PusakoNews.com, Jakarta - Rencana operasi militer Amerika Serikat untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, menuai sorotan tajam dari analis pertahanan internasional. Operasi amfibi tersebut dinilai berisiko tinggi dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi pasukan AS.
Mantan perwira militer Swedia, Mikael Valtersson, menilai rencana tersebut mencerminkan kelemahan dalam perencanaan dan intelijen.
Ia menyoroti kekuatan Iran yang telah mengembangkan sistem rudal anti-kapal jarak jauh, berkecepatan tinggi, serta pertahanan udara mobile yang sulit dideteksi.
Selain ancaman rudal, operasi ini juga menghadapi tantangan serius, termasuk pembersihan ranjau laut, keterbatasan sistem pertahanan seperti Patriot dan THAAD, serta potensi kekurangan pasukan dalam skenario pertempuran berkepanjangan.
Peringatan serupa disampaikan Joe Kent, yang menilai pengerahan pasukan ke Pulau Kharg berisiko menjebak militer AS dalam situasi rentan terhadap serangan drone dan rudal.
Di tengah meningkatnya ketegangan, upaya diplomasi terus dilakukan. Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdel-Aty dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menekankan pentingnya penyelesaian damai guna mencegah eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Secara keseluruhan, analisis menunjukkan bahwa operasi militer di Pulau Kharg berpotensi menjadi langkah berisiko tinggi dengan konsekuensi strategis besar, baik dari sisi militer maupun stabilitas regional.
[PusakoNews.com/red]