"3 Bulan Terjebak di Selat Hormuz, Ribuan Pelaut Hidup di Bawah Ancaman Rudal dan Ranjau"
Krisis Selat Hormuz Makin Parah, 20.000 Pelaut Terjebak di Tengah Zona Perang
Iran membalas dengan melancarkan serangan di berbagai negara Teluk, termasuk Pelabuhan Jebel Ali di Uni Emirat Arab, setelah serangan AS-Israel.
Rangkuman Berita
Terjebak Berbulan-bulan di Laut, Pelaut Dunia Alami Stres Berat Akibat Konflik Iran-AS
Horor Selat Hormuz: Kapal Terdampar, Pelaut Tak Bisa Tidur karena Ancaman Serangan
Rudal, Ranjau, dan Ketidakpastian: Kisah Pilu Pelaut yang Terjebak di Hormuz
Sesuaikan Ukuran Baca
590
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Teluk Persia - Krisis keamanan yang berkepanjangan di kawasan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menimbulkan dampak serius terhadap industri pelayaran global. Sejak akhir Februari 2026, sekitar 20.000 pelaut yang bekerja di lebih dari 1.600 kapal dilaporkan masih terjebak di dalam kawasan Teluk setelah Iran menutup akses keluar masuk melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan energi dunia.
Bagi para awak kapal, situasi yang berlangsung selama berbulan-bulan itu tidak hanya memicu gangguan operasional, tetapi juga menciptakan tekanan psikologis yang semakin berat. Meski kondisi laut terkadang tampak tenang dan aktivitas di atas permukaan terlihat normal, para pelaut hidup dalam bayang-bayang ancaman rudal, ranjau laut, serta ketidakpastian kapan mereka dapat kembali ke rumah.
Seorang kapten kapal asal Pakistan yang menggunakan nama samaran Hassan Khan menggambarkan kondisi tersebut sebagai situasi yang sangat menguras mental. Menurutnya, suasana di atas kapal telah berubah drastis. Obrolan santai dan candaan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini berganti dengan keheningan, kecemasan, serta kewaspadaan yang terus-menerus.
Para awak kapal, kata Khan, mudah terkejut oleh suara sekecil apa pun. Bahkan saat beristirahat, mereka tetap dihantui kekhawatiran akan kemungkinan serangan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Stres terus menghantui pikiran kami setiap saat. Semua orang merasa kelelahan, baik secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Jalur Keluar Tertutup
Situasi semakin rumit karena Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur keluar dari kawasan Teluk menuju perairan internasional. Setelah konflik meletus, Iran menutup akses selat tersebut dan mewajibkan setiap kapal memperoleh izin khusus untuk melintas.
Kapten kapal Bangladesh, Shafiqul Islam, menggambarkan kondisi tersebut layaknya terjebak di dalam sebuah kolam tanpa jalan keluar.
“Kami hanya memiliki satu akses menuju laut lepas, yaitu Hormuz. Ketika jalur itu ditutup, kami tidak memiliki pilihan lain,” katanya.
Islam memimpin kapal Banglar Joyjatra yang membawa sekitar 37.000 ton pupuk menuju Afrika Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir, ia telah dua kali mencoba meninggalkan kawasan Teluk, namun kedua upaya tersebut gagal.
Setelah gencatan senjata diumumkan pada 8 April, sejumlah kapal dikabarkan memperoleh izin melintas dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Menanggapi informasi tersebut, Islam bersama empat kapal lain bergerak menuju selat. Namun mereka segera menerima peringatan untuk menghentikan perjalanan.
Kesempatan kedua muncul sembilan hari kemudian ketika Iran sempat menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka bagi kapal komersial sesuai kesepakatan gencatan senjata. Namun kebijakan itu tidak berlangsung lama. Teheran membatalkan keputusan tersebut setelah Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Saat pembatalan diumumkan, Banglar Joyjatra telah berada sekitar 30 mil laut dari Selat Hormuz. Kapal tersebut akhirnya terpaksa berbalik arah setelah menerima peringatan keamanan melalui radio komunikasi maritim.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Krisis Pasokan Mulai Mengancam
Kapten Islam dari Banglar Joyjatra (kedua dari kanan di barisan depan) dan kepala teknisi Rashedul Hasan (duduk di sebelah kiri kapten) merekam video untuk kru guna meningkatkan moral mereka.
Selain terhambatnya aktivitas pelayaran, para awak kapal kini menghadapi persoalan logistik yang semakin serius. Banyak kapal dipindahkan ke lokasi yang dianggap lebih aman atau berlabuh di perairan Teluk untuk menghindari risiko serangan.
Meskipun layanan pengiriman kebutuhan kapal masih tersedia dari sejumlah pusat logistik utama seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Kuwait, proses distribusi kini menjadi tidak menentu. Biaya operasional juga melonjak tajam.
Rashedul Hasan, Kepala Teknisi Banglar Joyjatra, mengungkapkan bahwa harga air bersih mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
Menurutnya, kapal mereka baru saja membeli sekitar 180 ton air dengan biaya mencapai 11.000 dolar AS. Sebelum konflik pecah, jumlah yang sama hanya membutuhkan dana sekitar 1.500 hingga 2.000 dolar AS.
Kenaikan harga tersebut dinilai tidak wajar oleh sebagian awak kapal. Seorang pelaut asal Korea Selatan yang enggan disebutkan namanya menilai beberapa pemasok memanfaatkan situasi darurat untuk memperoleh keuntungan berlebihan.
Kondisi ini diperkirakan akan semakin berat karena musim panas di kawasan Teluk segera mencapai puncaknya. Suhu udara yang saat ini telah melampaui 30 derajat Celsius berpotensi meningkat hingga sekitar 45 derajat Celsius dalam beberapa bulan mendatang.
Di kapal yang dipimpin Kapten Khan, persediaan makanan dan air masih tersedia. Namun kualitas serta variasi bahan pangan semakin terbatas. Produk seperti sayuran segar dan kacang-kacangan mulai sulit diperoleh, sementara pasokan daging masih dapat dipertahankan meski jumlahnya terbatas.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Hidup di Tengah Ancaman Serangan
Bagi banyak pelaut, ancaman terbesar bukanlah keterbatasan logistik, melainkan keselamatan jiwa.
Islam mengaku dirinya dan para awak kapal sebenarnya masih beruntung. Pada hari kedua konflik berlangsung, kapalnya berada hanya sekitar 200 meter dari Pelabuhan Jebel Ali di Dubai ketika kawasan tersebut menjadi sasaran serangan Iran.
Sejak saat itu, para awak kapal telah menyaksikan langsung berbagai serangan yang terjadi di sekitar mereka.
“Terkadang rudal melintas tepat di atas satu kapal, sementara puing-puingnya jatuh di dekat kapal lain,” kata Islam.
Hasan menambahkan bahwa serangan yang berlangsung sepanjang malam sering kali membuat seluruh awak kapal tidak dapat beristirahat.
“Kami menyaksikan sendiri kehancuran dan kengerian yang terjadi di sekitar kami,” ujarnya.
Kekhawatiran mereka bukan tanpa dasar. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat sedikitnya 39 insiden maritim terkait konflik yang telah diverifikasi. Dari jumlah tersebut, sedikitnya 11 pelaut dilaporkan tewas dan satu orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Meski ketegangan sempat menurun setelah gencatan senjata diumumkan, aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz masih berlangsung. Para pelaut terus melaporkan keberadaan drone, jet tempur, kapal perang, hingga kapal selam yang beroperasi di kawasan tersebut.
Seorang juru masak kapal tanker minyak asal Pakistan yang menggunakan nama samaran Sajid Masood mengaku sering melihat kapal militer menggunakan lampu sorot terang serta mengeluarkan pengumuman melalui pengeras suara.
Menurut informasi yang diterima dari kapten kapal, langkah tersebut dilakukan Iran untuk memastikan tidak ada kapal yang mencoba melintas tanpa izin.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Masa Depan Industri Pelayaran Dipertanyakan
Krisis yang berkepanjangan juga mulai memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan profesi pelaut. Banyak kontrak kerja awak kapal telah mendekati masa berakhir, sementara proses pergantian kru tidak dapat dilakukan akibat penutupan jalur pelayaran.
Perusahaan pelayaran menghadapi kerugian besar dan berupaya menekan biaya operasional, termasuk biaya tenaga kerja. Namun di sisi lain, keterbatasan rotasi awak kapal berpotensi memicu kekurangan personel ketika aktivitas pelayaran kembali normal.
Seorang pelaut Pakistan bernama samaran Kamil menilai konflik ini telah memperlihatkan secara nyata risiko besar yang dihadapi para pekerja sektor maritim.
Menurutnya, banyak pelaut kemungkinan akan mempertimbangkan kembali pilihan karier mereka setelah mengalami langsung dampak krisis tersebut.
Ia juga mengkhawatirkan kemungkinan jalur pelayaran internasional digunakan sebagai alat tekanan politik dalam konflik-konflik di masa mendatang.
Masood memiliki pandangan serupa. Dengan kontrak yang hanya tersisa satu bulan, ia mulai mempertanyakan kelanjutan kariernya sebagai pelaut. Namun untuk saat ini, harapan terbesarnya adalah dapat segera pulang ke Pakistan dan berkumpul kembali dengan keluarganya.
Ia telah berencana membawa oleh-oleh berupa boneka Barbie untuk putrinya dan pesawat mainan untuk putranya.
“Saya pikir akan segera pulang, tetapi kami masih terjebak di sini. Setiap hari keluarga bertanya kapan saya akan kembali, dan saya tidak memiliki jawaban,” katanya.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Diplomasi Menjadi Harapan Terakhir
Di tengah kebuntuan yang terjadi, diplomasi internasional menjadi satu-satunya harapan bagi banyak kapal yang masih terjebak.
Data perusahaan intelijen maritim Kpler menunjukkan sekitar 750 kapal berhasil melintasi Selat Hormuz sejak 28 Februari. Menurut analis CNA yang berbasis di Washington DC, Dr. Jonathan Schroden, keberhasilan tersebut diduga diperoleh melalui pendekatan diplomatik langsung kepada Iran, terutama oleh negara-negara seperti China, India, dan Pakistan.
Selain jalur diplomatik, beberapa pemilik kapal juga disebut harus mengeluarkan biaya hingga jutaan dolar AS untuk setiap kapal yang memperoleh izin melintas.
Bangladesh kini tengah mengupayakan langkah serupa guna membebaskan Banglar Joyjatra dari kawasan Teluk. Pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan Bangladesh Shipping Corporation (BSC) untuk memperoleh izin pelayaran dari otoritas terkait.
Namun upaya tersebut menghadapi hambatan baru. Direktur Pelaksana BSC, Komodor Mahmudul Malek, mengungkapkan bahwa Bangladesh sempat menyetujui pembayaran biaya yang diminta Iran sebagai syarat pelayaran. Akan tetapi rencana itu terpaksa dibatalkan setelah Amerika Serikat memperingatkan kemungkinan sanksi terhadap negara-negara yang melakukan pembayaran tersebut.
“Kami kini menghadapi krisis ganda,” ujar Malek.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Hingga saat ini, ribuan pelaut masih menunggu kepastian di tengah ketidakjelasan situasi geopolitik kawasan. Sementara negosiasi diplomatik terus berlangsung, mereka tetap bertahan di atas kapal dengan harapan sederhana: dapat kembali pulang dengan selamat kepada keluarga masing-masing. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar