Dalam protokol penyambutan, Presiden Rusia Vladimir Putin disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi di bandara Beijing. Wang Yi dikenal sebagai salah satu diplomat paling berpengaruh di Tiongkok karena selain menjabat Menteri Luar Negeri, ia juga memimpin kantor urusan luar negeri Partai Komunis Tiongkok.
Sementara itu, Donald Trump mendapat sambutan yang dinilai lebih tinggi secara simbolik karena diterima langsung oleh Wakil Presiden Han Zheng. Dalam struktur kenegaraan Tiongkok, posisi wakil presiden berada pada level yang lebih tinggi dibanding menteri luar negeri, meski Han Zheng bukan lagi anggota Komite Tetap Politbiro sejak 2022.
Momen penyambutan kedua pemimpin juga menjadi perhatian. Xi Jinping dan Vladimir Putin berjabat tangan selama sekitar delapan detik, sedangkan jabat tangan Xi dengan Trump berlangsung lebih lama dan tampak lebih hangat ketika Trump menepuk lengan Xi di depan kamera internasional.
Kedua tamu negara tetap menerima prosesi resmi yang sama di Balai Agung Rakyat Beijing, lengkap dengan pasukan kehormatan dan tembakan salvo sebagai simbol penghormatan kenegaraan tertinggi.
Perbedaan paling mencolok terlihat dari hasil pembicaraan bilateral. Kunjungan Donald Trump tidak menghasilkan terobosan besar, baik dalam isu perdagangan maupun dukungan konkret Tiongkok terkait konflik Iran. Meski kedua pihak sepakat melanjutkan kerja sama ekonomi tertentu seperti penjualan pesawat Boeing, pelonggaran pembatasan ekspor pertanian, dan pembahasan pengurangan tarif di masa depan, tidak ada pernyataan bersama resmi yang diterbitkan.
Sebaliknya, pertemuan Xi dan Putin menghasilkan dokumen bersama sangat panjang yang mencakup berbagai isu strategis global. Pernyataan bersama tersebut memuat pembahasan mengenai keamanan nuklir, Taiwan, kerja sama lingkungan, hingga konservasi satwa seperti panda raksasa dan harimau Amur. Selain itu, kedua negara juga menandatangani sekitar 20 dokumen kerja sama tambahan yang mencakup sektor energi nuklir, sanitasi, media negara, hingga perbankan dan energi.
Susunan delegasi yang dibawa masing-masing pemimpin juga memperlihatkan fokus kepentingan yang berbeda. Delegasi Amerika Serikat lebih didominasi tokoh bisnis dan industri besar dari sektor teknologi, keuangan, penerbangan, manufaktur, serta konsumen. Pejabat tinggi pemerintahan yang hadir hanya beberapa nama penting seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Sebaliknya, delegasi Rusia dipenuhi pejabat pemerintahan strategis. Lima wakil perdana menteri Rusia hadir bersama delapan menteri kabinet yang fokus pada sektor minyak, energi, perbankan, dan kerja sama industri strategis lainnya. Rusia juga menggelar dua format pembicaraan sekaligus, yakni pertemuan terbatas dan forum bilateral yang lebih luas.
Nuansa kedekatan personal Xi dan Putin semakin terlihat melalui agenda budaya yang disiapkan khusus selama kunjungan tersebut. Salah satu acara utama adalah kunjungan ke pameran foto bersama yang digelar kantor berita Rusia TASS dan kantor berita Tiongkok Xinhua. Pameran bertema “Persahabatan Tak Terputuskan Bangsa-Bangsa Besar, Kemitraan Strategis Kekuatan Besar” itu menampilkan dokumentasi perjalanan hubungan kedua pemimpin selama lebih dari satu dekade terakhir.
Dalam salah satu momen, Putin menyampaikan ungkapan puitis kepada Xi Jinping dengan mengatakan bahwa “berpisah satu hari terasa seperti tiga musim gugur”, sebuah metafora yang menggambarkan kedekatan hubungan pribadi keduanya.
Berbeda dengan Putin, Xi Jinping membawa Donald Trump mengunjungi Kuil Surga, salah satu ikon budaya dan sejarah paling penting di Beijing. Lokasi tersebut dahulu menjadi tempat para kaisar Tiongkok berdoa demi panen melimpah. Pengamat menilai kunjungan itu menjadi simbol bagaimana Tiongkok ingin menunjukkan kedalaman sejarah dan peradaban mereka kepada Amerika Serikat.
Jamuan makan kenegaraan bagi Putin dan Trump sama-sama menampilkan hidangan khas Beijing seperti bebek Peking. Namun terdapat perbedaan dalam penyajiannya. Jamuan untuk Trump disiarkan secara luas melalui televisi nasional Tiongkok, sementara jamuan untuk Putin berlangsung lebih tertutup.
Selama jamuan Putin, orkestra militer Tentara Pembebasan Rakyat memainkan berbagai lagu tradisional Rusia dan Tiongkok, termasuk karya klasik dari opera Peking serta komposisi terkenal “Danau Angsa” karya Pyotr Tchaikovsky.
Dalam agenda pribadi, Putin dijadwalkan mengikuti pertemuan larut malam sambil menikmati teh bersama Xi Jinping karena kunjungannya berlangsung singkat. Sementara Trump mendapat kesempatan langka memasuki kawasan Zhongnanhai, kompleks elite kepemimpinan Tiongkok yang sangat tertutup bagi tamu asing. Dalam kunjungan tersebut, Trump bahkan sempat mengomentari pepohonan kuno berusia lebih dari seribu tahun di area tersebut.
Prosesi pelepasan kedua pemimpin juga memperlihatkan perbedaan nuansa diplomatik. Putin diantar langsung ke bandara oleh Wakil Perdana Menteri Zhang Guoqing yang juga anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Sedangkan Donald Trump dilepas oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi bersama sejumlah diplomat senior Tiongkok lainnya.
Hubungan Xi Jinping dan Vladimir Putin memang telah terjalin sangat intens selama lebih dari satu dekade terakhir. Sejak Xi menjadi Presiden Tiongkok pada 2013, keduanya tercatat telah bertemu lebih dari 40 kali dalam berbagai forum bilateral maupun internasional. Xi sedikitnya telah 10 kali mengunjungi Rusia, sementara Putin tercatat 14 kali datang ke Tiongkok sejak 2014.
Di sisi lain, Donald Trump hanya dua kali melakukan kunjungan ke Tiongkok selama menjabat Presiden Amerika Serikat. Xi Jinping sendiri telah lima kali mengunjungi Amerika Serikat sepanjang masa kepemimpinannya.
Komentar