PusakoNews.com, Jakarta - Kebijakan pemerintah yang menahan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai berpotensi memberikan tekanan serius terhadap kondisi keuangan PT Pertamina (Persero). Situasi ini menjadi sorotan karena berimplikasi langsung pada keberlanjutan operasional dan ketahanan energi nasional.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum terdapat indikasi kuat terkait penyesuaian harga BBM, baik untuk subsidi maupun non-subsidi. Di sisi lain, selisih antara harga jual saat ini dengan harga keekonomian diperkirakan berada di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 9.000 per liter.
Dengan asumsi konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 80 juta kiloliter per tahun dan pangsa pasar Pertamina sebesar 88–90 persen, volume penjualan perusahaan diperkirakan mencapai 72–75 juta kiloliter per tahun. Jika dirata-rata, penyaluran harian berada di kisaran ratusan ribu kiloliter, yang jika dikalikan dengan selisih harga tersebut, berpotensi menimbulkan tambahan beban hingga sekitar Rp 1,5 triliun sampai Rp 2 triliun per hari.
Dalam jangka bulanan, tekanan tersebut dapat meningkat hingga puluhan triliun rupiah, yang secara langsung berdampak pada arus kas perusahaan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait kemampuan Pertamina dalam menjaga kesinambungan pengadaan energi, terutama di tengah kewajiban finansial seperti pembayaran utang dan bunga yang jatuh tempo.
Komaidi menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada mekanisme subsidi atau kompensasi pemerintah, melainkan pada ketersediaan likuiditas jangka pendek untuk menjamin kelancaran pasokan BBM. Skema kompensasi dinilai masih dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, namun kebutuhan dana operasional harian menjadi tantangan yang lebih mendesak.
Di tengah tekanan tersebut, Pertamina tetap melakukan berbagai langkah strategis dan optimalisasi distribusi guna memastikan pasokan energi kepada masyarakat tetap terjaga. Namun demikian, tanpa penyesuaian kebijakan harga atau skema dukungan yang lebih jelas, ketahanan finansial perusahaan dalam jangka panjang menjadi perhatian utama.
[PusakoNews.com/red]








Komentar