PusakoNews.com, Jakarta - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri memastikan peristiwa pemadaman listrik massal atau blackout yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera bukan disebabkan oleh aksi sabotase maupun unsur kesengajaan. Kepastian tersebut disampaikan setelah tim penyelidik melakukan serangkaian pemeriksaan awal terhadap jaringan transmisi listrik yang mengalami gangguan.
Wakil Kepala Bareskrim Polri, Irjen Pol Nunung Syaifuddin, menegaskan bahwa hingga saat ini penyidik belum menemukan indikasi adanya tindakan kriminal dalam insiden yang menyebabkan lumpuhnya pasokan listrik di berbagai daerah di Sumatera tersebut. Berdasarkan hasil investigasi sementara, gangguan diduga kuat dipicu oleh faktor teknis yang diperparah kondisi cuaca ekstrem.
Menurut Nunung, proses penyelidikan masih terus berlangsung dengan melibatkan Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter), Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri, serta tim teknis dari PT PLN (Persero). Tim gabungan telah melakukan pengecekan langsung di lokasi putusnya jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) di wilayah Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.
Dari hasil pemeriksaan lapangan, ditemukan konduktor atau kabel transmisi dalam kondisi putus. Potongan kabel tersebut kemudian diamankan sebagai barang bukti untuk dilakukan pengujian laboratorium secara menyeluruh guna memastikan penyebab utama kerusakan jaringan.
Penyidik menduga terdapat sejumlah faktor teknis yang memicu terjadinya gangguan pada sistem transmisi backbone kelistrikan Sumatera. Di antaranya adalah faktor mekanik akibat gesekan kabel yang dipicu tekanan angin kencang, faktor panas karena adanya rongga atau sambungan longgar pada kabel, hingga faktor tarikan atau guncangan kuat akibat cuaca buruk yang melanda wilayah tersebut.

Selain itu, kondisi cuaca ekstrem disebut menjadi salah satu pemicu utama terganggunya sistem transmisi listrik 275 kV yang menghubungkan Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Provinsi Jambi. Gangguan pada jalur utama tersebut kemudian memicu efek domino terhadap sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera sehingga menyebabkan blackout di sejumlah provinsi.
Pemadaman massal yang terjadi sejak Jumat malam (22/5/2026) berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat. Sejumlah kota besar di Sumatera dilaporkan mengalami kondisi gelap total setelah lampu penerangan jalan umum dan lampu lalu lintas tidak berfungsi. Aktivitas perkantoran, pusat perbelanjaan, jaringan komunikasi hingga layanan ATM sempat terganggu akibat terputusnya pasokan listrik.
Di Kota Medan, misalnya, sejumlah ruas jalan protokol seperti Jalan Balai Kota, Jalan Guru Patimpus, Jalan Gatot Subroto, Jalan Gajah Mada hingga Jalan S. Parman sempat gelap gulita. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Aceh, hingga daerah lain yang terhubung dalam sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera.
PT PLN (Persero) bergerak cepat melakukan pemulihan sistem dengan mengerahkan ratusan personel teknis di berbagai titik gangguan. Upaya penormalan dilakukan secara bertahap agar sistem kelistrikan kembali stabil dan aman dioperasikan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, sebelumnya menjelaskan bahwa gangguan awal diduga berasal dari jaringan transmisi utama yang terdampak cuaca ekstrem. Saat jalur transmisi mengalami gangguan, beberapa pembangkit mengalami kelebihan daya sehingga sistem pengaman otomatis bekerja dan menyebabkan sejumlah pembangkit keluar dari jaringan secara bersamaan.
Akibat kondisi tersebut, gangguan meluas secara cepat dan memicu blackout pada sebagian besar wilayah Sumatera. Meski demikian, PLN memastikan proses pemulihan terus berjalan dan sebagian besar sistem kelistrikan berhasil kembali normal dalam waktu relatif singkat.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta PLN melakukan penguatan terhadap sistem backbone kelistrikan Sumatera guna mencegah gangguan serupa terulang di masa mendatang. Pemerintah juga mendorong peningkatan keandalan jaringan transmisi dan penyediaan pembangkit cadangan untuk mempercepat pemulihan apabila terjadi gangguan besar pada sistem interkoneksi nasional.
Bareskrim Polri mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, termasuk narasi menyesatkan terkait dugaan sabotase. Kepolisian memastikan investigasi dilakukan secara profesional, transparan, dan berbasis pembuktian ilmiah melalui pengujian laboratorium terhadap seluruh barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian.
Hingga kini, proses pendalaman masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti putusnya konduktor yang menjadi titik awal blackout massal tersebut. Namun dari hasil penyelidikan awal, aparat memastikan tidak ditemukan indikasi unsur kesengajaan manusia maupun tindakan sabotase dalam insiden blackout yang sempat melumpuhkan pasokan listrik di sejumlah wilayah Sumatera itu.
[PusakoNews.com/red]








Komentar