PusakoNews.com, Washington -
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kontroversi setelah seorang senator senior Partai Republik, Lindsey Graham, menyatakan bahwa jatuhnya pemerintahan Iran berpotensi memberikan keuntungan besar bagi Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan media AS pada 8 Maret 2026, Graham menyebut bahwa perubahan rezim di Teheran dapat membuka peluang bagi Washington untuk menjalin kemitraan energi baru yang menguasai porsi signifikan cadangan minyak dunia. Ia bahkan menilai konflik yang sedang berlangsung sebagai “investasi yang baik” bagi kepentingan strategis dan ekonomi Amerika.
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dimulai sejak akhir Februari 2026. Ketegangan ini turut mengguncang pasar energi global, dengan harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel.
Di sisi lain, Iran merespons serangan tersebut dengan menutup jalur strategis Selat Hormuz dan meningkatkan serangan terhadap target yang dianggap berkaitan dengan kepentingan militer Amerika di kawasan Teluk. Langkah ini memicu gangguan serius terhadap distribusi energi global.
Pemerintah Iran mengecam serangan tersebut sebagai agresi tanpa provokasi dan menegaskan tidak akan menyerah terhadap tekanan politik maupun militer dari Washington.
Situasi di Timur Tengah hingga kini masih sangat dinamis. Para analis memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan tidak hanya berpotensi memperluas ketegangan geopolitik, tetapi juga memperdalam krisis energi global.
[PusakoNews.com/red]