NOLAN N64 ORIGINAL – MADE IN ITALY R7

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Banjir Rendam Puluhan Hektare Sawah di Sumatera Barat, Petani Harapkan Penanganan Cepat dan Bantuan Pemerintah

Regional

"Banjir Padang Rendam 17 Hektare Sawah, Puluhan Petani Terancam Gagal Panen"

Puluhan Hektare Sawah Terendam Banjir di Sumbar, Petani Menanti Bantuan Pemerintah
Lahan sawah terdampak banjir
Lahan sawah terdampak banjir
Sesuaikan Ukuran Baca
655
NOLAN N64 ORIGINAL – MADE IN ITALY R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

PusakoNews.com, Padang - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada Senin (3/8/2026) kembali memukul sektor pertanian. Sedikitnya 17 hektare areal persawahan yang telah ditanami padi dilaporkan terendam, dengan Kota Padang menjadi wilayah yang mengalami dampak paling besar. Di sisi lain, sekitar 30 hektare lahan sawah yang sebelumnya direhabilitasi pascabencana akhir 2025 juga kembali rusak akibat banjir dan endapan lumpur.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (Disbuntanhor) Provinsi Sumatera Barat, lahan pertanian yang terdampak tersebar di Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah pesisir barat Sumatera Barat menjadi faktor utama yang memicu meluapnya air hingga merendam areal pertanian.

Kepala Disbuntanhor Sumatera Barat, Afniwirman, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil koordinasi dengan pemerintah daerah, dampak banjir terhadap sektor pertanian paling signifikan terjadi di Kota Padang.

"Curah hujan beberapa hari lalu sangat tinggi di wilayah pesisir barat, terutama Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Berdasarkan hasil pendataan sementara, daerah lain tidak mengalami dampak serupa. Kerusakan paling besar memang terjadi di Kota Padang," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

KZB ArmyLook R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Kondisi banjir di salah satu kampung terdampak
Kondisi banjir di salah satu kampung terdampak

Pendataan sementara menunjukkan luas sawah yang terdampak di Kota Padang mencapai sekitar 14,5 hektare, sedangkan di Kabupaten Padang Pariaman sekitar 1,5 hektare. Tanaman padi yang terendam berada pada berbagai fase pertumbuhan, mulai dari usia sekitar 30 hari hingga mendekati masa panen pada umur sekitar 90 hari. Sebagian tanaman diperkirakan mengalami puso atau gagal panen akibat genangan yang berlangsung cukup lama.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Disbuntanhor saat ini masih melakukan verifikasi untuk menghitung total kerugian yang ditimbulkan. Seluruh data kerusakan juga telah disampaikan kepada Kementerian Pertanian sebagai dasar penyusunan langkah penanganan lebih lanjut.

Afniwirman mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan mengusulkan program rehabilitasi bagi lahan maupun tanaman yang mengalami kerusakan. Selain itu, pemerintah daerah juga menunggu kebijakan lanjutan terkait kemungkinan pemberian bantuan kepada petani terdampak agar aktivitas pertanian dapat kembali berjalan.

Di tengah proses pendataan tersebut, persoalan lain juga muncul di Kota Padang. Sekitar 30 hektare sawah hasil rehabilitasi yang sebelumnya dipulihkan melalui program Kementerian Pertanian setelah bencana besar pada akhir 2025 kembali mengalami kerusakan akibat banjir terbaru.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yulianti, mengatakan lahan yang rusak merupakan bagian dari 102 hektare sawah yang telah direhabilitasi melalui dukungan Kementerian Pertanian. Lahan tersebut sebelumnya telah kembali produktif dan ditanami padi oleh para petani.

Menurutnya, sawah yang terdampak tersebar di sejumlah kelompok tani di Kelurahan Kuranji. Usia tanaman padi yang terendam bervariasi, mulai sekitar satu pekan hingga dua bulan sehingga berpotensi menyebabkan penurunan produksi bahkan gagal panen apabila tidak segera ditangani.

Pemerintah Kota Padang berencana membawa persoalan tersebut dalam pembahasan bersama Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat guna merumuskan langkah penanganan yang lebih komprehensif.

Space Available Batak R5

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Namun demikian, Yoice menilai rehabilitasi lahan pertanian saja belum cukup menjadi solusi jangka panjang apabila akar persoalan banjir tidak segera diselesaikan. Menurutnya, kawasan persawahan berada di sekitar daerah aliran sungai (DAS) yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi pascabencana sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa normalisasi sungai melalui pengerukan sedimentasi serta pembangunan dam pengendali banjir menjadi kebutuhan mendesak agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merusak lahan pertanian yang telah dipulihkan.

Dampak banjir juga dirasakan langsung oleh para petani. Emi, petani asal Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, mengaku sawah miliknya yang baru selesai direhabilitasi kembali tertutup lumpur dan bebatuan akibat banjir.

Ia menyebut sekitar empat petak sawah yang telah ditanami padi kini kembali rusak sehingga mengancam hasil panen yang diharapkan menjadi sumber penghasilan keluarga.

Emi berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui percepatan penanganan infrastruktur pengendali banjir maupun pemberian bantuan kepada petani terdampak. Baginya, sektor pertanian merupakan satu-satunya mata pencaharian yang menopang kehidupan keluarga dan masyarakat di wilayah tersebut.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa upaya pemulihan sektor pertanian pascabencana memerlukan dukungan penanganan infrastruktur secara menyeluruh. Selain rehabilitasi lahan, pengendalian banjir melalui normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan serta melindungi mata pencaharian para petani di Sumatera Barat.
[PusakoNews.com/red]

Space Available Lampung R9

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait

Space Available Nusa Tenggara Barat R6

Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews