PusakoNews.com, Jakarta - Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat seiring berlanjutnya konfrontasi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Di tengah gempuran militer yang intens, Iran dinilai menerapkan strategi tak konvensional yang membuat lawan kesulitan mengantisipasi pergerakannya.
Sejumlah analis menilai, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga mengombinasikannya dengan taktik asimetris, seperti penggunaan drone, rudal jarak jauh, hingga operasi berbasis jaringan intelijen dan kelompok proksi. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mengganggu sistem pertahanan lawan yang lebih canggih.
Salah satu strategi utama yang digunakan adalah pola pertahanan terdesentralisasi atau dikenal sebagai mosaic defence. Dalam skema ini, komando militer dibagi ke berbagai unit kecil yang dapat bergerak mandiri, sehingga tidak mudah dilumpuhkan meski terjadi serangan terhadap pusat komando.
Taktik tersebut membuat operasi militer menjadi lebih fleksibel sekaligus sulit diprediksi. Serangan balasan dapat diluncurkan dari berbagai titik secara sporadis, sehingga memaksa Amerika Serikat dan Israel membagi fokus pertahanan mereka.
Selain itu, Iran juga disebut menerapkan strategi “menguras” kemampuan lawan, dengan melancarkan serangan bertahap untuk memaksa penggunaan sistem pertahanan canggih secara terus-menerus. Pendekatan ini berpotensi melemahkan efektivitas pertahanan dalam jangka panjang.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi hanya bergantung pada keunggulan teknologi, tetapi juga pada kemampuan strategi dan adaptasi di lapangan. Pendekatan Iran yang fleksibel dan berlapis dinilai menjadi faktor kunci yang membuat dinamika konflik semakin kompleks.
Hingga saat ini, eskalasi masih terus berlangsung dan berpotensi memicu dampak yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan serta keamanan global.
[PusakoNews.com/red]








Komentar