PusakoNews.com, Kabupaten Padang Pariaman - Lonjakan harga tiket pesawat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung terhadap pergerakan penumpang di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatera Barat. Tingginya biaya perjalanan udara membuat jumlah pengguna jasa penerbangan mengalami penurunan sekitar 12 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Penurunan tersebut tercermin dari berkurangnya jumlah penumpang yang datang maupun berangkat melalui BIM. Selain faktor harga tiket yang semakin tinggi, berkurangnya frekuensi penerbangan akibat keterbatasan armada maskapai juga menjadi salah satu penyebab menurunnya mobilitas masyarakat melalui jalur udara.
Pihak pengelola bandara menjelaskan bahwa kondisi industri penerbangan saat ini masih menghadapi tantangan dalam penyediaan armada. Ketika jumlah pesawat yang beroperasi berkurang, kapasitas angkut otomatis ikut menurun sehingga memengaruhi jumlah penerbangan yang tersedia bagi masyarakat. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh maskapai, tetapi juga oleh calon penumpang yang harus menghadapi keterbatasan pilihan jadwal dan harga tiket yang lebih tinggi.
Data operasional menunjukkan bahwa jumlah penerbangan harian yang dilayani BIM mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Berkurangnya frekuensi penerbangan tersebut turut berkontribusi terhadap menyusutnya total pergerakan penumpang selama periode pengamatan.
Keluhan terkait mahalnya tiket pesawat menjadi isu yang paling banyak disampaikan masyarakat. Pada sejumlah rute, khususnya tujuan luar Pulau Sumatera, harga tiket sempat mencapai jutaan rupiah dan dinilai memberatkan calon penumpang. Kondisi ini mendorong sebagian masyarakat menunda perjalanan, memilih moda transportasi alternatif, atau mengurangi frekuensi bepergian menggunakan pesawat.
- Efek Tiket Mahal! Jumlah Penumpang di BIM Merosot 12 Persen
- Harga Tiket Tak Bersahabat, Ribuan Calon Penumpang Mulai Tinggalkan Pesawat
- Penumpang Bandara Minangkabau Menurun, Maskapai dan Tiket Mahal Jadi Sorotan









Komentar