PusakoNews.com, Tehran - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan ancaman keras terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi dan pelabuhannya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Markas Pusat Khatam al-Anbiya, komando pertahanan udara Iran, sebagai respons atas serangan Israel yang dilaporkan menghantam puluhan depot bahan bakar di wilayah Iran pada akhir pekan lalu.
Militer Iran menegaskan akan memberikan balasan tegas apabila infrastruktur energi mereka kembali menjadi target serangan. Dalam pernyataan resminya, Iran bahkan mengancam akan menyerang fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah jika konflik terus berlanjut.
Situasi ini memicu kekhawatiran di tingkat internasional, termasuk dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dilaporkan meminta agar serangan terhadap fasilitas energi Iran dihentikan. Langkah tersebut didorong oleh kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia dan mengguncang stabilitas ekonomi global.
Ketegangan juga merembet ke jalur strategis energi dunia di Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan tidak akan mengizinkan kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya melintasi jalur tersebut. Kondisi ini dilaporkan menyebabkan ratusan kapal tanker dan kapal kontainer tertahan di sekitar perairan selat karena meningkatnya risiko keamanan.
Menanggapi potensi krisis energi global, International Energy Agency (IEA) bersama 32 negara anggotanya sepakat untuk melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna menstabilkan pasar. Namun, Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menegaskan langkah tersebut hanya bersifat sementara dan stabilitas pasokan energi dunia sangat bergantung pada meredanya ketegangan di Timur Tengah serta normalisasi pelayaran di Selat Hormuz.
Situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional karena berpotensi memicu gangguan serius terhadap pasokan energi dan perekonomian global.
[PusakoNews.com/red]