PusakoNews.com, Lebanon - Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangan udara besar-besaran dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon, hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata sementara.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa telah dicapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan guna meredakan konflik di kawasan. Pernyataan tersebut sempat memunculkan harapan akan meredanya ketegangan.
Namun, kondisi tersebut berubah drastis ketika jet tempur Israel melancarkan serangan kilat selama sekitar 10 menit. Serangan udara intensif itu menewaskan sedikitnya 203 orang dan menyebabkan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon.
Gelombang kecaman segera datang dari berbagai pihak, baik dari dalam negeri Lebanon maupun komunitas internasional, termasuk negara-negara Barat. Meski demikian, tidak ada kritik terbuka yang disampaikan oleh Amerika Serikat terhadap Israel, yang merupakan sekutunya dalam konflik tersebut.
Pemerintah Iran mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata. Teheran juga mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan apa yang disebut sebagai agresi Israel.
Sejak eskalasi terbaru dimulai bulan lalu, otoritas Lebanon mencatat lebih dari 1.700 korban jiwa akibat operasi militer Israel. Di sisi lain, Israel menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan untuk melemahkan kelompok Hizbullah serta menuntaskan target militer yang masih tersisa.
Konflik ini berawal dari serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk. Selain itu, kelompok proksi Iran, termasuk Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman, turut melancarkan serangan terhadap Israel.
Sebagai respons lanjutan, Israel meningkatkan operasi militernya dengan menggempur posisi Hizbullah dan bahkan mengerahkan pasukan darat untuk menguasai sebagian wilayah Lebanon.
Situasi ini menandai meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di tengah upaya diplomatik yang belum menunjukkan hasil signifikan dalam menghentikan konflik
[PusakoNews.com/red]








Komentar