"Gencatan Senjata Disepakati, Israel dan Hizbullah Tetap Saling Serang di Lebanon"
Trump Turun Tangan, Konflik Israel-Hizbullah di Lebanon Belum Juga Mereda
Serangan Israel terhadap kota Tyre di Lebanon selatan pada hari Senin menyebabkan kerusakan pada rumah sakit Jabal Amel dan menghancurkan sebuah bangunan di dekatnya
Rangkuman Berita
Meski Ada Kesepakatan Damai, Lebanon Selatan Masih Diguncang Ledakan
Netanyahu Ancam Terus Serang Beirut Jika Hizbullah Tak Berhenti
Hizbullah dan Israel Sepakat Gencatan Senjata, Tapi Roket Masih Berjatuhan
Sesuaikan Ukuran Baca
652
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Tyre (Sour) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah bentrokan bersenjata antara Israel dan Hizbullah terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan, meskipun kedua pihak telah menyatakan menerima proposal gencatan senjata parsial yang dimediasi Amerika Serikat.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa kesepakatan penghentian sementara serangan belum sepenuhnya efektif menghentikan aksi militer di kedua sisi perbatasan. Serangan roket, tembakan artileri, serta operasi militer terbatas masih dilaporkan terjadi dalam beberapa jam terakhir.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin menyampaikan bahwa dirinya telah melakukan komunikasi langsung dengan pihak Israel maupun perwakilan Hizbullah. Menurut Trump, kedua pihak pada prinsipnya menyepakati penghentian seluruh aksi penembakan.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran Iran terhadap operasi militer Israel di Lebanon yang dinilai dapat mengancam stabilitas gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Pemerintah Lebanon menyebut Hizbullah telah menerima proposal yang mengatur penghentian serangan terhadap wilayah Israel, dengan syarat Israel juga menghentikan serangan udara terhadap ibu kota Lebanon, Beirut.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut mengonfirmasi adanya kesepakatan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa Israel tetap akan melanjutkan operasi terhadap target-target tertentu apabila Hizbullah masih melakukan serangan terhadap wilayah dan warga sipil Israel.
Netanyahu juga menekankan bahwa pasukan Israel akan tetap beroperasi di Lebanon selatan demi menjaga keamanan perbatasan.
Meski upaya de-eskalasi mulai dijalankan, situasi keamanan di wilayah konflik masih sangat rapuh. Hizbullah mengklaim telah menyerang tank-tank Israel di kawasan Haddatha dan Bayada menggunakan rudal serta peluru artileri.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan berhasil mencegat dua proyektil yang diluncurkan dari Lebanon pada Selasa dini hari. Tidak ada laporan korban jiwa akibat insiden tersebut.
Media pemerintah Lebanon juga melaporkan serangan udara Israel di sejumlah wilayah selatan negara itu. Ledakan besar disebut mengguncang kota Debbine akibat penghancuran berskala luas yang terjadi di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Israel mengaku melancarkan serangan terhadap target yang disebut sebagai fasilitas teror di pinggiran selatan Beirut. Operasi itu dilakukan sebagai respons atas peluncuran roket dan drone Hizbullah yang didukung Iran.
Aksi militer Israel kemudian memicu respons keras dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat seharusnya mencakup seluruh front konflik, termasuk Lebanon.
Menurutnya, pelanggaran di satu wilayah sama artinya dengan pelanggaran terhadap keseluruhan kesepakatan gencatan senjata.
Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan melaporkan bahwa Teheran mempertimbangkan untuk menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat sebagai respons atas aksi militer Israel di Lebanon.
Laporan tersebut juga menyebut Iran dan kelompok sekutunya berpotensi membuka front baru konflik, termasuk di kawasan strategis Selat Bab al-Mandab yang menjadi jalur penting pelayaran internasional di Laut Merah.
Namun demikian, Presiden Trump menegaskan bahwa proses diplomasi dengan Iran tetap berjalan positif dan berlangsung cepat. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyatakan telah berbicara langsung dengan Netanyahu serta perwakilan Hizbullah guna memastikan tidak ada eskalasi tambahan di Beirut.
Trump mengatakan pasukan Israel yang sebelumnya disebut bergerak menuju Beirut telah dipulangkan dan tidak akan ada operasi baru di ibu kota Lebanon tersebut.
Konflik Lebanon kembali memanas sejak 2 Maret lalu setelah Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas operasi Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon serta operasi darat di bagian selatan negara itu. Intensitas konflik meningkat dalam beberapa pekan terakhir meski serangan terhadap Beirut mulai berkurang dibanding sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 3.433 orang tewas sejak perang pecah. Korban tersebut mencakup berbagai pihak, meskipun data resmi tidak memisahkan antara kombatan dan warga sipil.
Sementara itu, Israel melaporkan sedikitnya 25 tentaranya serta empat warga sipil tewas akibat konflik di kawasan perbatasan.
Amerika Serikat terus berupaya memisahkan konflik Lebanon dari proses negosiasi nuklir dan keamanan dengan Iran. Washington diketahui mendorong terciptanya de-eskalasi bertahap guna mencegah perang regional yang lebih luas.
Pada Minggu lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah menawarkan skema penurunan tensi secara bertahap kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Meski demikian, kesepakatan damai permanen hingga kini belum tercapai. Gencatan senjata antara AS dan Iran yang mulai berlaku sejak 8 April juga belum mampu menghentikan seluruh rangkaian pertempuran di kawasan.
Ketidakpastian situasi keamanan di Timur Tengah turut berdampak terhadap pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir lima dolar AS per barel sebelum sedikit terkoreksi.
Kenaikan harga energi dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak dunia, terutama setelah konflik mengancam jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi lintasan utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Hingga kini, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi di Lebanon, Israel, dan Iran di tengah kekhawatiran meluasnya konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan maupun ekonomi global. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar