Hassan Rouhani Kembali Jadi Sorotan di Tengah Spekulasi Suksesi Kepemimpinan Iran

Dari Negosiator Nuklir ke Kandidat Pemimpin? Jalan Panjang Hassan Rouhani
Mantan Presiden Republik Islam Iran Hassan Rouhani ©PusakoNews.com/red
Sesuaikan Ukuran Baca
34
571
PusakoNews.com, Tehran - Nama Hassan Rouhani kembali mencuat dalam dinamika politik Iran setelah wafatnya Ali Khamenei memunculkan spekulasi mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya.

Rouhani, mantan Presiden Iran periode 2013–2021, dikenal sebagai ulama sekaligus teknokrat yang memiliki pengalaman panjang di lingkaran kekuasaan Republik Islam. Ia lahir pada 12 November 1948 di Sorkheh, Provinsi Semnan, Iran, dan menempuh pendidikan hukum di University of Tehran sebelum meraih gelar doktor bidang Hukum Konstitusi dari Glasgow Caledonian University di Skotlandia.

Sepanjang kariernya, Rouhani memegang sejumlah posisi strategis, termasuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada 1989–2005 dan negosiator utama program nuklir Iran pada awal 2000-an. Reputasinya sebagai diplomat menguat saat ia memimpin proses perundingan yang menghasilkan kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action antara Iran dan negara-negara Barat.

Namun setelah masa jabatannya berakhir pada 2021, pengaruh politik Rouhani sempat meredup. Ia bahkan didiskualifikasi dari pencalonan anggota Assembly of Experts pada 2024.

Kini, di tengah ketidakpastian arah kepemimpinan Iran pascakematian Khamenei, Rouhani kembali dipandang sebagai salah satu figur yang berpotensi memainkan peran penting dalam konfigurasi politik negara tersebut, terutama karena rekam jejak diplomasi dan citranya sebagai tokoh moderat di dalam sistem Republik Islam.
[PusakoNews.com/red]

Berita Terkait