KZB ArmyLook R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Representasi Perempuan di Parlemen Harus Berbuah Kebijakan Nyata untuk Rakyat

Parlemen

"Puan Maharani Tegas! Perempuan di Parlemen Harus Hasilkan Perubahan Nyata"

Representasi Saja Tak Cukup, Puan Dorong Perempuan DPR Ubah Kebijakan Publik
Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani, dalam forum diskusi bertajuk Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan yang digelar KPPRI di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026)
Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani, dalam forum diskusi bertajuk Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan yang digelar KPPRI di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026)

Rangkuman Berita

Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen harus mampu melahirkan perubahan nyata melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, khususnya perempuan dan kelompok rentan. Dalam forum Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia di Kompleks Parlemen Senayan, Puan menyoroti bahwa meski jumlah anggota DPR perempuan meningkat menjadi 22,4 persen, capaian tersebut masih berada di bawah standar ideal 30 persen. Ia menekankan pentingnya perempuan tidak hanya hadir sebagai representasi politik, tetapi juga aktif menentukan arah legislasi, pengawasan, penganggaran, dan diplomasi parlemen agar kebijakan negara semakin inklusif dan berkeadilan.

Sesuaikan Ukuran Baca
658
HASKARA TRANS R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa keterwakilan perempuan di parlemen tidak boleh berhenti pada aspek simbolik semata, melainkan harus mampu melahirkan transformasi kebijakan yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat luas. Kehadiran perempuan di lembaga legislatif, menurutnya, harus menjadi kekuatan strategis dalam memperjuangkan kebijakan yang lebih inklusif, adil, dan berpihak kepada kelompok rentan.


Pernyataan tersebut disampaikan Puan saat menghadiri forum bertajuk “Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan” yang diselenggarakan oleh Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia di Pustakaloka, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).


Dalam sambutannya, Puan menyampaikan apresiasi kepada jajaran Presidium KPPRI yang dinilai telah menghadirkan ruang strategis bagi penguatan peran perempuan dalam politik dan kebijakan publik. Ia menyebut forum tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum penting untuk mempertegas komitmen kolektif dalam memperjuangkan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan dan masyarakat secara umum.


“Forum ini bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga deklarasi bersama bahwa keterwakilan perempuan di parlemen harus diterjemahkan menjadi perubahan yang nyata dan berdampak,” ujar Puan.


Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Presidium KPPRI Badikenita BR Sitepu beserta jajaran pengurus, perwakilan negara sahabat, organisasi perempuan internasional, perwakilan UN Women, NGO, komunitas perempuan, serta anggota DPR RI perempuan dari berbagai fraksi.


Dalam kesempatan itu, Puan mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan sejauh mana kehadiran perempuan di parlemen telah mampu memengaruhi arah kebijakan nasional. Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi membuktikan kemampuan perempuan di ruang publik, melainkan memastikan sistem politik nasional membuka ruang yang lebih besar bagi perempuan untuk ikut menentukan keputusan strategis negara.


“Perempuan Indonesia sudah tidak perlu lagi membuktikan bahwa mereka mampu. Pertanyaan yang harus dijawab hari ini adalah sejauh mana sistem politik memberikan ruang yang adil bagi perempuan untuk menentukan arah kebijakan,” tegasnya.


Puan juga menyoroti peningkatan jumlah anggota DPR RI perempuan pada periode saat ini. Dari total 580 anggota DPR RI, sebanyak 130 orang merupakan perempuan atau sekitar 22,4 persen. Meski angka tersebut menunjukkan peningkatan dibanding periode sebelumnya, ia mengingatkan bahwa capaian itu masih berada di bawah standar internasional keterwakilan perempuan sebesar 30 persen.


Menurut Puan, peningkatan jumlah legislator perempuan harus dimanfaatkan sebagai modal politik untuk memperkuat perjuangan terhadap berbagai isu strategis, termasuk perlindungan perempuan, anak, kelompok marjinal, dan masyarakat rentan lainnya.


Ia menilai masih terdapat jarak antara representasi perempuan di parlemen dengan transformasi kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Karena itu, perempuan parlemen dituntut tidak hanya hadir mengisi kursi legislatif, tetapi juga aktif merancang regulasi, mengawal penganggaran, melakukan pengawasan terhadap program pemerintah, hingga memperkuat diplomasi parlemen dengan perspektif perempuan.


“Perempuan harus hadir dalam setiap proses pengambilan keputusan, termasuk merancang norma, menentukan agenda, dan membentuk bahasa kebijakan yang lahir dari ruang politik,” kata Puan.


Sebagai perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI, Puan menegaskan bahwa perspektif perempuan harus menjadi bagian integral dalam seluruh proses legislasi dan kebijakan negara. Menurutnya, kebijakan yang berpihak kepada perempuan pada hakikatnya juga akan memperkuat kualitas demokrasi dan pembangunan nasional secara menyeluruh.

ExcellentAromatica R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Forum KPPRI Jadi Sorotan, Puan Minta Perempuan Parlemen Lebih Berpengaruh

Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani, dalam forum yang bertajuk Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan yang digelar Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) di Pustakaloka, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta,
Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani, dalam forum yang bertajuk Perempuan di Parlemen: Dari Representasi Menuju Transformasi Kebijakan yang digelar Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia (KPPRI) di Pustakaloka, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta,

Sementara itu, Ketua Presidium KPPRI Badikenita BR Sitepu menekankan pentingnya penguatan regulasi terkait perlindungan perempuan dan pekerja rumah tangga melalui sinergi antara parlemen dan organisasi masyarakat sipil. Ia menyebut forum tersebut menghasilkan berbagai masukan strategis bagi DPR RI dalam menjalankan fungsi legislasi, terutama terkait implementasi undang-undang yang menyangkut perlindungan perempuan dan kelompok rentan.


Badikenita menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat keberpihakan negara terhadap isu-isu perempuan, baik di tingkat nasional maupun daerah.


Selain itu, KPPRI juga berencana memperluas pembentukan Kaukus Perempuan Parlemen di tingkat provinsi serta kabupaten/kota guna memperkuat koordinasi dan advokasi isu perempuan di berbagai daerah di Indonesia.


Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan berbagai persoalan perempuan di daerah dapat terakomodasi secara lebih efektif, terutama di wilayah yang memiliki dinamika politik dan sosial yang berbeda-beda.


Melalui forum tersebut, DPR RI bersama KPPRI menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan peran perempuan dalam politik dan kebijakan publik, sekaligus memastikan bahwa representasi perempuan di parlemen benar-benar menghasilkan perubahan konkret bagi masyarakat Indonesia.

[PusakoNews.com/red]

iklan kzb

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Wonderful Indonesia R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews