Iran Buka Akses Hormuz Hanya Untuk 7 Negara, Kapal RI Malah Tertahan!

Iran Beri Akses Khusus Lintasi Hormuz, Kenapa Kapal Indonesia Masih Tertahan?
Ilustrasi Selat Hormuz dan Menteri Luar Negeri Iran ©PusakoNews.com/red
Sesuaikan Ukuran Baca
62
735

PusakoNews.com, Jakarta - Pemerintah Iran memberlakukan kebijakan akses terbatas di Selat Hormuz dengan memberikan izin pelayaran hanya kepada sejumlah negara tertentu. Hingga saat ini, tujuh negara telah memperoleh persetujuan melintas secara aman, yakni China, Rusia, Pakistan, Irak, India, Bangladesh, dan Thailand.


Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya. Namun, pengamanan diperketat dan izin diberikan secara selektif kepada negara yang dinilai memiliki hubungan baik atau telah melakukan koordinasi diplomatik dengan Iran. Dalam beberapa kasus, angkatan bersenjata Iran juga memberikan pengawalan terhadap kapal yang melintas.


Di tengah kebijakan tersebut, dua kapal tanker Indonesia masih tertahan dan belum mendapatkan izin melintas hingga 26 Maret 2026. Kedua kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Berdasarkan data pelayaran, posisi Pertamina Pride berada di perairan utara Arab Saudi, sementara Gamsunoro berada di sekitar wilayah Kuwait dan Irak.


Pihak Pertamina International Shipping menyatakan bahwa keselamatan kru dan kargo menjadi prioritas utama. Meski demikian, kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan energi nasional. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI terus menjalin komunikasi dengan otoritas Iran guna mempercepat proses perizinan.


Pengetatan akses ini berdampak signifikan terhadap lalu lintas kapal global. Dalam satu bulan terakhir, jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun drastis menjadi sekitar 5–6 kapal per hari, jauh di bawah kondisi normal yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.


Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat ke-47, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Ia memberikan tenggat waktu 48 jam dan mengancam tindakan militer terhadap infrastruktur energi Iran apabila akses tidak segera dibuka.


Situasi di kawasan Timur Tengah saat ini masih dinamis, dengan peningkatan ketegangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas jalur distribusi energi global.

[PusakoNews.com/red]

Berita Terkait