PusakoNews.com, Tehran - Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan setelah jam kerja, Senin (9/3), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan mengambil alih kendali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat vital bagi distribusi minyak global.
Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun sekitar 6,19 persen menjadi US$85,27 per barel pada pukul 15.37 waktu New York. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global melemah 4,6 persen ke level US$88,43 per barel.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump menyebut kapal-kapal masih melintasi Selat Hormuz dan pemerintahannya sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengamankan jalur strategis tersebut. Ia juga mengisyaratkan bahwa konflik yang memicu ketegangan di kawasan berpotensi segera berakhir.
Sementara itu, sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut Washington juga mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Rusia guna membantu menstabilkan harga energi global.
Di sisi lain, penutupan atau gangguan di Selat Hormuz telah menimbulkan tekanan besar pada pasokan energi dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati jalur tersebut, sehingga setiap gangguan dapat memicu lonjakan harga.
Negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk juga mulai mengambil langkah antisipatif. Kuwait dilaporkan memangkas produksi minyak secara preventif, sementara beberapa produsen lain mengelola output mereka dengan hati-hati karena keterbatasan penyimpanan dan risiko keamanan pelayaran.
Kelompok negara industri maju G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis secara bersama guna menstabilkan pasar energi global.
Para analis memperingatkan bahwa jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut dalam beberapa bulan ke depan, harga minyak berpotensi melonjak tajam dan kembali menembus level di atas US$100 per barel.
[PusakoNews.com/red]