PusakoNews.com, Jakarta - Sekitar 200 tentara Amerika Serikat dilaporkan mengalami luka-luka dalam konflik dengan Iran, termasuk 10 personel yang mengalami cedera serius. Informasi ini disampaikan juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins. Dari jumlah tersebut, sebanyak 180 personel telah kembali bertugas.
Mengutip laporan Al Jazeera, jenis cedera yang dialami meliputi luka bakar, cedera otak traumatis, hingga luka akibat serpihan.
Sejumlah pejabat militer menyebutkan bahwa sebagian besar serangan dilakukan menggunakan drone “satu arah” milik Iran.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, menyatakan bahwa penggunaan drone tersebut menjadi faktor utama tingginya jumlah korban. Sejak konflik yang dimulai pada 28 Februari, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas.
Drone jenis Shahed milik Iran, yang diperkirakan bernilai antara USD 20.000 hingga USD 50.000, dinilai menjadi alat strategis yang efektif. Biaya operasional yang relatif rendah membuatnya mampu menekan sistem pertahanan lawan, yang harus merespons dengan rudal pencegat bernilai jutaan dolar.
Pada pekan pertama konflik, Iran dilaporkan meluncurkan hampir 2.000 drone yang menargetkan pangkalan militer AS dan sekutunya di berbagai negara. Serangan tersebut berdampak pada fasilitas strategis, termasuk bandara, hotel, dan infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Seorang sumber militer bahkan mengakui keterbatasan dalam menghadapi serangan tersebut, dengan menyebut kemampuan pertahanan terhadap drone masih belum optimal.
Perkembangan ini menegaskan meningkatnya peran drone dalam peperangan modern, sekaligus menjadi tantangan baru bagi sistem pertahanan konvensional.
[PusakoNews.com/red]