PusakoNews.com, Teheran - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah serangkaian serangan terjadi di sejumlah titik strategis kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memperbesar kekhawatiran akan meluasnya konflik, terlebih setelah Teheran menolak proposal Oman terkait mekanisme pengawasan dan pengelolaan bersama atas Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu merilis rekaman yang disebut memperlihatkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada malam sebelumnya. IRGC menyatakan serangan tersebut merupakan respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai tindakan agresif terhadap Iran dan kepentingannya di kawasan.
Pemerintah Yordania menyatakan lima rudal balistik yang diluncurkan dalam serangan tersebut berhasil dicegat. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons keras insiden itu dengan memperingatkan bahwa pasukan AS dapat melakukan serangan besar terhadap Iran.
Dalam pernyataannya kepada Fox News, Trump mengatakan Iran akan menghadapi konsekuensi berat. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan langkah tambahan terhadap kelompok-kelompok yang memiliki hubungan dengan Teheran di kawasan, termasuk kelompok yang berada di Irak.
Ketegangan juga terjadi di wilayah Iran. Otoritas setempat pada Rabu sore melaporkan sebuah rudal menghantam kawasan perbatasan di Provinsi Azerbaijan Barat. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Iran Tantang AS di Selat Hormuz, Ancaman Perang Besar di Timur Tengah Kian Nyata
"Konflik Iran-AS Memanas, Serangkaian Serangan Baru Picu Kekhawatiran Eskalasi Regional"
Pada waktu yang hampir bersamaan, Israel menyatakan sebuah pesawat nirawak atau drone yang diluncurkan oleh Hizbullah, kelompok Lebanon yang didukung Iran, menargetkan kendaraan militer Israel di wilayah Lebanon selatan yang masih berada di bawah pendudukan Israel.
Di kawasan lain, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Teheran di Yaman dilaporkan melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi serta kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Saudi di kawasan Selat Bab al-Mandeb.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Arab Saudi pada Rabu melancarkan serangan gabungan terhadap kelompok yang bersekutu dengan Iran di Irak. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 pejuang.
Iran Tolak Proposal Oman soal Selat Hormuz
Persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama yang semakin memperumit upaya diplomatik untuk meredakan konflik.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, pada Selasa malam menyampaikan bahwa Teheran tidak menerima proposal Oman yang menawarkan pembagian pengelolaan Selat Hormuz secara 50-50.
Dalam keterangannya kepada televisi pemerintah Iran, Gharibabadi juga menegaskan bahwa Teheran tidak bersedia mengakui rute selatan yang didukung Amerika Serikat di sekitar negara-negara Teluk. Iran juga menolak opsi rute ketiga yang muncul dalam proposal tersebut.
Selain itu, Teheran menentang rencana operasi pembersihan ranjau di jalur strategis tersebut oleh kekuatan asing.
Sikap keras Iran muncul di tengah meningkatnya upaya mediator regional untuk mencari jalan keluar diplomatik dari perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dimulai pada 28 Februari. Meski berbagai jalur komunikasi masih didorong, perkembangan militer terbaru menunjukkan ruang negosiasi langsung masih sangat terbatas.
Pemerintah Iran menilai Amerika Serikat telah melakukan tindakan agresif melalui pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah selatan Iran. Teheran juga menuduh Washington tidak memenuhi sejumlah komitmen yang sebelumnya tercantum dalam nota kesepahaman yang disepakati pada Juni.
Menurut Iran, komitmen tersebut antara lain berkaitan dengan pembukaan jalur selatan di sekitar Oman, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta kesepakatan dengan pemerintah Lebanon yang memungkinkan Israel mempertahankan pendudukan di wilayah Lebanon hingga Hizbullah dilucuti.
Kegagalan kesepakatan tersebut dinilai semakin memperkuat pandangan di kalangan elite politik dan militer Iran bahwa Teheran tidak boleh memberikan konsesi dalam isu-isu strategis, terutama menyangkut Selat Hormuz.
Ancaman Konflik Baru Dinilai Semakin Dekat
Peneliti kebijakan senior sekaligus Wakil Kepala Program Timur Tengah dan Afrika Utara di European Council on Foreign Relations (ECFR), Ellie Geranmayeh, menilai penolakan Iran terhadap proposal Oman perlu dilihat dalam konteks meningkatnya kekhawatiran di Teheran terhadap kemungkinan serangan besar Amerika Serikat berikutnya.
Menurut Geranmayeh, Iran masih mempertimbangkan kemungkinan tercapainya kesepakatan jangka panjang dengan pemerintahan Donald Trump. Namun, perubahan kebijakan Washington yang dinilai berlangsung cepat dan tidak terduga membuat proses tersebut semakin kompleks.
Ia mencontohkan keterkaitan antara kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi dan kemungkinan normalisasi hubungan Saudi-Israel sebagai salah satu faktor yang turut memperumit situasi.
Geranmayeh menilai sikap Iran terhadap Selat Hormuz juga berkaitan dengan keyakinan yang semakin berkembang di kalangan pengambil keputusan Iran bahwa serangan udara berskala besar oleh Amerika Serikat dapat kembali terjadi.
Menurutnya, Teheran kini memperkeras posisinya dalam sejumlah persoalan utama, termasuk masa depan program nuklir Iran dan kemungkinan kembali dilakukannya inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Dalam situasi tersebut, Iran dinilai berusaha menunjukkan konsekuensi yang mungkin muncul apabila Amerika Serikat kembali melancarkan operasi militer secara luas di wilayah Iran, termasuk terhadap ibu kota Teheran.
Geranmayeh memperingatkan bahwa apabila konflik kembali memasuki fase pemboman besar-besaran, dampaknya berpotensi jauh lebih luas dan merusak, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi negara-negara lain di kawasan.
Iran Perketat Akses Selat Hormuz
Pemerintah Iran menegaskan bahwa kondisi Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Teheran menilai akses bebas tanpa hambatan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut tidak dapat diberlakukan dalam kondisi keamanan saat ini.
Selama konflik berlangsung, Iran menggunakan alasan keamanan nasional untuk membatasi akses melalui koridor selatan. Teheran khawatir jalur yang berada di luar kendali efektif Iran dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat maupun Israel.
Gharibabadi menjelaskan bahwa rancangan Iran mencakup pengawasan terhadap seluruh lalu lintas kapal yang memasuki kawasan melalui rute di dalam perairan Iran. Sebagian jalur keluar juga akan berada di bawah pengawasan Teheran, sementara Oman disebut berpotensi mengelola bagian lainnya.
Namun, rincian mengenai pembagian wilayah pengawasan maupun koordinat rute tersebut belum diumumkan secara terbuka.
Iran menegaskan bahwa pengawasan terhadap lalu lintas kapal dari kedua arah dimaksudkan sebagai langkah pertahanan, bukan sebagai upaya untuk mengklaim kedaulatan atas wilayah Oman.
Teheran bahkan memperingatkan bahwa apabila rute yang mereka usulkan tidak diterima, tidak akan ada formula alternatif yang dapat disepakati. Iran juga menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan dimulainya kembali perang.
Peringatan tersebut turut diarahkan terhadap rencana operasi internasional untuk membersihkan ranjau di Selat Hormuz. Gharibabadi merujuk pada inisiatif Inggris dan Prancis yang melibatkan 34 negara untuk melakukan operasi pembersihan ranjau di kawasan tersebut.
Iran menyatakan setiap kapal perang, peralatan militer, maupun kapal asing yang berupaya menjalankan operasi tersebut tanpa persetujuan Teheran dapat dianggap sebagai sasaran yang sah.
Ketegangan Menjalar ke Laut Kaspia
Di tengah konflik yang terus berkembang, Iran juga menghadapi persoalan baru di Laut Kaspia. Militer Ukraina dilaporkan menyerang sebuah kapal di kawasan pesisir utara Iran. Insiden tersebut disebut menewaskan satu orang dan menyebabkan beberapa lainnya mengalami luka.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan serangan itu ditujukan terhadap kapal kargo militer yang diduga berangkat dari Rusia. Rusia sendiri diketahui melancarkan invasi skala penuh terhadap Ukraina sejak 2022.
Namun, pemerintah Iran membantah bahwa kapal tersebut merupakan kapal militer. Teheran menyatakan kapal yang menjadi sasaran merupakan kapal komersial yang mengangkut besi.
Media lokal Iran mengidentifikasi korban meninggal sebagai Nima Moradi, pria berusia 23 tahun yang disebut sedang menjalani perjalanan pertamanya dalam aktivitas perdagangan melalui jalur laut yang selama ini dianggap relatif aman.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa mengatakan melalui media sosial bahwa dirinya telah memperoleh jaminan dari Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha bahwa serangan tersebut tidak disengaja.
Meski demikian, Araghchi dilaporkan menyampaikan kepada Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas bahwa Ukraina tetap harus bertanggung jawab atas insiden tersebut dan menghadapi konsekuensi yang timbul.
Geranmayeh menilai Iran kini tengah mempertimbangkan bagaimana merespons insiden tersebut tanpa membuka front konflik baru dengan negara-negara Eropa.
Di Teheran, muncul pembahasan mengenai kemungkinan bahwa serangan Ukraina tersebut merupakan langkah yang diperhitungkan untuk membuka medan konflik baru antara Iran dan Eropa.
Namun, Iran disebut berhati-hati dalam menentukan bentuk respons. Teheran diperkirakan tidak ingin tindakan balasan justru mendorong Inggris atau Jerman untuk terlibat lebih jauh dalam operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Menurut Geranmayeh, Iran juga memiliki kepentingan untuk mencegah perang di Ukraina dan konflik di Iran berkembang menjadi satu rangkaian konflik yang saling terhubung. Apabila kedua medan konflik tersebut bertemu, proses pencarian penyelesaian diplomatik akan menjadi jauh lebih sulit.
Konflik Regional Berada di Titik Rawan
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa konflik Iran-AS dan Israel tidak lagi terbatas pada satu medan pertempuran. Serangan di Yordania, aktivitas kelompok yang berafiliasi dengan Iran di Yaman dan Lebanon, operasi militer di Irak, ketegangan di Selat Hormuz, hingga insiden di Laut Kaspia menunjukkan semakin luasnya dimensi konflik.
Di tengah kondisi tersebut, upaya diplomatik negara-negara kawasan masih menghadapi tantangan besar. Penolakan Iran terhadap formula pengelolaan Selat Hormuz yang ditawarkan Oman menjadi salah satu indikator bahwa persoalan keamanan dan kedaulatan masih menjadi garis merah bagi Teheran.
Sementara itu, ancaman serangan lanjutan dari Amerika Serikat dan meningkatnya aktivitas kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran memperbesar risiko terjadinya babak baru konflik.
Dengan semakin banyaknya aktor yang terlibat dan meluasnya wilayah yang terdampak, setiap serangan maupun tindakan balasan berpotensi memicu rangkaian eskalasi baru yang sulit dikendalikan.
[PusakoNews.com/red]












Komentar