PusakoNews.com, Tehran - Militer Iran menyatakan kesiapan penuh dalam menghadapi kemungkinan invasi darat dari Amerika Serikat dan Israel. Sistem pertahanan yang disiapkan disebut terdiri dari delapan lapisan terkoordinasi, dengan fungsi dan peran berbeda di setiap tingkat.
Dalam wawancara dengan Fars News Agency pada Sabtu (28/3), seorang pejabat militer Iran menegaskan bahwa seluruh lapisan dirancang berbasis kendali intelijen terpadu guna memantau dan merespons pergerakan musuh secara efektif. Ia menyebut struktur tersebut sebagai sistem pertahanan aktif yang sulit ditembus.
Struktur Delapan Lapis Pertahanan
Lapisan pertama diisi pasukan khusus elit, termasuk unit lintas udara dan maritim, yang bertugas menghadapi gelombang awal serangan serta menetralisir kekuatan inti lawan.
Lapisan kedua terdiri dari brigade lintas udara dan unit infanteri khusus yang difokuskan pada operasi cepat dan manuver di berbagai wilayah strategis.
Lapisan ketiga merupakan gabungan infanteri mekanis dengan dukungan kendaraan lapis baja dan artileri berat untuk memperkuat daya tahan tempur di garis depan.
Lapisan keempat melibatkan unit kepolisian khusus dan pasukan operasi dalam negeri yang disiapkan untuk menghadapi ancaman di wilayah urban dan pinggiran kota.
Lapisan kelima dan keenam diisi batalyon tempur dengan spesialisasi dukungan tembakan dan operasi khusus dalam situasi kritis.
Lapisan ketujuh mencakup mobilisasi veteran militer, termasuk eks anggota Garda Revolusi dan Basij, yang memiliki pengalaman tempur dalam konflik asimetris.
Sementara lapisan kedelapan terdiri dari mobilisasi rakyat dalam jumlah besar, yang menurut klaim Iran dapat mencapai jutaan personel melalui sistem panggilan umum.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa kekuatan utama sistem ini tidak hanya terletak pada jumlah personel, tetapi pada koordinasi antar lapisan yang memungkinkan respons ofensif secara simultan.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan kawasan meningkat sejak serangan militer pada 28 Februari 2026 yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Laporan Axios pada 20 Maret menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi invasi darat, termasuk kemungkinan pengambilalihan Pulau Kharg sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Teheran terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sejumlah pejabat AS juga mengungkapkan bahwa ribuan personel marinir dan angkatan laut telah dikerahkan ke kawasan, dengan potensi penambahan kekuatan dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa seluruh elemen pertahanan saat ini berada dalam status siaga tinggi. Struktur berlapis tersebut diklaim tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga mampu menjalankan operasi ofensif guna menghadapi potensi agresi dari pihak luar.
[PusakoNews.com/red]