"Desain Tato AI Makin Marak, Seniman Ungkap Kesalahan yang Sering Tak Disadari Pelanggan"
Tato Buatan AI Jadi Tren, Seniman Ungkap Bahaya Kesalahan Detail hingga Ejaan
Stu Pagdin mengatakan beberapa desain tato AI tersebut mengandung kesalahan ejaan
Sesuaikan Ukuran Baca
607
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
PusakoNews.com, Jakarta - Penggunaan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) dalam permintaan desain tato dilaporkan semakin marak. Sejumlah seniman tato menilai tren tersebut mulai menimbulkan persoalan karena gambar yang dihasilkan AI kerap memiliki kesalahan teknis dan tidak selalu dapat diterapkan secara realistis pada kulit manusia.
Seniman tato asal Adelaide, Courtnii Shore, mengatakan sekitar satu dari empat pertanyaan yang diterima studionya kini menyertakan gambar hasil AI. Bahkan, menurutnya, sebagian permintaan pelanggan tampak sepenuhnya dibuat menggunakan AI, termasuk melalui ChatGPT.
Pelanggan disebut memberikan instruksi kepada AI mengenai desain tato yang diinginkan, kemudian mengirimkan hasil instruksi tersebut kepada studio. Shore menilai meningkatnya kepercayaan pelanggan terhadap hasil AI berpotensi menciptakan ekspektasi yang sulit diwujudkan oleh seniman tato.
Kondisi serupa juga terjadi di studio milik Stu Pagdin. Ia menyebut hampir tiga dari empat permintaan yang diterima studionya kini menyertakan desain tato yang dibuat menggunakan AI.
Menurut Pagdin, sejumlah desain tersebut memiliki karakteristik yang berulang, detail yang terlalu rumit, hingga kesalahan mendasar yang terkadang tidak disadari pelanggan. Kesalahan ejaan menjadi salah satu persoalan yang kerap ditemukan ketika desain tersebut diperiksa lebih lanjut.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
AI Dinilai Belum Memahami Karakteristik Tato pada Kulit
Desain tato yang dihasilkan AI terkadang terlalu detail atau mengandung kesalahan, seperti menambahkan jari tambahan.
Wakil Presiden Asosiasi Tato Profesional Australia, Brenton Eldridge, mengatakan penggunaan gambar AI turut memberikan tekanan, terutama kepada seniman tato muda.
Menurutnya, pelanggan terkadang datang dengan desain hasil AI dan meminta perkiraan harga tanpa memahami tingkat kesulitan maupun waktu pengerjaan yang sebenarnya diperlukan. Sebuah desain yang dapat dibuat AI dalam hitungan menit bisa saja membutuhkan waktu pengerjaan hingga puluhan bahkan ratusan jam jika direalisasikan sebagai tato.
Meski demikian, Eldridge tidak menilai AI sepenuhnya negatif. Ia menganggap teknologi tersebut dapat menjadi alat yang bermanfaat bagi seniman dalam tahap awal pengembangan desain, seperti membuat prototipe, mengeksplorasi efek visual, dan mencoba berbagai konsep dengan cepat.
Persoalannya muncul ketika hasil AI dianggap sebagai rancangan akhir yang siap diterapkan pada tubuh. Menurut Eldridge, AI belum mampu memperhitungkan bagaimana sebuah tato akan terlihat setelah diterapkan pada kulit, termasuk perubahan bentuk, proses penyembuhan, pertumbuhan kulit, serta perubahan warna dalam jangka panjang.
Seniman tato sekaligus pemilik studio, Paul Briske, menambahkan bahwa pemilihan lokasi tato pada tubuh juga membutuhkan pertimbangan khusus. Ukuran dan tingkat detail harus disesuaikan agar gambar tetap terbaca dan terlihat baik dalam jangka waktu lama.
Desain dengan detail sangat kecil dan rumit, terutama untuk bagian tubuh seperti tangan dan kaki, tidak selalu dapat diwujudkan secara fisik sebagaimana tampilannya dalam gambar AI.
Briske pun mendorong masyarakat untuk tetap mengembangkan kreativitas pribadi dan tidak menyerahkan seluruh proses penciptaan karya kepada teknologi.
Ia menilai perkembangan komputer semestinya dapat mengurangi pekerjaan teknis yang melelahkan sehingga manusia memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati seni dan mengekspresikan kreativitas. Namun, dalam praktiknya, teknologi AI justru berpotensi mengambil alih proses penciptaan karya itu sendiri.
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Seniman Minta Pelanggan Menghargai Proses Kreatif
Para seniman tato telah mengamati peningkatan gambar tato yang dihasilkan AI dalam permintaan pelanggan.
Para seniman tato tersebut mengimbau calon pelanggan agar tidak hanya berpegang pada gambar hasil AI ketika merancang tato. Mereka mendorong adanya proses konsultasi dan kolaborasi langsung dengan seniman untuk menyesuaikan desain dengan kondisi tubuh serta mempertimbangkan aspek teknis dan estetika.
Shore memahami bahwa kemampuan memvisualisasikan ide tato secara instan melalui AI merupakan sesuatu yang menarik bagi pelanggan. Namun, menurutnya, proses mengembangkan dan menyempurnakan desain bersama seniman merupakan bagian penting dari seni tato.
Bagi para seniman, teknologi AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengeksplorasi gagasan, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pengalaman, kreativitas, serta pemahaman manusia mengenai karakteristik kulit dan teknik pembuatan tato. [PusakoNews.com/red]
Iklan ini ditayangkan oleh PusakoNews
Komentar
Bantu dukungan dengan kontribusi pemikiran melalui kolom komentar.
Komentar