Reuters Bongkar Dugaan Pencairan Dana Iran, UEA Beri Respons Tegas
Di Tengah Negosiasi Damai, Dana Miliaran Dolar Iran Dikabarkan Mulai Mengalir
Sesuaikan Ukuran Baca
628
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Abu Dhabi - Laporan mengenai pencairan dana miliaran dolar milik Iran oleh Uni Emirat Arab (UEA) memicu perhatian internasional di tengah berlangsungnya negosiasi intensif antara Teheran dan Washington untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Kantor berita Reuters melaporkan, berdasarkan keterangan empat sumber yang mengetahui perkembangan tersebut, bahwa UEA disebut telah menyetujui pencairan dana dalam jumlah besar kepada Iran sebagai bagian dari dinamika diplomatik baru yang berkembang di kawasan Timur Tengah. Langkah itu disebut berkaitan dengan upaya meredakan ketegangan setelah serangkaian serangan Iran terhadap wilayah dan kepentingan UEA selama beberapa pekan terakhir.
Menurut dua sumber regional, nilai dana yang disepakati mencapai sekitar 10 miliar dolar AS, dengan lebih dari 3 miliar dolar AS di antaranya dikabarkan telah mulai disalurkan. Sementara itu, dua sumber lain yang mengetahui rincian pembicaraan menyebut total nilai kesepakatan dapat mencapai 20 miliar dolar AS.
Salah satu sumber menyatakan bahwa tahap awal pencairan senilai 3 miliar dolar AS telah dipersiapkan sebagai bagian dari implementasi kesepakatan tersebut. Namun, laporan itu segera mendapat bantahan resmi dari Pemerintah UEA.
Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan bahwa tidak ada transfer maupun konversi dana kepada Republik Islam Iran sebagaimana diberitakan sejumlah media internasional.
“Uni Emirat Arab dengan tegas membantah laporan yang beredar mengenai transfer atau konversi dana apa pun dari UEA kepada Iran, termasuk klaim terkait dana sebesar 3 miliar dolar AS,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Pemerintah UEA juga menegaskan bahwa tidak ada aset atau dana Iran yang dibekukan yang telah dilepaskan, ditransfer, maupun dipindahkan melalui sistem keuangan negara tersebut. Abu Dhabi sekaligus mengimbau media internasional untuk mengedepankan akurasi dan mengacu pada sumber resmi sebelum mempublikasikan informasi yang belum terverifikasi.
Reuters menyebut belum dapat memastikan asal-usul dana yang dimaksud, termasuk apakah dana tersebut berasal dari rekening Iran yang selama ini dibekukan di perbankan UEA, aset lain yang berada di luar negeri, atau sumber pendanaan berbeda.
Meski membantah adanya transfer dana, seorang pejabat UEA yang dimintai tanggapan menegaskan bahwa kebijakan luar negeri negaranya tetap berfokus pada upaya deeskalasi konflik dan penciptaan stabilitas kawasan.
Menurut pejabat tersebut, UEA mendukung berbagai inisiatif diplomatik, termasuk yang dilakukan Amerika Serikat, guna melindungi masyarakat kawasan dari dampak berkepanjangan konflik bersenjata.
Laporan mengenai kemungkinan pencairan dana muncul bersamaan dengan fase akhir negosiasi yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat. Para diplomat yang mengikuti perkembangan pembicaraan menyebut salah satu agenda utama adalah pembahasan mengenai pelepasan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang selama ini dibekukan di sejumlah bank asing akibat sanksi Amerika Serikat.
Di Washington, Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya menegaskan bahwa aset Iran yang dibekukan tidak akan langsung dicairkan setelah tercapainya kesepakatan. Ia menjelaskan bahwa manfaat ekonomi bagi Teheran hanya akan diberikan secara bertahap apabila Iran memenuhi seluruh komitmen yang disepakati dalam perundingan.
Sementara itu, otoritas Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan mengenai pencairan dana maupun rincian kesepakatan yang disebut tengah dibahas.
Sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi menilai skema tersebut berpotensi menjadi jalan tengah bagi kedua pihak. Iran dapat mengklaim memperoleh kompensasi atas dampak perang yang terjadi, sementara Amerika Serikat tetap dapat mempertahankan posisinya bahwa tidak ada pembayaran langsung yang diberikan kepada Teheran.
Bagi UEA, kesepakatan tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena dapat memperkuat jaminan keamanan nasional sekaligus menjaga posisi Dubai sebagai pusat bisnis, logistik, dan transportasi internasional yang sempat terdampak akibat meningkatnya ketegangan regional.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Sumber lain yang mengetahui pembahasan tersebut mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari kesepakatan, Iran disebut akan menghentikan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap UEA. Selain itu, kedua negara juga dikabarkan tengah membahas pemulihan hubungan bilateral yang mencakup kerja sama ekonomi, pertukaran informasi intelijen, serta langkah-langkah pembangunan kepercayaan.
Sumber yang sama menyebut Iran telah melakukan pendekatan kepada sedikitnya dua negara Teluk lainnya guna menjajaki mekanisme serupa.
Serangan langsung terakhir yang diketahui dilakukan Iran terhadap UEA terjadi pada 4 Mei lalu, ketika fasilitas pelabuhan Fujairah di Teluk Oman menjadi sasaran serangan.
Perkembangan diplomatik tersebut disebut semakin cepat setelah sejumlah pejabat senior Garda Revolusi Iran melakukan kunjungan ke Abu Dhabi pekan lalu. Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu dengan Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, Penasihat Keamanan Nasional UEA sekaligus Wakil Penguasa Abu Dhabi.
Setelah pertemuan itu berlangsung, pejabat UEA dilaporkan melakukan perjalanan ke Teheran untuk membahas lebih lanjut rincian mekanisme yang tengah dirundingkan.
Selama bertahun-tahun, sistem perbankan Dubai menjadi salah satu lokasi penyimpanan dana dan aset yang terkait dengan Iran. Namun, sebagian besar dana tersebut tidak dapat diakses akibat sanksi Amerika Serikat yang membatasi hubungan lembaga keuangan internasional dengan entitas Iran yang masuk daftar hitam.
Pada April lalu, seorang sumber senior Iran juga pernah menyatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan di Qatar dan sejumlah negara lain. Namun klaim tersebut segera dibantah oleh pejabat Amerika Serikat.
Sumber Iran tersebut menyebut bahwa pembahasan mengenai pelepasan aset memiliki keterkaitan langsung dengan upaya menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar