PusakoNews.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Istana Merdeka guna membahas perkembangan ekonomi nasional serta stabilitas sektor keuangan di tengah dinamika global.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah memberikan perhatian khusus pada kondisi pasar modal, terutama terkait arus modal keluar (outflow) yang terjadi belakangan. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa tekanan tersebut dipengaruhi faktor global, termasuk ketegangan geopolitik, kondisi geoekonomi, serta kebijakan suku bunga tinggi oleh bank sentral Amerika Serikat.
Meski demikian, OJK menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Dengan kondisi tersebut, arus modal yang keluar diharapkan bersifat sementara dan berpotensi berbalik seiring membaiknya sentimen global.
Untuk menjaga kepercayaan investor, OJK terus melakukan penguatan transparansi pasar. Sejumlah langkah yang telah ditempuh antara lain membuka data kepemilikan saham hingga tingkat 1 persen, meningkatkan granularitas data dari 9 menjadi 39 klasifikasi, serta mengungkap informasi terkait ultimate beneficial owner. Selain itu, pengaturan likuiditas saham melalui kebijakan free float juga diperkuat sebagai bagian dari pembenahan pasar.
Perbaikan tersebut mulai tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang dinilai semakin mencerminkan fundamental emiten. OJK juga mengantisipasi adanya penyesuaian pasar seiring agenda evaluasi dan rebalancing indeks oleh MSCI dalam waktu dekat, yang dipandang sebagai dampak sementara dari proses pembenahan.









Komentar