PusakoNews.com, Jakarta - Serangan rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran ke wilayah Israel dilaporkan semakin intens, dengan sebagian di antaranya membawa hulu ledak bom klaster (munisi tandan). Kondisi ini menambah kompleksitas bagi sistem pertahanan udara Israel dalam melakukan pencegatan.
Pakar pertahanan rudal Uzi Rubin menjelaskan bahwa bom klaster berisi puluhan sub-amunisi yang akan menyebar di udara saat mendekati target, sehingga memperluas area dampak. Setelah hulu ledak terbuka, pencegatan menjadi lebih sulit karena muatan telah terpisah menjadi banyak bagian kecil.
Militer Israel menyebutkan bahwa dalam beberapa kondisi, tidak semua sub-amunisi dicegat untuk menghemat stok rudal pencegat, terutama jika ancaman dinilai dapat diminimalkan dengan perlindungan warga di bunker.
Sejak konflik memanas pada akhir Februari, lebih dari 350 rudal balistik telah ditembakkan, dengan sekitar separuhnya pada fase awal membawa muatan klaster. Setiap rudal dapat menyebarkan puluhan bom kecil dengan radius dampak luas, meski daya hancurnya terbatas terhadap struktur perlindungan.
Sistem pertahanan udara jarak jauh seperti Arrow mampu mencegat rudal sebelum hulu ledak terbuka. Namun, setelah penyebaran terjadi, sistem jarak pendek seperti Iron Dome menghadapi tantangan besar karena harus menangani banyak target sekaligus.
Data sementara mencatat sejumlah korban jiwa dan puluhan titik dampak di wilayah permukiman. Selain risiko ledakan langsung, sub-amunisi yang tidak meledak juga menjadi ancaman jangka panjang bagi warga.
Situasi ini menandai eskalasi taktik serangan yang meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan serta risiko bagi masyarakat sipil di wilayah terdampak.
[PusakoNews.com/red]