Pertemuan Trump-Xi di Beijing Jadi Penentu Arah Hubungan AS-Tiongkok dan Stabilitas Global

Xi Jinping Sambut Trump di Beijing, Ketegangan Global Bisa Berubah Total
Ini adalah kunjungan pertama presiden AS sejak kunjungan terakhir Trump pada tahun 2017.
Ini adalah kunjungan pertama presiden AS sejak kunjungan terakhir Trump pada tahun 2017.
Sesuaikan Ukuran Baca
675

PusakoNews.com, Jakarta - Beijing memperketat pengamanan di sekitar Lapangan Tiananmen menjelang kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok. Pengamanan ketat tersebut memicu spekulasi mengenai persiapan acara kenegaraan berskala besar yang disebut-sebut akan menjadi bagian dari penyambutan resmi Presiden Tiongkok Xi Jinping terhadap Trump.


Kunjungan Trump dijadwalkan diisi dengan pertemuan bilateral, jamuan kenegaraan, hingga agenda budaya di Kuil Surga, kompleks bersejarah tempat para kaisar Tiongkok dahulu memanjatkan doa untuk hasil panen yang melimpah. Pertemuan kedua pemimpin dinilai menjadi salah satu momentum geopolitik paling penting dalam beberapa tahun terakhir, mengingat hubungan AS-Tiongkok kini berada di titik krusial.


Dalam beberapa bulan terakhir, perhatian Trump lebih banyak tertuju pada konflik Iran, operasi militer di kawasan Belahan Barat, serta isu domestik Amerika Serikat. Namun, situasi berubah cepat seiring meningkatnya ketegangan perdagangan global, isu Taiwan, hingga persaingan teknologi strategis yang melibatkan Washington dan Beijing.


Bagi Tiongkok, perang dagang berkepanjangan dengan AS dan konflik Timur Tengah menjadi tantangan ekonomi tersendiri. Kenaikan harga minyak dunia telah mendorong biaya produksi industri berbasis petrokimia di Tiongkok, mulai dari tekstil hingga plastik. Sejumlah produsen bahkan disebut mengalami kenaikan biaya produksi hingga 20 persen.

Trump dan Xi memiliki banyak poin pembicaraan
Trump dan Xi memiliki banyak poin pembicaraan

Meski memiliki cadangan energi besar serta kekuatan di sektor kendaraan listrik dan energi terbarukan, Beijing tetap menghadapi tekanan ekonomi akibat perlambatan pertumbuhan dan tingginya ketergantungan pada ekspor. Karena itu, stabilitas global menjadi kepentingan utama Xi Jinping dalam pertemuan ini.


Di sisi lain, Tiongkok juga terus memainkan peran diplomatik dalam konflik Iran. Bersama Pakistan, Beijing aktif mendorong upaya mediasi dan gencatan senjata, termasuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Langkah tersebut memperlihatkan meningkatnya pengaruh Tiongkok di kawasan Timur Tengah.

Pertemuan Trump-Xi di Beijing Jadi Penentu Arah Hubungan AS-Tiongkok dan Stabilitas Global

Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Beijing pekan lalu semakin menegaskan posisi strategis Tiongkok dalam konflik tersebut. Amerika Serikat pun terus memantau langkah Beijing, termasuk terkait kemungkinan dukungan Tiongkok terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Selat Hormuz.


Selain isu Timur Tengah, Taiwan dipastikan menjadi agenda sensitif dalam pembicaraan Trump dan Xi. Pemerintahan Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan penjualan senjata bernilai miliaran dolar kepada Taiwan yang memicu kemarahan Beijing. Namun di sisi lain, Trump juga beberapa kali memberikan pernyataan ambigu terkait komitmen AS dalam membela Taiwan.


Washington menegaskan ingin memastikan Taiwan tidak menjadi sumber ketegangan baru di kawasan Indo-Pasifik. Sementara Beijing terus meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan melalui patroli udara dan laut hampir setiap hari.

Taiwan bergantung pada AS untuk dukungan militer.
Taiwan bergantung pada AS untuk dukungan militer.

Sejumlah analis menilai Tiongkok kemungkinan akan mendorong perubahan sikap resmi AS terkait status Taiwan agar lebih tegas menolak kemerdekaan pulau tersebut.


Selain politik dan keamanan, isu perdagangan akan menjadi fokus utama dalam pertemuan bilateral itu. Sepanjang 2025, hubungan dagang AS dan Tiongkok sempat memanas akibat kebijakan tarif tinggi yang saling diberlakukan kedua negara.


Tiongkok merespons tekanan tarif AS dengan membatasi ekspor mineral langka dan mengurangi pembelian produk pertanian Amerika. Kondisi tersebut berdampak langsung pada petani di sejumlah negara bagian pendukung Trump.


Meski tensi perdagangan mulai mereda sejak pertemuan keduanya di Korea Selatan tahun lalu, Washington dan Beijing masih memiliki banyak perbedaan mendasar. Trump diperkirakan akan meminta peningkatan impor produk pertanian AS oleh Tiongkok, sementara Beijing mendesak penghentian penyelidikan perdagangan terkait praktik bisnis Tiongkok yang dianggap tidak adil oleh Washington.


Pemerintahan Trump juga dilaporkan mengajak sejumlah pimpinan perusahaan besar Amerika seperti Nvidia, Apple, ExxonMobil, dan Boeing untuk ikut dalam kunjungan tersebut, menandakan pentingnya agenda ekonomi dalam lawatan ini.


Pengamat menilai keberhasilan pertemuan sangat bergantung pada dinamika personal antara Trump dan Xi Jinping. Jika kunjungan berlangsung positif dan Trump merasa dihormati, stabilitas hubungan bilateral diperkirakan dapat terjaga. Namun jika sebaliknya, ketegangan baru antara dua kekuatan terbesar dunia dikhawatirkan kembali meningkat dan berdampak luas pada ekonomi serta geopolitik global.

[PusakoNews.com/red]

Komentar

Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Belum ada komentar.

Berita Terkait