Perkiraan Pentagon menunjukkan puluhan miliar dolar telah digunakan untuk operasi militer dan penggantian persenjataan. Lonjakan biaya energi serta tekanan terhadap keuangan publik menjadi sorotan menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 Nov
Sekitar US$29 miliar dialokasikan dalam perkiraan biaya penggantian amunisi yang telah digunakan, sementara sejumlah kerusakan fasilitas militer belum tercakup dalam perhitungan.
Pentagon memperkirakan biaya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mencapai sedikitnya US$47,1 miliar hingga 16 Oktober 2026. ยฉPusakoNews.com
Sesuaikan Ukuran Baca
1037
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Washington D.C. - Beban keuangan Amerika Serikat akibat perang melawan Iran terus membesar. Pentagon memperkirakan konflik yang melibatkan militer AS dan Israel tersebut telah menelan biaya sedikitnya US$47,1 miliar hingga 16 Oktober 2026, ketika tekanan ekonomi dalam negeri semakin menjadi perhatian menjelang pemilihan paruh waktu Kongres.
Besarnya pengeluaran itu menempatkan pembiayaan perang sebagai salah satu persoalan yang dihadapi pemerintahan Presiden Donald Trump. Selain harus membiayai operasi militer, Washington menghadapi kebutuhan penggantian persenjataan serta dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat.
Berdasarkan laporan Al Jazeera yang diterbitkan pada 29 Oktober 2026, estimasi terbaru Pentagon telah disampaikan kepada anggota Kongres AS. Rincian pengeluaran tersebut sebelumnya dibagikan pejabat Kongres kepada The New York Times.
Dari total perkiraan US$47,1 miliar, sekitar US$29 miliar merupakan proyeksi kebutuhan penggantian amunisi dan perangkat militer yang telah digunakan sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Angka tersebut mencakup kebutuhan penggantian berbagai persenjataan, termasuk bom dan amunisi lain yang dikerahkan selama operasi.
Pengeluaran juga tersebar pada sejumlah matra militer Amerika Serikat. Angkatan Udara AS tercatat menghabiskan sekitar US$7,6 miliar untuk unit pesawat tempur dan pembom.
Sementara itu, Angkatan Laut AS mengeluarkan US$1,5 miliar untuk operasional sekitar dua lusin kapal perang dan kapal induk. Angkatan Darat AS membutuhkan US$2,1 miliar guna mendukung keberadaan pasukannya di Timur Tengah.
Menurut Komando Pusat militer AS, lebih dari 50.000 personel Amerika ditempatkan di kawasan tersebut, baik pada pangkalan permanen maupun fasilitas penempatan terdepan.
Biaya lain yang dilaporkan mencakup US$6,1 miliar untuk penggantian pesawat dan amunisi yang rusak, US$645 juta bagi transportasi dan dukungan pasukan komando, serta US$24,5 juta untuk dukungan medis internal.
Komando Transportasi AS juga dilaporkan menggunakan US$92,2 juta untuk pemindahan peralatan, sedangkan Komando Siber AS menghabiskan US$14 juta untuk operasi dukungan siber.
Meski demikian, total pengeluaran tersebut belum menggambarkan seluruh konsekuensi finansial perang.
Perkiraan Pentagon belum memasukkan kebutuhan perbaikan pangkalan militer AS di Timur Tengah yang mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Biaya bahan bakar bagi kapal dan pesawat militer yang digunakan dalam konflik juga belum tercakup.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Biaya Perang Berpotensi Terus Bertambah
Pentagon terlihat dari jendela pesawat terbang di Washington ยฉPusakoNews.com
Pengeluaran militer AS menunjukkan peningkatan dibandingkan sejumlah estimasi sebelumnya.
Pada akhir April 2026, pengawas keuangan Pentagon Jules Hurst menyebut kebutuhan biaya perang sebesar US$25 miliar. Angka itu meningkat menjadi US$29 miliar dalam laporan pemerintahan Trump pada Mei.
Pada Juli, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan perkiraan US$37,5 miliar. Selanjutnya, Kantor Anggaran Kongres AS atau Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan biaya sebesar US$38 miliar pada September.
Estimasi Pentagon hingga 16 Oktober kemudian mencapai sedikitnya US$47,1 miliar.
CBO juga memperkirakan konflik berkelanjutan dapat membutuhkan anggaran sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar setiap bulan.
John Phillips, penasihat keamanan dan risiko asal Inggris sekaligus mantan kepala instruktur militer, menilai angka US$47,1 miliar perlu dipahami sebagai pengeluaran kumulatif, bukan total akhir seluruh biaya perang.
Menurut Phillips, perang yang berkepanjangan dapat memaksa Amerika Serikat terus membiayai operasi sekaligus membangun kembali kemampuan militer yang telah digunakan.
Ia menekankan bahwa persoalan keuangan bukan satu-satunya konsekuensi. Berkurangnya persediaan persenjataan serta gangguan ekonomi juga perlu diperhitungkan ketika menilai hasil strategis operasi militer.
Harga Energi Naik, Masyarakat AS Ikut Menanggung Dampak
Dampak ekonomi perang tidak terbatas pada anggaran pertahanan.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret 2026 mengganggu jalur perdagangan energi global yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga energi dan kelangkaan pasokan di berbagai wilayah.
Di Amerika Serikat, harga rata-rata solar mencapai US$6,35 per galon pada Rabu, 28 Oktober 2026, dibandingkan dengan US$3,75 pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut data American Automobile Association (AAA) yang dikutip dalam laporan tersebut.
Kenaikan harga bahan bakar turut menekan sektor pertanian, usaha kecil, dan rantai distribusi pangan.
Pada saat bersamaan, utang nasional Amerika Serikat dilaporkan telah melampaui US$40 triliun.
Kombinasi pengeluaran militer, biaya energi, dan tekanan ekonomi rumah tangga menjadikan pembiayaan perang semakin mendapat perhatian publik.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Pemilu Paruh Waktu Jadi Ujian Politik Trump
Donald J. Trump ยฉPusakoNews.com
Persoalan biaya perang mengemuka menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 yang akan menentukan komposisi kekuasaan di Kongres.
Lima senator Partai Demokrat sebelumnya meminta Pentagon menjelaskan pengeluaran perang secara transparan melalui surat kepada kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper.
Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer juga mengkritik pemerintahan Trump karena dinilai membebani keluarga Amerika dengan konsekuensi finansial konflik.
Sementara itu, menurut rata-rata jajak pendapat nasional RealClearPolling yang dikutip Al Jazeera, Partai Demokrat unggul atas Partai Republik dengan perbandingan 51,4 persen dan 43,2 persen.
Tingkat persetujuan terhadap Trump juga dilaporkan berada pada angka 33 persen.
Chris Featherstone, ilmuwan politik dari Universitas York di Inggris, menilai perang Iran berkaitan langsung dengan dua isu utama dalam pesan politik Trump, yakni komitmen menghindari perang baru dan janji memperbaiki perekonomian Amerika Serikat.
Menurutnya, kenaikan biaya hidup akibat konflik berpotensi memengaruhi dukungan pemilih, terutama kelompok yang tidak memiliki loyalitas politik kuat terhadap Trump.
Di tengah perdebatan tersebut, Trump mempertahankan sikap bahwa Amerika Serikat memiliki persediaan amunisi yang memadai, sekaligus menyatakan dirinya dapat menentukan kapan perang berakhir.
Namun, dengan biaya yang terus bertambah dan belum terlihatnya penyelesaian damai, perdebatan mengenai manfaat strategis perang dibandingkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat AS diperkirakan tetap menjadi perhatian menjelang pemungutan suara.
SOURCE CREDIT / REFERENCES
[01]Al Jazeera
[02]Reuters
[03]CBS News
[04]Associated Press
AUTHOR: Redaksi PusakoNews
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar