"Trump Ultimatum Arab Saudi: Akui Israel atau Kesepakatan Nuklir Batal!"
Kesepakatan Nuklir AS-Arab Saudi Terancam Gagal, Trump Pasang Syarat Berat
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS)
Sesuaikan Ukuran Baca
593
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi hanya akan dilanjutkan apabila Riyadh bersedia menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui Kesepakatan Abraham.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa perjanjian nuklir tersebut sepenuhnya ditujukan untuk penggunaan damai tanpa mengizinkan pengayaan material nuklir. Namun, ia menegaskan persetujuan akhir terhadap kesepakatan itu bergantung pada keputusan Arab Saudi bergabung dalam Kesepakatan Abraham.
Hingga kini belum diketahui apakah syarat tersebut secara resmi tercantum dalam naskah perjanjian yang belum dipublikasikan. Pemerintah Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan atas pernyataan Trump.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump telah beberapa kali menyampaikan syarat tersebut kepada para pemimpin Saudi. Menurutnya, Presiden AS secara konsisten menyatakan bahwa kesepakatan nuklir tidak akan berlaku apabila Riyadh menolak bergabung dalam Kesepakatan Abraham.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Trump Kunci Kerja Sama Nuklir Arab Saudi dengan Syarat Akui Israel
Pernyataan Trump memicu kembali perdebatan mengenai potensi risiko proliferasi nuklir di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pakar serta anggota Kongres dari Partai Republik maupun Demokrat mengkhawatirkan kerja sama tersebut dapat membuka peluang pengembangan kemampuan nuklir di masa depan, meski peluang untuk menggagalkan perjanjian dinilai kecil karena Partai Republik menguasai Kongres.
Departemen Energi AS menjelaskan bahwa kerja sama tersebut mencakup perjanjian kerja sama nuklir damai serta perjanjian pengamanan bilateral. Kedua dokumen itu disebut menjadi landasan hukum bagi kemitraan strategis bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade sekaligus mendukung agenda nonproliferasi nuklir. Kesepakatan tersebut selanjutnya akan diajukan kepada Kongres untuk proses peninjauan.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan telah mengetahui rencana kerja sama nuklir sipil bilateral antara Washington dan Riyadh. Lembaga tersebut menyatakan siap menjalankan mekanisme verifikasi apabila diminta kedua negara guna memastikan seluruh implementasi memenuhi standar pengawasan internasional.
Kesepakatan Abraham sendiri pertama kali melahirkan normalisasi hubungan antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain pada masa pemerintahan pertama Trump. Sudan, Maroko, dan Kazakhstan kemudian turut bergabung dalam kesepakatan tersebut.
Selama ini Arab Saudi menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel hanya dapat dilakukan apabila terbentuk negara Palestina. Namun, Gedung Putih kini menegaskan syarat tersebut menjadi faktor penentu keberlanjutan kerja sama nuklir dengan Amerika Serikat.
Pemerintah Israel menyambut positif pernyataan Trump. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut bergabungnya Arab Saudi dalam Kesepakatan Abraham akan menjadi lompatan bersejarah bagi perdamaian di Timur Tengah. Sementara itu, Menteri Ekonomi Israel Nir Barkat menyatakan negaranya dapat menerima kepemilikan teknologi nuklir Arab Saudi selama penggunaannya murni untuk kepentingan damai.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS)
Sebaliknya, mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman mengingatkan bahwa setiap program nuklir militer pada umumnya berawal dari pengembangan program nuklir sipil.
Isu kerja sama nuklir ini juga berkaitan erat dengan ketegangan berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait program nuklir Teheran. Iran terus membantah tuduhan Barat mengenai upaya pengembangan senjata nuklir.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebelumnya menyatakan negaranya tidak berniat memiliki senjata nuklir. Namun, ia menegaskan Riyadh akan segera mengikuti langkah tersebut apabila Iran berhasil mengembangkan bom nuklir.
Sebelumnya, sejumlah laporan media AS menyebut kesepakatan tersebut berpotensi membuka peluang bagi Arab Saudi untuk memperkaya uranium di masa depan. Namun, pernyataan terbaru Trump menegaskan kerja sama itu tidak akan mengizinkan pengayaan material nuklir.
Direktur Program Timur Tengah Defense Priorities, Rosemary Kelanic, menilai akan sangat mengejutkan apabila Amerika Serikat mengizinkan Arab Saudi membangun fasilitas pengayaan uranium. Menurutnya, Washington belum pernah memberikan dukungan semacam itu kepada negara lain karena kemampuan memproduksi bahan bakar nuklir sendiri dapat meningkatkan risiko pengembangan senjata nuklir. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar