"Dokter Palestina Tewas dalam Serangan Israel di Gaza, Korban Sipil Terus Bertambah"
Gaza Kembali Berdarah, Serangan Israel Tewaskan Dokter dan Warga Sipil
Para pelayat berdoa di pemakaman Dr. Jamal Abu Aoun, seorang warga Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah
Rangkuman Berita
Israel Gempur Gaza Saat Iduladha, Dokter Senior Palestina Jadi Korban
Serangan Drone Israel di Gaza Tewaskan Dokter, Dunia Internasional Soroti Eskalasi Konflik
Tragedi Iduladha di Gaza: Dokter Palestina dan Warga Sipil Tewas Dibombardir Israel
Sesuaikan Ukuran Baca
540
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Gaza - Situasi kemanusiaan di wilayah Palestina kembali memanas di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Jalur Gaza dan meningkatnya aksi kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki. Sedikitnya dua warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk seorang dokter senior, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi pada Sabtu, bertepatan dengan hari keempat perayaan Iduladha.
Korban tewas pertama diketahui bernama Dr. Jamal Abu Aboun, Kepala Departemen Anestesi di Rumah Sakit Medis Al-Yafa, Deir al-Balah, Gaza tengah. Ia meninggal dunia setelah serangan pesawat nirawak Israel menghantam area di sekitar Rumah Sakit Martir Al-Aqsa.
Sumber medis di Rumah Sakit Al-Aqsa menyebutkan bahwa selain menewaskan Dr. Jamal, serangan tersebut juga menyebabkan tiga warga lainnya mengalami luka-luka, termasuk seorang anak-anak. Seluruh korban segera dievakuasi ke fasilitas medis terdekat untuk mendapatkan penanganan darurat.
Pada hari yang sama, artileri Israel juga dilaporkan menggempur sejumlah wilayah di sebelah timur dan selatan Khan Younis, Gaza selatan. Serangan lain turut menghantam kawasan kamp pengungsi Al-Bureij di Gaza tengah, memperparah situasi keamanan dan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Tidak lama berselang, serangan pesawat nirawak Israel kembali terjadi di dekat Pasar Firas, salah satu pusat aktivitas perdagangan tersibuk di Kota Gaza. Serangan itu menewaskan satu warga Palestina lainnya dan menyebabkan sejumlah korban luka.
Di wilayah Gaza utara, pasukan Israel disebut terus melakukan penghancuran terhadap bangunan permukiman di kawasan timur Beit Lahiya. Aksi tersebut menambah luas kerusakan infrastruktur sipil yang selama berbulan-bulan menjadi sasaran serangan di wilayah kantong Palestina itu.
Kantor Media Gaza mencatat, sejak diberlakukannya “gencatan senjata” pada Oktober lalu, sedikitnya 922 warga Palestina telah kehilangan nyawa dan 2.786 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang masih terus berlangsung.
Sementara itu, data otoritas Palestina menyebutkan bahwa sejak dimulainya agresi militer Israel pada Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dan sekitar 172.000 lainnya mengalami luka-luka di Jalur Gaza.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Di tengah situasi tersebut, laporan terbaru yang dimuat Associated Press mengungkap kesaksian sejumlah tentara Israel yang menggambarkan adanya praktik penggunaan kekuatan berlebihan selama operasi militer di Gaza. Beberapa prajurit cadangan yang bertugas antara Oktober hingga Januari mengaku pasukan kerap melepaskan tembakan terhadap warga Palestina yang mendekati wilayah yang disebut sebagai “Garis Kuning”, batas pemisah yang disebut tidak memiliki penanda jelas di lapangan.
Salah seorang tentara menyebutkan bahwa sejumlah anggota pasukan bahkan merayakan serangan terhadap kendaraan sipil Palestina yang menewaskan seluruh penumpangnya. Ia menggambarkan situasi di lapangan sebagai kondisi tanpa kendali kemanusiaan.
Tentara lainnya mengungkap bahwa para komandan terus menekankan pentingnya mempertahankan wilayah dengan segala cara. Menurutnya, terdapat pandangan yang berkembang di lapangan bahwa nyawa manusia dianggap tidak lagi memiliki nilai.
Selain di Gaza, ketegangan juga meningkat di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kelompok pemukim Israel dilaporkan menyerang sejumlah rumah warga Palestina di Kota Beita, selatan Nablus, pada Sabtu pagi.
Menurut laporan media Palestina, para pemukim melempari rumah-rumah warga menggunakan batu dan merusak sejumlah kendaraan milik penduduk setempat. Dalam insiden tersebut, pasukan Israel juga dilaporkan menembakkan bom ringan ke udara di atas wilayah kota.
Di wilayah selatan Tepi Barat, tepatnya di Khirbet el-Muraq, Masafer Yatta, para pemukim turut melakukan perusakan terhadap lahan pertanian Palestina serta merusak sejumlah pohon milik warga.
Aktivis lokal yang memantau pelanggaran di wilayah Hebron selatan menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari peningkatan tekanan terhadap warga Palestina di kawasan pedesaan yang selama ini menjadi sasaran perluasan permukiman Israel.
Berdasarkan laporan bulanan Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina, sedikitnya 540 serangan dilakukan pemukim Israel sepanjang April lalu terhadap warga Palestina dan properti mereka di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.
Serangan tersebut mencakup berbagai tindakan, mulai dari kekerasan fisik, pembakaran lahan pertanian, pencabutan pohon, penghalangan akses petani ke tanah mereka, hingga penghancuran rumah dan bangunan pertanian.
Sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023, intensitas penggerebekan militer Israel, penangkapan, serta aksi kekerasan pemukim di Tepi Barat terus meningkat secara signifikan.
Data Palestina mencatat, sebanyak 1.168 warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak Oktober 2023. Selain itu, 12.666 orang mengalami luka-luka, sekitar 33.000 warga terpaksa mengungsi, dan hampir 23.000 lainnya ditahan oleh pasukan Israel.
Situasi di Gaza dan Tepi Barat hingga kini masih memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap memburuknya kondisi kemanusiaan serta meningkatnya eskalasi konflik di wilayah Palestina. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar