PusakoNews.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Badan Pengelola BUMN dan Danantara memperkuat langkah percepatan investasi sebagai strategi utama mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang saat ini dinilai masih tertahan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, dengan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi serta para kepala daerah se-Sumbar di Jakarta, Rabu (15/4).
Dalam forum itu ditegaskan, tanpa percepatan investasi yang konkret, pertumbuhan ekonomi Sumbar berisiko stagnan. Data menunjukkan, laju ekonomi daerah pada 2025 melambat di angka 3,4 persen, sementara arus investasi dinilai belum optimal menyasar sektor-sektor produktif.
Dony Oskaria menekankan pentingnya penguatan hilirisasi komoditas unggulan, peningkatan konektivitas infrastruktur, serta penciptaan ekosistem investasi yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan industri kelapa yang akan segera digarap. Skema awal dirancang menyerap pasokan dari masyarakat, sebelum dikembangkan ke pola korporasi dan plasma guna memperkuat skala usaha dan keberlanjutan bahan baku. Upaya ini juga akan diiringi peremajaan kebun kelapa serta peluang masuknya investasi perkebunan skala besar.
Selain itu, dibahas pula rencana akuisisi pabrik yang tengah pailit melalui lelang kurator, dengan potensi menggandeng mitra dari Tiongkok. Skema ini dipandang sebagai langkah cepat menghidupkan kembali aset industri sekaligus memperkuat basis hilirisasi di daerah.
Komoditas gambir turut menjadi prioritas, dengan rencana pengembangan industri di Limapuluh Kota, Pasaman, dan Pesisir Selatan melalui proyek percontohan. Nilai investasi awal diperkirakan mencapai Rp500 miliar, sebagai bagian dari strategi besar penguatan agro-processing.
Di sektor pariwisata, pemerintah daerah mendorong penataan kawasan kuliner malam tematik di wilayah 50 Kota, yang dirancang menjadi destinasi wisata baru dengan identitas kuat. Pengembangan ini terintegrasi dengan kawasan unggulan seperti Mentawai dan Mandeh dalam portofolio investasi daerah.
Sementara itu, proyek infrastruktur strategis seperti Tol Padang–Pekanbaru menjadi perhatian utama. Proyek ini dinilai krusial dalam menurunkan biaya logistik dan meningkatkan konektivitas Sumbar dengan wilayah Riau. Prioritas pengembangan diarahkan pada ruas Sicincin–Pangkalan, dengan opsi pembiayaan yang turut melibatkan Danantara.
Selain tol, pengembangan Pelabuhan Teluk Tapang juga dinilai strategis untuk mendukung distribusi komoditas, khususnya sawit dari Pasaman Barat. Pembahasan juga mencakup potensi investasi di sektor geothermal, hilirisasi sawit, industri jagung, serta reaktivasi kawasan wisata.








Komentar