PusakoNews.com, Tehran - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan klaim terkait insiden militer di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah menyerang tujuh kapal cepat milik Iran di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengamankan jalur pelayaran dan mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak. Operasi tersebut disebut sebagai “Proyek Kebebasan”, yang bertujuan membuka akses bagi kapal komersial yang tertahan sejak meningkatnya konflik pada Februari lalu.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz menunjukkan tidak adanya solusi militer atas krisis yang terjadi. Ia bahkan menyebut inisiatif AS tersebut sebagai “Proyek Kebuntuan”.
Fujairah adalah pelabuhan dan fasilitas penyimpanan minyak terbesar di UEA.Iran melalui media resminya membantah klaim serangan terhadap kapal cepat. Laporan dari kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa serangan justru menghantam dua kapal kargo kecil dan menyebabkan lima korban jiwa dari kalangan sipil.
Sementara itu, perusahaan pelayaran global Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapal berbendera AS miliknya berhasil keluar dari kawasan Teluk dengan pengawalan militer AS tanpa insiden. Kapal tersebut sebelumnya terjebak sejak eskalasi konflik pecah beberapa bulan lalu.
Selat Hormuz sendiri masih berada dalam kondisi terbatas sejak serangan udara yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari, yang dibalas Teheran dengan memblokade jalur tersebut. Padahal, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati perairan ini.
Di waktu yang hampir bersamaan, Uni Emirat Arab melaporkan serangan terhadap kapal tanker yang berafiliasi dengan perusahaan energi nasionalnya serta insiden kebakaran besar di pelabuhan minyak Fujairah. Otoritas setempat menyatakan sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, meskipun satu serangan tetap memicu kebakaran dan melukai tiga orang.
Serangan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai negara. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut tindakan itu tidak dapat dibenarkan, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan dukungan terhadap keamanan mitra di kawasan Teluk. Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan dan menghentikan blokade.
Kenaikan tensi geopolitik ini turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga melampaui USD 115 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan.
Hingga kini, ribuan kapal dan puluhan ribu pelaut dilaporkan masih tertahan di kawasan tersebut. Upaya internasional terus dilakukan untuk membuka kembali akses Selat Hormuz dan mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
[PusakoNews.com/red]
Komentar