"Trump Umumkan Pemimpin Tren de Aragua Tewas dalam Serangan Udara AS"
AS Klaim Habisi Bos Geng Paling Ditakuti Amerika Latin, Trump: Misi Berhasil
Pemimpin kelompok kriminal Venezuela Tren de Aragua, Héctor Rusthenford Guerrero Flores alias “Niño Guerrero”
Rangkuman Berita
Niño Guerrero Tewas! Trump Sebut Serangan Udara AS Hancurkan Pemimpin Tren de Aragua
Trump Perintahkan Serangan Mematikan, Pemimpin Tren de Aragua Diklaim Tewas
Operasi Rahasia AS di Venezuela Berhasil, Bos Tren de Aragua Dilaporkan Tewas
Sesuaikan Ukuran Baca
648
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah menewaskan Héctor Rusthenford Guerrero Flores alias “Niño Guerrero”, pemimpin kelompok kriminal Venezuela Tren de Aragua, dalam sebuah serangan udara yang diklaim berlangsung sukses melalui operasi gabungan dengan otoritas Venezuela.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial, Trump menyebut operasi tersebut dilaksanakan atas perintah langsung darinya dan dijalankan oleh Komando Selatan Amerika Serikat.
“Berdasarkan perintah saya, Komando Selatan Amerika Serikat melaksanakan serangan kinetik yang cepat dan mematikan yang berhasil mengeksekusi Niño Guerrero,” tulis Trump.
Presiden AS juga mengunggah rekaman yang diduga memperlihatkan momen serangan udara tersebut. Video itu menunjukkan sebuah bangunan berwarna hijau yang berada di dekat kompleks gudang dihantam ledakan besar hingga memunculkan kepulan puing ke udara.
Trump menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan melalui koordinasi erat dengan pemerintah Venezuela. Menurutnya, hubungan kerja sama antara kedua negara dalam operasi tersebut berjalan sangat baik.
Pemerintah Venezuela turut mengonfirmasi keterlibatan aparatnya dalam operasi yang mereka sebut sebagai “operasi gabungan”, meskipun belum mengungkap rincian lebih lanjut mengenai pelaksanaan maupun lokasi serangan.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Tokoh Sentral Tren de Aragua
Trump mengunggah rekaman yang tampaknya merupakan serangan udara, menunjukkan sebuah bangunan hijau dengan gudang di dekatnya yang diledakkan.
Niño Guerrero selama bertahun-tahun dikenal sebagai pemimpin utama Tren de Aragua, salah satu organisasi kriminal paling berpengaruh di Amerika Latin. Kelompok tersebut menjadi sasaran utama kebijakan keamanan pemerintahan Trump yang menuduh jaringan itu terlibat dalam berbagai aktivitas lintas negara, termasuk perdagangan manusia, penculikan, pembunuhan berencana, serta penyelundupan narkotika.
Pemerintahan AS bahkan telah menetapkan Tren de Aragua sebagai organisasi teroris asing dan menuduh kelompok tersebut menjalankan bentuk “perang tidak teratur” terhadap Amerika Serikat.
Departemen Luar Negeri AS sebelumnya menawarkan hadiah jutaan dolar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Guerrero.
Menurut otoritas AS, Guerrero berperan penting dalam mengubah Tren de Aragua dari sekadar geng penjara menjadi organisasi kriminal transnasional yang memiliki jaringan operasi di sejumlah negara Amerika Latin hingga Amerika Serikat.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Jejak Kriminal dan Pelarian dari Penjara
Saat menjalani hukuman penjara, Guerrero mengubah penjara Tocorón menjadi kompleks rekreasi.
Guerrero memiliki riwayat panjang dalam dunia kriminal Venezuela. Pada 2012, ia berhasil melarikan diri dari penjara setelah menyuap seorang petugas keamanan. Setahun kemudian ia ditangkap kembali dan kembali mendekam di penjara.
Namun selama berada di Penjara Tocorón di Negara Bagian Aragua, Venezuela utara, Guerrero justru memperkuat pengaruhnya. Penjara tersebut diubah menjadi kompleks yang dilengkapi berbagai fasilitas hiburan, mulai dari restoran, klub malam, area perjudian, kebun binatang hingga kolam renang.
Situasi itu berakhir pada September 2023 ketika pemerintah Venezuela di bawah kepemimpinan Nicolás Maduro mengerahkan sekitar 11.000 personel militer untuk merebut kembali kendali penjara tersebut. Meski demikian, Guerrero kembali berhasil melarikan diri sebelum operasi berlangsung.
Pihak AS menilai bahwa meskipun sering keluar masuk penjara, Guerrero tetap mampu memperluas kendali organisasinya atas berbagai jalur strategis, termasuk tambang emas di Negara Bagian Bolívar, rute perdagangan narkoba di kawasan pesisir Karibia, serta jalur perlintasan ilegal antara Venezuela dan Kolombia.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Ekspansi Jaringan ke Berbagai Negara
Kemunculan Tren de Aragua sebagai organisasi kriminal regional diyakini berkaitan dengan krisis ekonomi dan kemanusiaan yang melanda Venezuela sejak 2014. Menurunnya peluang keuntungan dari aktivitas kriminal domestik mendorong kelompok tersebut memperluas operasinya ke luar negeri.
Saat ini, jaringan Tren de Aragua diyakini telah memiliki cabang di sedikitnya delapan negara, termasuk Amerika Serikat. Dalam ekspansinya, kelompok itu kerap menjalin kemitraan dengan organisasi kriminal lokal.
Di Ekuador, misalnya, kelompok tersebut disebut bekerja sama dengan jaringan yang memiliki keterkaitan dengan Kartel Sinaloa dari Meksiko. Sementara di Kolombia, sejumlah laporan mengindikasikan adanya hubungan dengan unsur-unsur yang terkait kelompok gerilya sayap kiri Tentara Pembebasan Nasional (ELN).
Hubungan AS-Venezuela Pasca Penangkapan Maduro
Perkembangan terbaru ini terjadi setelah perubahan besar dalam hubungan Washington dan Caracas. Pada Januari lalu, pasukan Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, dalam operasi penggerebekan semalam di kediamannya untuk menghadapi dakwaan pidana di New York.
Pemerintah AS menuduh Maduro memiliki hubungan dan bekerja sama dengan jaringan Tren de Aragua. Dalam dokumen dakwaan tersebut, nama Guerrero juga disebut sebagai salah satu sekutu utama.
Sejak pergantian kepemimpinan di Venezuela, Washington berupaya memperkuat hubungan dengan pemerintahan baru yang dipimpin Delcy Rodríguez. Langkah tersebut diwujudkan melalui pencabutan sejumlah sanksi dan peningkatan kerja sama ekonomi, khususnya di sektor energi dan eksplorasi cadangan minyak Venezuela yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Kontroversi Operasi Militer AS
Di bawah pemerintahan Trump, militer AS telah melancarkan puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang dituduh menjadi bagian dari jaringan penyelundupan narkoba internasional, termasuk yang diduga terkait dengan Tren de Aragua.
Media-media Amerika melaporkan bahwa lebih dari 200 orang tewas dalam berbagai operasi udara sejak September tahun lalu.
Namun, operasi tersebut memicu kontroversi karena militer AS belum mempublikasikan bukti yang menunjukkan bahwa kapal-kapal yang menjadi sasaran benar-benar membawa narkotika atau terlibat dalam aktivitas penyelundupan.
Sejumlah pakar hukum internasional mempertanyakan legalitas serangan tersebut dan menilai tindakan itu berpotensi melanggar hukum internasional karena menargetkan warga sipil tanpa proses peradilan.
Pemerintahan Trump membantah tudingan tersebut. Dalam laporan resmi kepada Kongres tahun lalu, Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah menetapkan Amerika Serikat berada dalam konflik bersenjata formal dengan kartel narkoba, sehingga individu yang terlibat dalam operasi penyelundupan dianggap sebagai kombatan yang sah menjadi target operasi militer.
Kematian Niño Guerrero dipandang sebagai pukulan besar terhadap struktur kepemimpinan Tren de Aragua. Meski demikian, sejumlah pengamat keamanan memperingatkan bahwa jaringan kriminal tersebut kemungkinan masih memiliki kemampuan operasional yang luas melalui sel-sel yang tersebar di berbagai negara, sehingga ancaman lintas batas yang ditimbulkannya belum sepenuhnya berakhir. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar