman Berita

  • • Aktivis Armada Global Sumud yang telah dibebaskan dan dideportasi ke Turki menuduh pasukan Israel melakukan kekerasan fisik, penyiksaan, hingga dugaan kekerasan seksual selama penahanan mereka setelah kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza dicegat di laut.

  • • Organisasi HAM Adalah serta sejumlah aktivis, termasuk saksi dari Australia, mengklaim adanya pemukulan, penggunaan alat kejut listrik, peluru karet, hingga perlakuan kasar lainnya, sementara sebagian korban juga melaporkan dugaan kekerasan seksual.

  • • Otoritas penjara Israel dan IDF membantah seluruh tuduhan tersebut, menyebut penahanan dilakukan sesuai hukum, namun sejumlah negara dan organisasi internasional telah menyuarakan keprihatinan serta mendorong penyelidikan lebih lanjut.
Sesuaikan Ukuran Baca
653
KZB ArmyLook R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Gaza - Sejumlah aktivis yang sebelumnya berada di kapal Armada Global Sumud dan telah dibebaskan serta dideportasi ke Turki menuduh adanya dugaan kekerasan fisik, perlakuan tidak manusiawi, hingga kekerasan seksual selama mereka berada dalam tahanan pasukan Israel. Tuduhan tersebut memicu reaksi dan kecaman dari berbagai pihak internasional, sementara otoritas Israel membantah seluruh klaim tersebut.


Armada Global Sumud diketahui membawa sedikitnya 428 orang penumpang serta bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, dan perlengkapan medis yang ditujukan untuk warga sipil di Jalur Gaza. Kapal-kapal tersebut dicegat oleh pasukan Israel beberapa hari setelah keberangkatan dari Turki, dengan operasi pencegatan terakhir dilaporkan terjadi pada hari Selasa.


Setelah pencegatan, para aktivis ditahan sebelum akhirnya dideportasi ke Turki. Dalam periode penahanan tersebut, sejumlah kesaksian muncul ke publik dan memicu perhatian internasional terkait dugaan perlakuan yang mereka alami.


Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Israel, Adalah, yang bertindak sebagai kuasa hukum para aktivis, menyatakan bahwa pihaknya telah mendokumentasikan kesaksian para peserta armada. Dalam keterangan yang disampaikan kepada Media, Adalah menyebutkan bahwa para aktivis mengaku mengalami pemukulan, penyiksaan, hingga penggunaan alat kejut listrik serta peluru karet. Beberapa di antaranya juga melaporkan dugaan cedera serius, termasuk patah tulang akibat penganiayaan.


Selain itu, pernyataan dari pihak Armada Global Sumud turut menyebutkan adanya dugaan kekerasan seksual terhadap sebagian peserta, termasuk klaim mengenai “beberapa laporan pemerkosaan” serta tindakan kekerasan seksual lainnya. Tuduhan tersebut masih dalam tahap pengumpulan kesaksian, mengingat sebagian korban belum bersedia memberikan keterangan lengkap atau masih berada dalam situasi penahanan saat diwawancarai oleh pihak kuasa hukum.


Koordinator advokasi internasional Adalah, Miriam Azem, menegaskan bahwa kasus ini merupakan salah satu dugaan kekerasan paling serius yang pernah ditangani organisasinya dalam satu dekade terakhir terkait kasus armada kemanusiaan. Ia menyebut sejumlah korban masih enggan memberikan keterangan terbuka karena alasan keamanan dan dampak psikologis, sementara sebagian lainnya baru dapat berbicara setelah dipulangkan ke Turki.


Salah satu aktivis, pembuat film dan aktivis asal Australia, Juliet Lamont, mengaku mengalami perlakuan kasar dan pelecehan seksual saat berada dalam penahanan. Dalam keterangannya kepada media di Bandara Istanbul, Lamont menyebut dirinya dipukul dan mengalami kekerasan seksual oleh beberapa orang saat ditempatkan di sebuah kontainer pengiriman yang disebutnya sebagai “kapal penjara”.


Aktivis lain asal Australia, Zack Schofield, juga mengklaim mengalami kekerasan fisik selama proses penahanan. Ia menyebut dirinya diikat dengan kabel plastik dalam posisi yang menyakitkan, mengalami benturan di kepala, serta perlakuan keras lainnya selama proses interogasi dan imigrasi. Ia juga mengaku menyaksikan kekerasan terhadap tahanan lain.


Beberapa aktivis lain yang telah kembali ke Istanbul turut memberikan kesaksian serupa dalam bentuk video, yang menggambarkan dugaan perlakuan keras selama penahanan.


Di tingkat internasional, sejumlah pemerintah menyatakan keprihatinan atas laporan tersebut. Pemerintah Jerman menyebut adanya korban luka dan menyatakan beberapa tuduhan bersifat serius tanpa merinci lebih lanjut. Di Italia, sumber hukum menyebutkan bahwa jaksa tengah menyelidiki kemungkinan tindak pidana, termasuk dugaan penculikan dan kekerasan seksual. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, menyatakan telah menerima laporan terkait dugaan perlakuan buruk terhadap warga negaranya dan mengecam keras tindakan tersebut, seraya menegaskan perlunya akuntabilitas.


Di sisi lain, pihak Layanan Penjara Israel membantah seluruh tuduhan yang disampaikan para aktivis. Dalam pernyataannya kepada media, otoritas penjara Israel menyebut bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan tidak memiliki fakta pendukung. Mereka menegaskan bahwa seluruh tahanan diperlakukan sesuai hukum yang berlaku serta berada dalam pengawasan petugas yang profesional.


Tuduhan Kekerasan dan Pelecehan Mencuat Usai Penahanan Aktivis Armada Global Sumud oleh Israel


Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga menolak tuduhan adanya penganiayaan oleh personel militer. IDF menyatakan bahwa seluruh instruksi operasional mewajibkan perlakuan yang pantas dan menghormati hak-hak peserta armada yang ditahan. IDF juga menyebut bahwa setiap pengaduan spesifik akan diperiksa sesuai prosedur yang berlaku.


Namun demikian, pihak Adalah menegaskan tetap mempertahankan tuduhan tersebut dan menyerukan agar seluruh laporan dari para korban diproses melalui mekanisme hukum yang independen. Organisasi tersebut juga menyatakan akan memberikan ruang bagi para korban untuk berbicara secara langsung apabila kondisi memungkinkan, mengingat sebagian masih berada dalam tekanan psikologis atau kekhawatiran akan dampak lanjutan.


Ketegangan turut meningkat setelah Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis dalam kondisi terikat dan berlutut, yang kemudian memicu kritik luas dari berbagai pemimpin dunia. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut tayangan tersebut sebagai pelanggaran martabat manusia yang tidak dapat diterima, sementara sejumlah pemimpin Eropa lainnya juga menyampaikan kecaman.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian memberikan teguran publik terhadap tindakan Ben-Gvir, dengan menyebut bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai Israel, meskipun ia tetap mendukung keputusan untuk menghentikan armada tersebut.


Armada Global Sumud sendiri diketahui berangkat dengan misi kemanusiaan menuju Gaza, wilayah yang masih menghadapi krisis pasokan dasar seperti makanan dan air bersih, meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi pihak internasional pada Oktober 2025.


Hingga saat ini, berbagai pihak masih menyerukan investigasi independen terkait seluruh dugaan pelanggaran yang terjadi, sembari menunggu klarifikasi lanjutan dari otoritas terkait.

[PusakoNews.com/red]

Excellent Aromatica R9

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Wonderful Indonesia R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews