PusakoNews.com, Washington - Laporan terbaru yang diungkap The New York Times menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel sempat mempertimbangkan mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, sebagai figur transisi dalam skenario perubahan kekuasaan di Iran pasca eskalasi konflik militer pada awal 2026. Rencana tersebut disebut muncul setelah operasi gabungan yang menargetkan pusat kekuatan pemerintahan Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurut sejumlah sumber yang dikutip media internasional, skenario itu dikembangkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk melemahkan struktur pemerintahan Iran sekaligus menciptakan pemerintahan baru yang dianggap lebih mudah diajak bernegosiasi. Dalam prosesnya, nama Ahmadinejad dinilai muncul karena hubungannya yang memburuk dengan elite utama Iran dalam beberapa tahun terakhir, meskipun ia dikenal luas sebagai tokoh garis keras dengan rekam jejak retorika anti-Barat dan anti-Israel.
Namun, rencana tersebut dilaporkan gagal terealisasi setelah situasi keamanan di Iran berkembang di luar perkiraan awal. Sejumlah laporan menyebut Ahmadinejad turut terdampak dalam serangan udara pada fase awal konflik dan kemudian menarik diri dari skenario politik tersebut. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat, Israel, maupun pihak Ahmadinejad terkait detail rencana tersebut.
Laporan ini memunculkan sorotan internasional terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah, termasuk dugaan keterlibatan asing dalam upaya perubahan rezim di Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan negosiasi baru terkait keamanan regional.
[PusakoNews.com/red]








Komentar