PusakoNews.com, Jakarta - Sorotan global terhadap program nuklir Iran kembali memicu perdebatan mengenai standar ganda dalam kebijakan internasional, terutama jika dibandingkan dengan sikap dunia terhadap kemampuan nuklir Israel.
Selama lebih dari dua dekade, program nuklir Iran berada di bawah pengawasan ketat komunitas internasional, termasuk sanksi ekonomi dan berbagai upaya diplomasi. Iran kerap dituduh berupaya mengembangkan senjata nuklir, meski pemerintah Teheran menegaskan program tersebut ditujukan untuk kepentingan sipil.
Di sisi lain, Israel mempertahankan kebijakan ambiguitas terkait kemampuan nuklirnya dan tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun menyangkal kepemilikan senjata nuklir. Program tersebut diyakini telah dimulai sejak era Perdana Menteri David Ben-Gurion pada 1950-an dengan dukungan pihak asing.
Foto ini dan tiga foto lainnya dari lokasi pembangunan reaktor nuklir rahasia Israel di dekat Dinoma di gurun Negev diambil pada tahun 1960 [Sumber: Arsip Keamanan Nasional]
Fasilitas nuklir Dimona di Gurun Negev disebut-sebut sebagai pusat pengembangan plutonium untuk senjata nuklir. Sejumlah analis memperkirakan Israel memiliki antara 80 hingga 200 hulu ledak nuklir, meskipun angka pastinya tidak pernah dipublikasikan secara terbuka.
Perbedaan pendekatan internasional terhadap kedua negara ini dinilai mencerminkan ketimpangan dalam rezim nonproliferasi global. Iran merupakan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tunduk pada inspeksi internasional, sementara Israel bukan anggota perjanjian tersebut dan tidak berada dalam pengawasan yang sama.
Para pengamat menilai kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang konsistensi dan keadilan dalam upaya global mencegah penyebaran senjata nuklir, di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.
[PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar