"Konflik AS-Iran Memanas! Rudal dan Drone Hujani Pangkalan Militer, Selat Hormuz Jadi Sorotan"
Gencatan Senjata Gagal? AS Serang Iran, Teheran Langsung Balas dengan Rudal
AS dan Iran Kembali Berperang, Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata di Selat Hormuz
Rangkuman Berita
Gencatan Senjata Gagal? AS Serang Iran, Teheran Langsung Balas dengan Rudal
Selat Hormuz Kian Mencekam, AS dan Iran Saling Serang Usai Tuding Langgar Kesepakatan
Trump Ancam Iran Lagi, Konflik di Selat Hormuz Berpotensi Meledak
Sesuaikan Ukuran Baca
506
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Tehran - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan serta saling menuding melanggar kesepakatan gencatan senjata yang tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) 14 poin.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah melancarkan serangan terhadap 10 sasaran militer Iran di dalam dan sekitar Selat Hormuz sebagai respons atas serangan pesawat nirawak terhadap kapal tanker berbendera Panama, MT Kiku. Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, peralatan militer, dan jaringan komunikasi yang disebut terkait dengan ancaman terhadap pelayaran komersial.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku meluncurkan rudal balistik dan drone ke delapan sasaran yang berkaitan dengan militer AS, termasuk Pangkalan Ali Al-Salem di Kuwait dan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Meski demikian, seorang pejabat AS menyatakan tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan signifikan pada fasilitas militer AS.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Kedua pihak sama-sama mengklaim lawannya telah melanggar gencatan senjata. AS menilai Iran mengingkari komitmennya dengan menyerang kapal komersial, sementara Iran menuduh serangan militer AS merupakan pelanggaran serius terhadap MoU dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mengakhiri seluruh proses perdamaian.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS sebagai tindakan brutal yang mencerminkan tidak adanya komitmen Washington terhadap kesepakatan yang telah dicapai. Iran juga menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi di masa mendatang, termasuk terhadap sasaran berskala kecil.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui Truth Social menyatakan bahwa Iran "mungkin tidak akan pernah belajar" dan memperingatkan bahwa Washington dapat menuntaskan konflik secara militer apabila diperlukan.
Menyusul eskalasi tersebut, Kuwait dan Bahrain mengaktifkan sistem pertahanan udara masing-masing serta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Sementara itu, Centcom memastikan aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz masih terus berlangsung.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Ketegangan terbaru terjadi hanya sehari setelah AS melancarkan serangan balasan atas dugaan serangan drone Iran terhadap kapal kargo berbendera Singapura, MV Ever Lovely, pada 25 Juni. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kapal itu melintasi jalur yang tidak sah.
AS dan Iran sebelumnya menyepakati penghentian permusuhan pada 17 Juni melalui MoU yang juga mewajibkan Iran menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz selama 60 hari. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi global serta menghambat distribusi berbagai komoditas penting.
Meski pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz masih berlangsung, termasuk melalui pertemuan Iran dan Oman di Muscat, situasi keamanan di kawasan tetap menjadi perhatian internasional menyusul meningkatnya risiko eskalasi militer di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar