"Pendaki Malaysia Jatuh di Jalur Puncak Rinjani, Evakuasi Dramatis Terkendala Kabut Tebal"
Evakuasi Dramatis Pendaki Asal Malaysia di Jalur Puncak Rinjani Berhasil Dilakukan, Operasi Terkendala Kabut Tebal
Seorang turis perempuan asal Malaysia bernama Chye Connsynn berhasil dievakuasi menggunakan helikopter dari Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (26/5/2026)
Rangkuman Berita
Momen Menegangkan Evakuasi Pendaki Malaysia di Rinjani, Helikopter Sempat Gagal Mendarat
Kabut Tebal Hambat Penyelamatan Pendaki Malaysia di Gunung Rinjani
Evakuasi Dramatis di Rinjani! Pendaki Malaysia Cedera Parah Usai Terjatuh
Sesuaikan Ukuran Baca
652
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Kabupaten Lombok Timur - Upaya penyelamatan terhadap seorang pendaki perempuan asal Malaysia yang mengalami kecelakaan saat menuruni jalur pendakian Gunung Rinjani akhirnya berhasil dilaksanakan melalui evakuasi udara menggunakan helikopter pada Selasa pagi, 26 Mei 2026. Operasi penyelamatan tersebut berlangsung dramatis lantaran sempat tertunda akibat cuaca buruk dan kabut tebal yang menyelimuti kawasan pegunungan.
Korban diketahui bernama Chye Connsynn (41), warga negara Malaysia, yang mengalami insiden terjatuh ketika menuruni jalur dari puncak Gunung Rinjani menuju area Pelawangan 2 Sembalun pada Senin sore, 25 Mei 2026. Berdasarkan laporan awal dari porter dan pemandu pendakian, korban mengalami cedera serius pada bagian tulang belakang dan tulang ekor sehingga tidak mampu berdiri maupun menggerakkan tubuh secara normal.
Laporan kejadian diterima petugas sekitar pukul 15.00 hingga 15.39 WITA. Setelah menerima informasi tersebut, tim gabungan yang terdiri dari Kantor SAR Mataram, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tenaga medis, porter, guide, serta sejumlah unsur penyelamat lainnya langsung bergerak menuju lokasi korban untuk melakukan penanganan awal.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Dalam kondisi medan yang berat dan cuaca pegunungan yang tidak menentu, porter dan guide disebut menjadi pihak pertama yang memberikan pertolongan dengan mengevakuasi korban secara manual menuju tenda di Pelawangan 2. Langkah cepat tersebut dilakukan guna menjaga keselamatan korban sambil menunggu proses evakuasi udara dipersiapkan.
Tim medis dari Edelweis Medical Health Centre (EMHC) bersama Nusa Medika kemudian melakukan asesmen terhadap kondisi korban. Berdasarkan rekomendasi medis, korban diputuskan untuk tidak dipindahkan terlalu jauh demi menjaga stabilitas tubuhnya sambil menunggu helikopter penyelamat tiba di lokasi.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Helikopter milik PT SGi Air Bali awalnya diberangkatkan dari Denpasar, Bali, pada Senin sore untuk melakukan evakuasi medis udara. Namun setibanya di kawasan Pelawangan 2 Sembalun, kru penerbangan menghadapi tantangan serius berupa kabut tebal yang mengganggu jarak pandang pilot. Helikopter sempat beberapa kali melakukan manuver untuk mencari celah pendaratan, tetapi kondisi cuaca dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan penerbangan.
Akibat kondisi tersebut, pilot akhirnya memutuskan kembali ke Bali demi menghindari potensi kecelakaan udara. Penundaan evakuasi dilakukan sebagai langkah prioritas keselamatan bagi seluruh tim penyelamat maupun korban di lapangan. Kepala Kantor SAR Mataram selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhamad Hariyadi, menegaskan bahwa faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam operasi penyelamatan tersebut.
Sepanjang malam, korban tetap berada dalam pengawasan intensif tim medis dan petugas SAR gabungan di area gunung. Tim penyelamat juga terus memantau perkembangan cuaca guna menentukan waktu terbaik untuk melanjutkan proses evakuasi udara.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Kondisi cuaca yang mulai membaik pada Selasa pagi akhirnya membuka peluang bagi tim penyelamat untuk kembali menjalankan operasi evakuasi. Helikopter PT SGi Air Bali lepas landas dari Lapangan Sembalun sekitar pukul 08.05 WITA menuju titik lokasi korban di Pelawangan 2.
Setelah seluruh persiapan dinyatakan aman, korban berhasil dipindahkan ke dalam helikopter dan diterbangkan menuju Bali sekitar pukul 08.17 WITA. Helikopter kemudian mendarat di helipad Benoa, Bali, sekitar pukul 09.05 WITA sebelum korban segera dirujuk ke Rumah Sakit Inmedika Sanur untuk menjalani penanganan medis lebih lanjut.
Keberhasilan operasi penyelamatan ini disebut sebagai hasil sinergi berbagai unsur yang terlibat, mulai dari Kantor SAR Mataram, Kantor SAR Denpasar, Balai TNGR, tim medis, BPBD Lombok Timur, EMHC, porter, guide, hingga kru helikopter yang bekerja dalam kondisi penuh risiko di kawasan pegunungan.
Peristiwa tersebut kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas pendakian di Gunung Rinjani, terutama saat cuaca ekstrem melanda kawasan pegunungan. Para pendaki diimbau untuk selalu memperhatikan kondisi fisik, perlengkapan keselamatan, serta perkembangan cuaca sebelum melakukan pendakian guna meminimalkan potensi kecelakaan di jalur ekstrem. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar