PusakoNews.com, Moskow - Parade Hari Kemenangan Rusia yang digelar setiap 9 Mei di Lapangan Merah tahun ini berlangsung dengan skala lebih kecil dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, Rusia tidak menampilkan tank maupun persenjataan berat dalam parade yang menjadi simbol kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Di tengah dominasi simbol dan slogan “Pobeda” atau kemenangan di berbagai sudut Lapangan Merah, absennya alutsista berat memunculkan perhatian publik internasional. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan situasi perang Rusia di Ukraina yang hingga kini belum menunjukkan hasil sesuai harapan Kremlin setelah berlangsung lebih dari empat tahun.
Anggota parlemen Rusia, Yevgeny Popov, menyatakan bahwa tank dan perlengkapan militer saat ini lebih dibutuhkan di garis depan pertempuran dibanding dipamerkan dalam parade. Ia juga menegaskan bahwa ancaman keamanan, termasuk serangan drone Ukraina, menjadi alasan utama pengurangan skala acara tahun ini.
Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, tidak akan ada peralatan militer di parade Hari Kemenangan di Lapangan Merah.Ketegangan perang semakin terasa di wilayah Rusia. Dalam beberapa hari terakhir, serangan drone dan rudal jarak jauh Ukraina dilaporkan menghantam sejumlah wilayah, termasuk kota Cheboksary dan kawasan dekat Kremlin di Moskow. Pemerintah Rusia kemudian memperketat pengamanan menjelang parade serta memberlakukan pembatasan internet seluler dengan alasan keamanan nasional.
Sejumlah warga Rusia memberikan tanggapan beragam atas parade tanpa tank tersebut. Sebagian menilai keputusan itu realistis demi keamanan, sementara lainnya menganggap absennya kekuatan militer justru menunjukkan adanya tekanan dan kekhawatiran di tengah konflik yang berkepanjangan.
Perang Rusia-Ukraina kini telah berlangsung lebih lama dibanding keterlibatan Uni Soviet melawan Jerman Nazi dalam Perang Patriotik Raya 1941–1945. Situasi itu memunculkan kelelahan publik terhadap perang, meningkatnya tekanan ekonomi, serta ketidakpuasan terhadap pembatasan yang diterapkan pemerintah.
Di desa Rublyovo, dua tentara yang telah bertempur di Ukraina bergabung dalam upacara peringatan bagi warga desa yang gugur selama Perang Patriotik Besar.Meski demikian, pemerintah Rusia tetap mempertahankan narasi patriotisme dan kemenangan nasional. Di berbagai daerah, upacara penghormatan terhadap jutaan korban Perang Dunia II tetap digelar, sementara para veteran dan personel militer yang terlibat dalam operasi di Ukraina terus menegaskan keyakinan bahwa Rusia akan tetap menjadi “negara para pemenang”.
Namun hingga kini, kemenangan yang dijanjikan dalam perang Ukraina masih belum tercapai.
[PusakoNews.com/red]
Komentar